Citilink Kelola Bisnis dan Pekerja Seperti Ini

, 26 Februari 2015 Admin
Citilink

TOP CAREER - Di tengah sengitnya pertarungan industri penerbangan biaya murah alias Low Cost Carrier (LCC), Citilink seolah tak pernah kehabisan napas. Alih-alih melemah, Citilink malah membuktikan kedigdayaannya dan makin menjadi.

Di temui TopCareer.id, secara eksklusif di kantor Citilink, President & CEO PT Citilink Indonesia M. Arif Wibowo berbagi rahasia mengenai dapur Citilink. Dengan semangat ia menuturkan ragam target besar yang siap digapai Citilink. Serta bagaimana senjata yang digunakan untuk itu. 

(Baca juga : MatahariMall tidak berikan bonus ke karyawannya, kenapa?)

Perjalanan Citilink sebagai maskapai Indonesia yang independen di mulai pada 5 Juli 2012, tepatnya saat anak usaha Garuda Indonesia ini resmi mendapat sertifikat Air Operation Certificate (AOC) dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Sertifikat ini menandai era baru perubahan dalam manajemen Citilink yang sebelumnya berada di bawah manajemen PT Garuda Indonesia Tbk. untuk menjadi manajemen yang dinamis dan mandiri.

Arif Wibowo menuturkan pada sejarah awal Citilink hanya diperkuat oleh 9 pesawat. Namun seiring dengan kerja keras serta kian tingginya target yang ingin digapai, tahun ini airlines yang mem-branding identitasnya dengan warna hijau ini sudah memiliki sekitar 30 pesawat.

“Citilink by design harus tumbuh dengan cepat tapi tetap dalam kondisi yang stabil. Dalam dua tahun punya 30 pesawat dari 9 pesawat sehingga kami butuh cara kerja atau bisnis proses yang cepat dan benar-benar pekerjaan bisa dikerjakan multitasking oleh setiap orang yang ada di Citilink, sekaligus tidak ada birokrasi yang berbelit-belit,” ujar Arif pada November 2014.

Lebih lanjut, Arif mengatakan bahwa ada tiga hal paling penting yang Citilink bangun.  Adapun values tersebut antara lain simple, on time, dan convenient.

Value simple pengertiannya adalah bahwa semua pekerja Citilink harus bekerja dengan proses yang sesederhana mungkin meminimalisasi birokrasi. “Tidak berbelit-belit semua orang itu hands on. Mau dirty hand, maksudnya mau turun ke bawah. Mau top level ataupun front staf itu sama saja. Kami semua kerja,” ujarnya. 

Untuk on time, Arif menjelaskan bahwa value itu tertuang dalam perilaku. Adapun semua faktor yang controlable harus on time. Output kerja yang on time menjadi harga yang tak bisa ditawar di Citilink. 

Sedangkan yang dimaksudkan dengan value convenient adalah menciptakan suasana yang fun diantara kolega sehingga nantinya akan bisa terefleksikan keluar dan bisa dirasakan para penumpangnya.

Sejak kelahirannya, Citilink memang telah menerapkan target-target yang disebutnya sebagai program Mega Leap. Arif mengungkapkan pihaknya memang sengaja menerapkan target yang di set begitu tinggi.

“Tahun 2012, penumpang yang kami angkut cuma 2,8 juta penumpang. Tahun 2013, 5,4 juta penumpang, dan tahun ini akan menjadi 8 juta. Jadi naik selalu 2 kali. Tahun depan menjadi 11 juta, tahun depannya lagi 16 juta, dan tahun berikutnya 20 juta penumpang.  Untuk mencapai itu kami perlu orang-orang yang tangguh dan sistem kepemimpinan atau leadership yang kami terapkan adalah partisipatif,” tutur Arif. 

Lebih lanjut, Arif mengungkapkan bahwa di dalam Citilink semua elemen harus ikut terlibat dari aspek strategis dan teknis. “Kami buka organisasi tidak ada partisi antara CEO, CFO, VP, manager, dan semua staf kami kerja bareng. Tidak ada yang membatasi kami. Kemudian proses komunikasi sangat cepat. Yang penting kerja dan eksekusi. Jadi kerja di Citilink kami harus kuat di analisis, eksekusi, kalaupun ada kesalahan kita koreksi. Supaya cepat kerjanya.”

“Contoh kalau kami bilang butuh slot penerbangan, yang kerja ya dari CEO sampai ke level staf. Supaya kami bisa bersama-sama keluar untuk mendapatkan sasaran yang kami tuju. Kemudian yang kedua, semua harus berbasis IT. Jadi supaya pekerjaan kami simple, supaya birokrasi tidak ada, semua harus bisa dilihat dengan IT base makanya dari 3 values yang kami punya sebenarnya ada delapan pilar yang kami bangun.”

Adapun pilar tersebut, kata Arif, antara lain, Pertama, people with passion. Kedua, the lowest cost mindset bahwa setiap orang Citilink harus punya mindset berbiaya murah dan efisien. Apa refleksinya, setiap orang Citilink harus punya kemampuan menawar harus concern terhadap cost.

Pilar Ketiga, extensive network. Pengertian di pilar ini adalah jaringan penerbangan Citilink harus benar-benar luas, volume yang mereka bangun harus cukup untuk memenangkan gaining market share yang cukup di pasar ini.

“Karena pemain-pemain yang sudah ada atau pemain lama, market share mereka sudah besar-besar dan tentu ini menjadi sasaran yang jelas buat kami ingin menempatkan diri market share akan meningkat terus. Dari yang hanya 3,4 % naik menjadi 9,8%, tahun ini mudah-mudah sekitar 15,6% dan tahun depan mudah-mudahan bisa tembus di atas 20% untuk market share. Karena target kami paling tidak mendekati ke 30% untuk market share. Dengan fleet kira-kira 50 di tahun 2017. Jadi kami harus kuat disana. Kalau tidak kami tidak bisa bertumbuh dengan baik,” beber Arif. 

Keempat, pilar shocking brand. Disini, Citilink harus memberikan kejutan-kejutan dipasar. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan branding warna hijaunya. Selain itu, guna memperkuat brand Citilink juga menggunakan style komunikasi segmen B dan C.

“Kami juga menggunakan pantun. Jadi kalau terbang dengan Citilink itu selalu ada pantun pada saat pembukaan dan penutupan. Jadi itu salah satu juga yang menjadi kekuatan kami yang menjadi faktor-faktor pembeda. Kemudian kami juga main ke Youtube lewat Citilink TV yang dalam setahun saja sudah memproduksi lebih dari 40 video per tahun. Media sosial kami gunakan untuk itu antara lain Youtube, Twitter, Instagram, dan Facebook, kami juga siapkan masuk ke Line,” kata Arif.

Kelima, adalah IT base airlines. Artinya Citilink berbasis IT. Arif menjelaskan bahwa pihaknya melalui sistem yang dinamakan dashboard bisa memonitor antara lain revenue stream dan cost operational stream.

“Sehingga saya bisa memastikan dari top sampai ke yang front bisa melihat secara IT Base berapa pendapatan hari ini, berapa sales ke depan, berapa isian target ke depan, berapa harga kami, semua kami bisa monitor setiap saat dan live. Itu menjadi salah satu basis kami untuk memenangkan pertumbuhan ini.”

“Kemudian operational stream kami bisa melihat on time performance di setiap fleet on time di setiap kota baik summary secara total maupun rincian. Penerbangan kami 184 penerbangan per hari. Tahun depan targetnya 220 penerbangan per hari. Dan akan naik terus. 11 juta penumpang itu minimal harus ditopang oleh 220 penerbangan per hari."

"Kemudian cost stream masih dibangun mudah-mudahan sudah selesai dibangun, sehingga 3 pilar dashboard kami sudah lengkap. Dan sistem ini kami bangun sendiri. Kami tidak pakai investasi, cuma anak kami saja yang men-develop program.”

Sedangkan yang keenam adalah accelerate income. “Dalam hal ini Citilink memperbanyak pendapatan-pendapatan di luar pendapatan tiket. Mulai dari bagasi, seat alokasi, greenseat, kemudian insurance travel. Itu tiga backbound. Kemudian ada advertising di in fleet interior.” 

“Yang ketujuh operational excellent. Pilar dimana kami harus men-deliver on time performance kami. Hospitality kami kepada costumer dengan baik. Kemudian pilar secure fleet, armada kami harus kami amankan sampai sesuai dengan rencana armada sampai 2018. Kami sudah punya fleet plan sampai 2022 sekitar 120 armada,” kata Arif.

Selain pilar-pilar tadi, Arif mengungkapkan bahwa Citilink juga terus menjaga rasio pegawainya. Ia berujar, “Rasio satu pesawat itu 34 pegawai. Yang lain itu di atas 50. Jadi kalau pesawat 30, jadi dikali 34 jadi karyawan saya harus 1.100 itu sudah maksimum. Tidak boleh naik tidak boleh turun. Tambah pesawat yang naik yang variabel employee seperti pilot, cabin crew, dan mungkin ground staff yang memerlukan staf lebih banyak. Saat ini pegawai sekitar 1.070,” tuturnya.

Untuk ke depan, Arif mengatakan Citilink akan terus menguatkan core-nya dan secara fundamental terus menguatkan delapan pilar tadi, sehingga saat tekanan persaingan makin hebat, Citilink bisa terus menunjukkan kekuatannya. (Yuda Prihantoro)