Peluang Terbuka Lebar Jadi Film Programmer

Rabu, 19 April 2017 admin
Peluang

TOP CAREER - Pernah enggak sih kamu berpikir ingin kerja dengan peluang yang masih terbuka lebar? Kayanya kamu musti coba jadi film programmer. Jangan salah sangka dulu, ini bukan sebelas dua belas dengan web programmer. Coba aja search di Google, kamu tidak akan banyak menemukan informasi terkait pekerjaan ini.

Sugar Nadia Azier, film programmer, yang sudah bertahun-tahun bekerja dibidang ini mengakui peluangnya kalau masih besar. Di Jakarta saja hanya ada beberapa orang yang menjadi film programmer.

“Jadi orang nya ini-ini saja sekitar 4-5 orang yang sama-sama film programmer. Nah kadang kami saling cross, kolaborasi dan ditawarin untuk membantu program satu sama lain,” ucap Sugar kepada TopCareer.id.

Berawal dari kesukaannya menonton film yang tidak hanya sebatas film di bioskop. Dia pun memutuskan bergabung sebagai volunteer di ruang putar bernama kineforum. Kecintaannya pada film yang menjadikannya aktif dan mulai belajar banyak hal. Sehingga seiring berjalannya waktu dan pengalaman pada 2011 dia diangkat menjadi manager kineforum.

(Baca juga : Mice Cartoon cerita soal dunia komikus di Indonesia, kok begini ya…)

Pekerjaannya adalah memikirkan konsep film apa yang akan diprogram sesuai dengan tema yang akan diangkat dan waktu penyelenggaraan. Dia yang memiliki wewenang menentukan tema, genre film, judul, jadwal tayang dan siapa saja sasaran yang akan menonton film tersebut.  

"Semisal pada rangkaian peringatan film nasional yang dirayakan pada bulan Maret, seorang film programmer mencari film nasional yang sesuai untuk ditonton baik film-film di awal tahun 1950 hingga 2016.” 

Film programmer juga yang mempunyai andil besar untuk memperpanjang umur dari film-film Indonesia yang telah selesai tayang di bioskop. Dengan cara menayangkan kembali film-film itu untuk dijadikan bahan review dan diskusi dalam acara screening film.

Oleh karena itu, lewat perannya inilah dia memiliki banyak relasi terutama dibidang perfilman seperti produser dan sutradara dalam negeri dan beberapa relasi diluar negeri. Dia pun beberapa kali diundang dalam festival film luar negeri seperti di Tokyo, Spanyol dan di Malaysia.

Dirinya juga menjadi perpanjangan tangan oleh para programmer film luar negeri untuk dimintai saran terkait rekomendasi film dan sineas Indonesia yang layak hadir di acara festival film luar negeri.

Baca juga : (Coffee roaster bukan cuma tukang seduh)

Meski kini sudah tidak lagi aktif di kineforum, namun Sugar masih mengelola screening film di beberapa tempat dan memprogram film di Plaza Indonesia Film Festival. Festival ini diadakan setiap Februari dan Mei. Dengan mengangkat tema Philosphy of Love di Februari dan Celebrating Women di Mei.

Alumnus UNJ jurusan Pendidikan Bahasa Jepang ini menambahkan dengan menjadi film programmer dia merasa pengetahuannya seputar film semakin hari semakin bertambah. “Biasanya kebanyakan meeting ketemu klien harus banyak baca, kerjaan kaya gini (film programmer) yang aku ngerasa pengetahuanku jadi banyak nambah,” jelasnya.

Namun meski sudah merasa nyaman bekerja dibidang tersebut, diakui olehnya bahwa  kadang dirinya kesulitan dalam mendapatkan materi film dari luar. Hal ini karena peraturan pemerintah terkait proses bea cukai yang belum jelas, kadang jadi kendala dalam lancar atau tidaknya proses impor ekspor materi tersebut.

"Karena sistem di Indonesia itu masih belum fix, masih suka berubah-ubah. Jadi nanti film A lancar pas kita ekspor film B enggak lancar. Kami harus datang dan jelasin dulu, karena mereka enggak paham apa ini film festival, apa itu film screening. Mereka cuma ngerti kalau yang bisa ekspor film itu hanya XXI  (bioskop),” keluhnya.

Hal lain yang menjadi tantangan menyangkut ruang putar yang sudah mulai tersebar di beberapa kota di Indonesia tetapi masih ada masyarakat yang belum tahu dengan kegiatan didalamnya, sehingga masyarakat tidak suka film alternatif dan yang mereka tahu hanya film bioskop.

Jika kamu mau menjadi film programmer, Sugar menyarankan idealnya orang yang bersangkutan belajar sesuai dengan bidang terkait seperti kajian sinema. "Tapi pada dasarnya semua jurusan bisa jadi film programmer asal banyak mengikuti perkembangan film."

Melihat perkembangan film di Indonesia, Sugar merasa sudah banyak peningkatan terkait komunitas film dan asosiasi film yang sudah banyak terbentuk. Selain itu ruang putar alternatif semakin banyak seperti Kinosaurus dan Paviliun 28. Juga keinginan kaum muda untuk membuat film pendek serta kesadaran pemerintah berupa dukungan semisal untuk mengadakan pelatihan dan kompetisi film semakin meningkat. (Nur Lella)