Cari Tahu Kerjaan Social Media Lebih Dalam, Yuk!

Rabu, 19 April 2017 admin
Cari

TOP CAREER – Di era perkembangan teknologi yang kian mendukung industri kreatif berbasis web, kini banyak perusahaan membutuhkan tenaga admin social media. Lalu sebenarnya apa sih pekerjaan social media di website? Apakah semua orang bisa jadi seorang social media admin?  

Social Media Content Detik.com, Mega Agniya menjelaskan pekerjaan social media secara sederhana, yakni men-deliver konten yang ada di website ke social media. Mega mengisitilahkan social media sebagai “loper koran” yang siap memikirkan bagaimana caranya orang-orang mau membaca artikel web melalui sosial media.

“Bagaimana cara narik orang untuk ngebaca artikel dari fanpage.  Bagaimana cara narik artikel itu yang bentuknya lebih nge-enganged orang, atau nge-reach orang dengan kalimat tanya atau kalimat untuk berkomentar. Atau kalimat yang enganged langsung ke link klik,” kata Mega saat ditemui TopCareer.id.

(Baca juga : Oh ternyata ini cara yang dipakai Jobstreet dan JobsDB untuk besar di Indonesia)

Apapun yang dilihat pembaca dari berbagai platform sosial media, seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain, itulah yang dikerjakan oleh anak-anak social media. Melalui keaktifan social media itu pula, diharapkan tak hanya menarik pembaca lama yang sudah tetap, melainkan juga bisa “merangkul” pembaca baru.

“Jadi, setiap caption yang dikeluarkan adalah caption-caption yang mau menarik orang untuk berkomentar, mau menarik orang nge-share, mau menarik orang nge-like, dan yang pasti menarik orang untuk ngeklik,” ujar dia.

Sebagai social media officer, Mega mengaku memiliki target yang harus dicapai oleh timnya. Target atau Key Performance Indicator (KPI) yang harus dicapai itu berupa user view (UV). Ia mengungkapkan rata-rata KPI sebulan di atas tujuh juta user view, dan target KPI per bulan ditentukan secara berbeda.

"Jadi, anak sosmed dan redaksi itu direction-nya beda. Direction anak sosmed adalah user, tapi ketika pembaca sudah masuk dan browsing artikel lalu ke artikel lain, itu tugas redaksi. Jadi, user view jadi tugas sosmed, sementara page viewnya dari redaksi. Direction kami UV ya apapun yang dikerjakan harus menghasilkan UV,” ujar Mega.

“Itu kan bagaimana cara dia (redaksi) untuk membuat pembaca betah dengan web kami. Kalau UV sebatas ngajak orang untuk masuk ke web kita, itu kerjaan anak sosmed. Kayak loper korannya.”

Lalu siapa saja yang bisa menjadi admin sosial media? Apakah semua orang yang aktif di sosial media bisa menjadi admin sosmed, seperti di kantor media atau agensi? Secara jenjang pendidikan, social media memang tidak memiliki bidang tersendiri atau spesiliasisnya. Sehingga menurut Mega, semua orang bisa karena sosmed itu personal branding.

"Tim saya sendiri yang basicnya komunikasi dan jurnalistik 3 orang, sisanya HI, sejarah. Akhirnya enggak ditentuin jurusan apa. Pada dasarnya lebih ngerti sosmed, tahu bagaimana caranya nge-attach orang untuk masuk, bagaimana caranya untuk bikin orang nge-engagement. Bagaimana caranya bisa narik like banyak, bisa narik retweet banyak.”

(Baca juga: Ingin sekali terjun di dunia film? Mungkin film programmer bisa kamu coba)

Learning by doing adalah proses yang umum dilakukan jika ingin menjadi pekerja social media karena ilmu social media menurut Mega sangat dinamis. Namun, bukan berarti pekerjaan dianggap enteng, apalagi jika berbicara soal strategi meningkatkan pembaca, untuk media.

"Jadi sebenarnya di media itu sosmednya ada dua bagian. Ada konten delivery, si loper koran itu, ada content strategist. Nah yang strategist ini gimana cara meningkatkan branding, awarness, sama engagement. Lebih kayak strateginya gimana,” ucap Mega.

Mega tidak sepenuhnya setuju dengan anggapan orang yang menilai bahwa anak sosmed dibayar cuma untuk upload status di Facebook, Twitter dan sosmed lainnya. Padahal setelah masuk dan tahu soal pekerjaan sosmed, harus banyak “memutar otak” untuk mengatur strategi bagaimana caranya apa yang di posting selalu muncul di timeline orang.

"Harus memikirkan strategi apalagi punya target. Bagaimana orang mau share, gimana berita di-feed orang. Maintain-nya  itu yang susah,” tandas Mega.


Masa Depan Anak Sosial Media

Mega menjelaskan jenjang karier sebagai sosial media yang ada di Detik.com. Setelah menjadi officer social media di Detik.com bisa naik tingkat menjadi koordinator, bisa menjadi koordinator sosial media konten atau kordinator social media strategist. Dari kordinator, bisa naik tingkat lagi menjadi supervisor yang akan menerima laporan officer dari dua koordinator.

"Teman saya ada yang jadi koordinator, sudah 4 tahunan bisa naik, sebelumnya social media officer. Tapi tidak menutup kemungkinan ketika dipindah. Misalnya dari sosmed dipindah ke event. Biasanya berdasarkan rekomendasi. Soalnya kalau di sini (Detik.com) makin banyak yang dipelajarin makin bagus. Enggak melenceng banget loncatnya.”

Sementara itu, ketika ditanya soal prospek pekerjaan sosial media ke depannya, Mega menjawab bahwa dengan perkembangan teknologi yang kian pesat, peran sosmed akan sangat dibutuhkan. “Orang akan lebih nyari ke sosmed dibanding direction langsung googling, kadang terkenal pun orang males. Jadi, akan sangat membantu sekali,” ujar Mega.

Sedangkan terkait gaji, Mega menyarankan bagi yang tertarik masuk sosial media di Detik.com, minimal memiliki pengalaman 6 bulan. Dengan pengalaman itu, setidaknya pelamar punya nilai jual agar bisa dibayar lebih tinggi.

“Gaji saya di atas Rp4 juta, sementara untuk freshgrad di kisaran Rp3 juta meski dengan status pendidikan S1. Jadi kalian akan rugi ketika masuk sini frash grad. Mendingan udah punya pengalaman, baru masuk sini. Enam bulan di luar udah punya nilai, dianggap pengalaman di sini, setidaknya nilai jual lebih tinggi. Beda ketika lo freshgrad enggak bisa nego.” (Hilda Ilhamil Arofah)