Jantungnya Radio Ada di Music Director

, 05 Agustus 2016 Admin
Jantungnya

TOP CAREER - Kamu ada yang hobinya ngatur lagu buat didengarkan sendiri diperangkat musik. Hampir tiap hari kamu ngelakuin itu. Nah jika kamu doyan seperti itu profesi Music Director di radio mungkin tepat untuk kamu.

Jika kamu mendengarkan lagu-lagu yang diputar di sebuah radio sejak awal hingga akhir dari jam siaran radio tersebut adalah Music Director (MD) sosok dibalik yang mengatur susunannya atau biasa dikenal dengan si pembuat playlist-nya. Karena peran krusial itulah MD harus bisa mengontrol ego sehingga playlist yang diputar sesuai dengan segmentasi dari radio tersebut. Kalau kata Dyar Dhana yang menjadi MD radio Mustang, seorang MD itu punya banyak keistimewaan.

"Tanggung jawabnya membuat playlist music di radio. Dan dia bertanggung jawab atas lagu-lagu yang diputar di radio. Lagunya yang sesuai dengan segmentasi dari radio tersebut. Mustang segmentasi anak muda umur sekitar 15-25 tahun. Nah kira-kira lagu yang cocok untuk umur itu apa. Menyesuaikan lagu-lagu dengan segmentasinya. Flow tempo lagunya kaya apa biar tidak membosankan," kata Dyar kepada TopCareer.id.

Lanjutnya, tugas lain dari MD adalah menjalin kerjasama dengan label-label musik. Bagi Dyar MD bisa dibilang sebagai jembatan antara industri musik Indonesia dengan pendengar khalayak. Otomatis label-label memperkenalkan musiknya pertama kali ke radio lewat MD. Karena itu, MD harus menjalin kerjasama yang baik dengan industri musik atau dengan label-label. Jadi keuntungannya si artis bisa promo di radio. Dan radio bisa mendapatkan feedback yang baik karena kedatangan artis atau bisa kerjasama off air.

Kecintaan dan passion-nya yang tinggi akan musik diakui Dyar menjadi alasan mengapa ia sangat enjoy dan bangga bisa menjadi MD. "Saya juga bukan pendengar musik saja, tapi pelaku juga musisi. Saya senang bekerja seperti hobi yang dibayar. Itu sangat menyenangkan banget. Saya melihat jerih payah memperdengarkan kawan-kawan musiknya sangat tinggi jadi saya ikut serta mendukung industri musik Indonesia karena passion."

(Baca juga : Profesi langka peracik minuman di Indonesia. Berani coba enggak?)

Selain menjadi MD, Dyar nyatanya juga masih aktif ngeband. Kendati memiliki band sendiri, Dyar tidak serta merta dengan gampang memasukkan lagunya ke dalam playlist Mustang. "Saya harus membedakan mana yang ngeband mana yang bekerja. Jadi MD harus universal harus menghilangkan ego. Kami harus mendengarkan apa yang mau didengarkan masyarakat. Saya sendiri suka rock alternatif."

"Kalau di Mustang, MD berada di bawah Program Director (PD) dan Station Manager (SM). Adapun untuk MD di Mustang hanya ada satu orang. Sementara di radio lain bisa memiliki dua orang MD terlebih jika radio tersebut memainkan semua genre musik."

"Musik di Mustang 24 jam diatur oleh saya sendiri. Kalau dari sisi pendapatan hampir saya ditutup dengan passion. Kalau ada yang lebih besar Alhamdullilah. Saya bekerja dengan senang. Ada kebanggaan tersendiri ketika playlist-nya Mustang bagus. Gue sempet kaya senjata makan tuan, ketika gue lagi galau ke inget mantan gara-gara playlist gue. Enjoy the playlist," ujarnya sambil tertawa.

Selain faktor tersebut, Dyar menilai MD juga punya besar dalam ikut serta memajukan musik Indonesia. Tidak sedikit artis yang terbantu karena peran MD. "Contoh Mustang coba dengarkan ke khalayak untuk artis baru dan input bagus eh terkenal. Dari situ si artis saling kerjasama yang baik dengan MD, kami saling kerjasama dengan artis, manajemen artis, dan label. Kaya punya kebanggaan tersendiri bisa berhasil membantu musik Indonesia. Gue dulu tahu awal lo hehehee."

Sebelum menjadi MD di Mustang sejak Agustus 2014, Dyar mulai 2010 sudah terlebih dulu menjajal profesi sebagai penyiar dan produser di radio lain. Baginya tiap orang bisa menjadi MD asalkan punya kemampuan untuk membaca selera dan kemauan pasar disamping syarat utama harus mencintai musik itu sendiri.

"Sebetulnya orang yang tahu semua program segmentasinya kemana ya yang dengerin siapa saja ya, jam-jam orang maunya dengar apa saja. Alangkah baiknya mereka tahu dulu programmya apa saja. Lebih punya taste musik yang bisa menahan egonya sendiri. Jangan semaunya ego sendiri. Lo harus ikutin maunya pasar tuh gimana."

Dyar menampik bahwa persaingan di radio menyebabkan MD dari masing-masing radio saling bersaing. Kenyataan yang ada dilapangan adalah sesama MD saling bantu, saling sharing. Bahkan meskipun itu radio kampus. "Ada waktu dimana MD keluar ke label bareng-bareng minta materi terbaru. Jadi kaya aneh sih sebenernya ketika MD pada sharing lagu. Para MD saling sharing pure mendukung musik Indonesia. Sudah banyak pelaku musisi kerjasama dengan MD. Contoh Noah mengeluarkan single Separuh Aku serentak kerjasama dengan para MD. Saat itu satu Indonesia puterin lagu Noah. Gimana caranya MD kerjasama dengan label."

Ketika ditanya jenjang karier selepas MD yang diincarnya, pria berusia 24 tahun ini mengaku masih sangat menikmati posisi MD sehingga belum terpikirkan untuk mengisi posisi lain selain MD. "Ketika dikasih jabatan lebih tinggi saya masih menikmati jadi MD. Banyak orang menginginkan title MD, karena selepas dari MD dia bisa kemana saja. Kenal banyak orang di industri musik seperti kenal banyak label, kenal promotor, kenal PH, kenal artisnya. Ketika jenjang MD sudah mulai habis mereka bisa buka EO, bisa gabung juga di label atau promotor musik. Musik itu luas. Banyak yang didapat ketika menjabat MD, bisa kenal artis manajemen, banyak banget link kemana-mana."

"Dukanya belum ada Alhamdullilah belum ada. Belum ada merasakan hal yang tidak suka. Karena balik lagi lakukan dengan passion lo. Do it with passion. Dunia radio bisa dibilang pintu pertama menjadi entertainner. Kita coba balikin ke dulu orang terkenal lewat radio, biasanya penyiar dulu baru jadi presenter. Kalau suka ngomong, bawel, kenapa tidak coba siaran saja. Itu kan hal yang mengasyikkan lo dibayar cuma buat ngomong doang. Asal lo bawel, lo cocok jadi penyiar. Menurut gue seperti itu. Ketika lo sudah nyemplung lo akan ketagihan. Lo akan coba divisi lain seperti redaksi, MD, off air itu akan mengasyikkan." (Yuda Prihantoro)