Karier Sebagai Head of Flight Standard

Rabu, 09 November 2016 Admin
Karier

TOP CAREER - Pasti kamu pernah dengar kan soal penyewaan pesawat. Nah, di dalam perusahaan tersebut ada satu profesi bergengsi berlabel Head of Flight StandardHead of Flight Standard yang akan dibahas kali ini berasal dari bendera Travira Air.

Adalah Capt. Wuri Septiawan, Head of Flight Standard Travira Air, yang akan berbagi mengenai seluk beluk profesi ini. Yuk mari...

Bagi Travira Air, standar penerbangan tidak hanya dirangkum dari Undang-Undang Penerbangan yang dikeluarkan oleh DKUPPU (Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara) saja. Melainkan juga merangkum dari standar penerbangan yang dianut internasional, serta yang dikeluarkan oleh pihak penyewa. Standar penerbangan yang dikeluarkan pihak penyewa disebut BARS (Basic Aviation Risk Standard).

“Itulah bedanya perusahaan ini dengan perusahaan airlines. Di Travira Air, kami juga berusaha memenuhi standar yang diinginkan oleh pihak pen-charter. Tugas utama dari profesi ini adalah memastikan seluruh standar-standar penerbangan dilakukan dengan baik dan benar oleh awak pesawat dan penumpangnya,” ujar Wuri kepada TopCareer.id beberapa waktu silam yang temui di hanggar Travira Air.

Flight Standard juga bertugas membuat standar penerbangan yang akan menjadi pegangan seluruh awak pesawat, mulai dari pilot, pramugari, flight operation officer, sampai load master. Standar ini dibuat dalam suatu manual book yang disebut dengan Company Operation Manual.

Company Operation Manual tersebut merupakan hasil penggabungan aturan-aturan yang dikeluarkan dari pemerintah, dalam hal ini Departemen Perhubungan, pihak pen-charter, dan perusahaan sendiri. Menurut Wuri, aturan dari negara, penyewa, dan perusahaan semuanya diadopsi menjadi satu aturan standar yang digunakan Travira Air.

(Baca juga : Citilink kelola pekerja dan bisnis pakai cara keren kaya gini…)

Membuat standar penerbangan yang baru untuk perusahaan merupakan pekerjaan yang bisa dibilang tidak mudah karena profesi ini mencoba untuk menggabungkan standar-standar yang ada sehingga menjadi sempurna ketika dijalankan.

Wuri menilai, umumnya standar yang dikeluarkan oleh pemerintah merupakan standar minimum yang harus dijalankan di dalam penerbangan. Sedangkan standar yang diminta oleh pihak penyewa akan menuntut lebih dari sekedar aturan yang bersifat minimum saja. Banyak syarat tambahan yang diajukan oleh pihak penyewa sebagai standar mereka ketika terbang.

“Beberapa perusahaan penyewa dari industri minyak dan gas, biasanya menginginkan adanya standar khusus, seperti adanya jungle survival. Pilot yang menerbangkan pesawat harus punya 3.000 jam terbang atau lebih ke standar makanan yang dihidangkan di pesawat, dan Travira sendiri berusaha untuk menambahkan standar itu di dalam standar yang sudah ada,” terang pria yang telah 10 tahun bekerja di Travira ini.

Untuk menjadi seorang Flight Standard, maka yang dibutuhkan adalah seseorang yang mempunyai kemauan belajar yang tinggi.  Kemauan belajar ini diperlukan karena aturan CASR (Civil Aviation Safety Regulation) ini jumlahnya sangat banyak dan Flight Standard harus bisa menerjemahkan aturan-aturan ini, untuk nantinya dimodifikasi dengan aturan lainnya.

Yang membuat profesi ini menjadi rumit adalah tidak adanya sekolah yang mempelajari bahasa hukum di dalam penerbangan dan memang mau tidak mau harus dipelajari sendiri dengan rajin berinteraksi dengan Departemen Perhubungan.

“Pekerjaan ini menuntut kami untuk lebih sering membaca dan kalau kita sering mengikuti pelatihan-pelatihan penerbangan, maka lama-kelamaan juga akan terbiasa.”

Untuk latar belakang pendidikan sendiri, posisi Flight Standard harus merupakan seorang pilot yang mempunyai pengalaman terbang selama 10 tahun atau minimal memiliki jam terbang sebanyak 5.000 jam.  Selain itu, yang ingin menempati posisi sebagai Flight Standard juga harus mengerti mengenai peraturan di dunia penerbangan. 

Baca juga : Profesi langka peracik minuman di Indonesia. Berani coba enggak?)

“Profesi ini harus diisi oleh seorang pilot karena pilotlah yang mengerti tentang seluk-beluk dunia penerbangan,” sambung Wuri.

Baginya, bekerja sebagai seorang Flight Standard mendatangkan banyak keuntungan. Banyak sekali pilot di Indonesia yang karena kesibukan terbang tidak mempunyai waktu untuk membaca dan ilmu mereka pun hanya sekedar menerbangkan pesawat saja.  Sedangkan di Flight Standard, selain mempunyai pengalaman menerbangkan pesawat, profesi ini juga terlatih untuk membaca dan menerjemahkan ke bentuk lain.    

“Saya bekerja di Travira tidak semata-mata karena uang, tetapi karena keinginan yang kuat untuk membantu orang-orang di sekeliling.  Saya merasa puas apabila aturan yang sudah saya susun di Travira dapat dijalankan dengan baik oleh teman-teman di lapangan.  Ada suatu kebanggaan tersendiri yang saya rasakan apabila pesawat berangkat kembali dengan selamat dan pencarter merasa puas,” tutur mantan pilot Merpati ini. 

Berkembangnya persaingan di dunia industri penerbangan yang kian ketat, Wuri melihat tantangan untuk Flight Standard adalah semakin bergantungnya dunia penerbangan kepada buku manual. Dari situ, Flight Standard tidak hanya harus cakap dalam mengadopsi berbagai buku manual untuk disatukan, tetapi juga harus pandai untuk menyosialisasikan kepada awak pesawat yang lain agar setiap prosedur dijalankan dengan baik. 

“Ke depannya,  masyarakat yang mengerti tentang dunia penerbangan akan semakin banyak dan itu menuntut Flight Standard agar lebih tanggap terhadap aturan-aturan baru.”

Setiap perusahaan penerbangan, baik yang airlines maupun yang charter akan membutuhkan seorang Flight Standard untuk membuat aturan yang baku dan ini akan membuka peluang bagi pilot-pilot yang sudah berpengalaman untuk menjadi Flight Standard.  Artinya, profesi ini mempunyai prospek karier yang menarik karena penghasilan yang didapatkan pun sebanding dengan tanggung jawab yang diembannya. 

“Profesi ini sangat sedikit sekali peminatnya, tapi berpengaruh besar di dalam dunia penerbangan.  Pilot-pilot sekarang harus membuka pikiran mereka untuk berkembang melalui profesi ini,” tutup Wuri. (Yuda Prihantoro)