SRM Buka-Bukaan Soal Manajemen Band Bekerja

Rabu, 02 November 2016 Admin
SRM

TOP CAREER - Urusan musik tak hanya tuntas di pemain dan pendengar saja. Dalam industrinya, musik pun mengenal distribusi dan manajemen agar karya musik tersebut dapat didengar secara luas dan berkembang. Salah satu manajemen band yang turut meramaikan belantika musik Indonesia saat ini ialah SRM Band Management.

SRM Band Management yang diinisiasi oleh Satria Ramadhan, tengah berfokus kepada manajemen band-band berlabel indie di Indonesia. Satria Ramadhan mengatakan yang ia kerjakan selaku manajer band pada dasarnya ialah mengatur segala kebutuhan band agar dapat terus bersinar.

"Yang dilakukan SRM Band biasanya lebih ke membantu band supaya teratur dalam mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan band. Misal mengatur jadwal latihan, pemilihan jadwal manggung, strategi promosi, inventory alat, merchandising, kelola tim produksi dan sebagainya,” tutur Satria Ramadhan kepada TopCareer.id.

Inisiatif Satria Ramadhan saat mendirikan SRM Band Management di 2008 dinilai sebagai wujud nyatanya dalam mencintai musik. Bahkan meski saat ini sudah menaungi 11 band indie kenamaan, Satria mengaku yang dikerjakannya saat ini adalah pekerjaan sampingannya yang dilandasi oleh idealisme dirinya.

(Baca juga : Cara music director membuat playlist untuk radio)

"Sejak awal saya membentuk SRM, saya tidak memikirkan revenue. Karena bagi saya manajemen ini adalah manajemen kecil-kecilan yang berfungsi untuk membantu band-band yang ada di dalamnya. Strateginya adalah menjadikan manajemen ini adalah pekerjaan sampingan pemuas dahaga idealisme saya, sebagai wujud kecintaan saya terhadap musik. Revenue-nya adalah kebahagiaan tiap band dan senyum mereka diatas panggung,” kata Satria.

(Baca juga : Generasi milenial, ternyata menjadi pasar yang sulit untuk direbut oleh portal-portal berita raksasa di Indonesia. Kenapa bisa begitu?)

"Akan tetapi, saat ini seiring dengan berkembangnya manajemen dan elemen pendukungnya, revenue didapat 10 persen dari fee dari manggung band-band SRM, sesuai dengan persetujuan band-bandnya," tambah Satria.

Sebelum mendirikan SRM Band Management, Satria mempelajari setiap detil dunia permusikan dan manajemen secara otodidak. Tepatnya ketika ia masih berprofesi sebagai fotografer untuk band Ballads of the Cliche. Ia juga menjadikan beberapa manajer band terkenal sebagai panutan, seperti Indra Ameng, Wendi Putranto, dan Rudolf Dethu. Saat ditanyai mengenai hitung-hitungan harga band yang ingin bernaung di SRM Band Management, Satria mengatakan hal itu perlu disesuaikan dengan jenis bandnya masing-masing.

(Baca juga : rumahsakit bicara soal indie)

“Penentuan besar tarif biasanya dari band yang mengajukan, lalu saya adjust dengan kondisi bandnya. Misal sudah terbentuk berapa lama, sudah punya berapa album, seberapa besar antusiasme penikmat musik terhadap band ini, dan sebagainya. Nah nantinya juga disesuaikan dengan jenis gigs yang ditawarkan, apakah Pensi, acara sosial, acara komunitas, dan lain-lain. Jenis acara bisa menjadi faktor pembeda dalam hal negosiasi harga,” imbuhnya.

Saat ini SRM Band Management menaungi 11 band indie kenamaan Indonesia, sebut saja Ballads of The Cliché, SORE, L’Alphalpa, rumahsakit, Bangkutaman, The Experience Brothers, Sajama Cut, The Trees and The Wild, Barefood, Marsh Kids, dan MC Adit Insomnia. (TC)