Najwa Shihab, Saya Itu Aslinya Seperti Ini

, 24 Juni 2016 Admin
Najwa

TOP CAREER - Miris akan kompetensi sumber daya manusia di Indonesia secara umum hingga perjuangannya mengangkat harkat peradilan anak menjadi potongan-potongan pengakuan yang diutarakan Najwa Shihab.

Lekat, tajam, dan dalam, itu kesan yang saya tanggap ketika menyaksikan anchor Najwa Shihab dalam talkshow Mata Najwa. Tatapan mata itu malah terkadang seolah begitu menggoda tak percaya terhadap jawaban yang disampaikan si narasumbernya.

(Baca juga : Langkah Manajemen Organic Record dalam memasarkan artisnya, bisa ditiru nih)

Dan kini giliran saya yang menatap langsung mata itu. Coba sedikit mengorek mengenai pribadi dan pemikiran Najwa akan beberapa hal. Akankah mata itu bicara banyak.

Ditemui di kantor MetroTV,  Najwa menyambut kami dengan hangat. Tanpa basa-basi yang bertele-tele kami langsung melemparkan sejumlah pertanyaan ke si pemilik mata yang indah tersebut. Obrolan pun dimulai, perempuan kelahiran 16 September 1977 menceritakan tentang ketidaksengajaannya tercemplung dalam dunia jurnalistik.

Pengalaman itu dimulai ketika dirinya tengah menjalani semester akhir kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Indonesia, ia menjajal magang menjadi reporter di RCTI. Tak disangka tantangan menjadi reporter malah membuat Najwa ketagihan hingga jatuh cinta pada profesi ini.

(Baca juga : Citilink kelola pekerja dan bisnis pakai cara keren kaya gini…)

“Tadinya saya kuliah ambil Program Kekhususan Tiga Litigasi. Biasanya litigasi nantinya jadi pengacara, jadi hakim, jadi jaksa. Jadi mikirnya saya kuliah dan lulus kuliah ya bekerjanya dibidang itu,” kenangnya kepada TopCareer.id.

Entah kebetulan atau memang sudah digariskan, selama tiga bulan magang di RCTI, Najwa berkenalan dengan Andy F. Noya, yang saat itu sedang dimagangkan oleh Surya Paloh untuk menjadi Pemimpin Redaksi di MetroTV. Ajakan dari Andy untuk Najwa pun bergulir hingga akhirnya Najwa yang saat itu belum lulus kuliah diterima menjadi reporter pertama disana pada 1 Agustus 2000.

(Baca juga : Mice Cartoon cerita soal dunia komikus di Indonesia, kok begini ya…)

Start perjalanan karier profesional Najwa dimulai. Baginya menjadi jurnalis punya  kenikmatan tersendiri, unpredictable katanya. Terus belajar akan banyak hal serta kebaruan itu yang menjadikan ia kepincut pada profesi ini.

“Saya selalu risih ketika seorang wartawan disamakan dengan selebriti itu sudah hilang nilai wartawannya. Begitu ia merasa selebriti, itu ia menjadi bagian dari berita bukan orang yang menyampaikan berita dan itu berbahaya sekali ketika kemudian dia merasa dirinya lebih penting daripada berita yang disampaikan. Bahwa kemudian orang mengenali itu secara manusiawi senanglah. Tapi saya selalu merasa sangat risih jika disamakan dengan selebriti.”

Kecintaannya pada dunia jurnalistik tak melulu menjauhkannya akan kebimbangan pada profesi yang dijalani. Najwa mengaku beberapa kali sempat terpikir berhenti dari profesi yang sudah membesarkan namanya. Penyebabnya lantaran ia kadang merasa terlalu sibuk dengan rutinitasnya sebagai reporter yang mengharuskannya tak bisa sepenuhnya bersama keluarga dan si buah hati.

(Baca juga : MatahariMall malas berikan bonus ke karyawannya, kenapa?)

“Memutuskan untuk sekolah lagi, cuti satu tahun dari MetroTV itu salah satu keputusan terbaik yang saya rasa saya pernah ambil. Karena saya berangkat tahun 2008, hectic sekali dan saya merasa juga terlalu banyak tercurah pada profesi ini. Dan saya harus memilih dan menimang, oke deh sekolah lagi. Saya dan suami kebetulan dapat beasiswa, saya ajak anak saya setahun diluar negeri itu betul-betul refreshing buat saya karena harus jadi ibu rumah tangga dan sekolah. Ada poin-poin manusia untuk berhenti sejenak dijalan untuk melihat perspektif yang lebih luas.”

Menyoal personal, Najwa mengungkapkan kalau dirinya tak seperti imej ceplas-ceplos yang orang kebanyakan nilai. Ia buka-bukaan semasa kecil dirinya merupakan pribadi pemalu yang cenderung tertutup.

“Dan sampai sekarang saya merasa masih pemalu. Pada dasarnya saya introvert, saya tertutup, kalau tidak dengan orang yang betul-betul kenal saya baru akan terbuka.”

Saking pemalunya, sang Ibu ketika Najwa kecil sering mendorongnya untuk ikut serta dalam berbagai kompetisi perlombaan guna membangun kepercayaan dirinya. Adapun momen yang dianggap Najwa benar-benar membentuk kepribadiannya terjadi pada umur 16 tahun tatkala dirinya ikut serta dalam program Exchange Student Scholarship, AFS (American Field Service) yang membuat dirinya harus belajar di Amerika Serikat selama setahun seorang diri.

Kehidupan SMA disana sangat kompetitif jadi harus benar-benar menunjukan siapa diri kita. Selama disana saya berusaha keras cari teman itu semua klub yang ada dari panjat tebing, catur, buku, drama, nyanyi, saya melakukan apapun untuk diterima. Itu yang kemudian mengubah membuat saya jauh lebih PeDe. Belajar public speaking disana. Ada banyak pengalaman saya dipaksa untuk menyesuaikan diri pada situasi, saya dipaksa belajar, saya merasa banyak kepribadian saya dibentuk disitu,” kenangnya bangga.   

Ketika ditanya mengenai pandangannya terhadap kompetensi SDM di Tanah Air secara umum, Najwa tersenyum miris. Penyuka traveling ini beranggapan masih ada banyak hal yang perlu dibenahi dalam sistem pendidikan di Indonesia. Ia mencontohkan dimana pendidikan di Tanah Air kebanyakan masih menekankan pada sistem pengajaran dikelas, bukannya pada pengembangan diri termasuk urusan kemampuan berbicara di depan publik.

“Saya senang dengan kata-kata Anies Baswedan, bahwa ‘IPK yang bagus akan membuat Anda dipanggil job interview, tapi pengalaman dikampus yang akan membuat Anda mendapatkan pekerjaan itu.’ Tapi bukan berarti saya menomorduakan pendidikan,” ujar Nana.

Lebih detail, Nana berpendapat satu hal yang ia rasa berbeda antara pendidikan diluar dengan didalam negeri adalah dalam urusan kemampuan beradu argumentasi dan berbicara di depan publik. Beruntung ia merasa banyaknya kegiatan serta pengalaman diluar kelas membuatnya gampang beradaptasi di dunia kerja. Apalagi kedepan, persaingan dunia kerja kian sengit seiring dengan makin terbuka lebarnya sekat antarnegara. Nana pun menekankan agar individu-individu Indonesia menjadi individu yang unik.

”Kunci sekarang bagaimana membuat diri kita tidak bisa tergantikan. Dan itu yang akan membuat kamu dikejar dan  dicari kemanapun apa kemudian lewat ide-ide orisinal, apa kemudian lewat kemampuan yang tidak dimiliki orang lain. Karena kalau kamu bisa menjadi unik atau kamu bisa menjadi tak tergantikan perusahaan akan berusaha merebut atau mencari. Bikin kita jadi unik. Kita kerjakan bukan hanya untuk diri kita tapi untuk negara kita.” (YP)