Indonesia Masih Mimpi Punya Festival Film Internasional

Senin, 01 Mei 2017 admin
Indonesia

TOP CAREER - Film bisa menjadi salah satu medium yang efektif untuk promosi suatu negara. Sayangnya potensi ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh pihak-pihak terkait. Bahkan untuk menggelar festival film berskala internasional saja, perfilman Indonesia seolah kehabisan napas.

Coba kamu tengok, Festival Film Cannes di Prancis, Pusan International Film Festival Korea, Tokyo International Film Festival di Jepang sampai Singapore Internasional Film Festival (SIFF). Lantas di Indonesia?

“Mungkin dulu kami pernah punya nama, ada Jakarta Internasional Film Festival (Jiffest)”ucap Sugar Nadia Azier salah satu pegiat film saat ditemui dikantornya oleh TopCareer.id.

Tapi sejak 2013 festival itu tidak dilanjutkan lagi. Sementara yang banyak terdengar kini hanyalah festival film bertaraf nasional seperti Festival Film Indonesia (FFI) dan Festival Film Bandung (FFB).

(Baca juga : Penyebab film Indonesia tidak bisa tembus festival film internasional)

Menurut lansiran dari Wikipedia.org, yang dikutip langsung dari website resmi Jiffest yang kini sudah tidak aktif, keberadaan festival tersebut sudah ada dari 1999. Dalam sejarahnya, Jiffest pernah mendatangkan antusiasme penonton sebanyak 63 ribu penonton dengan melibatkan 35 negara di 2006. Hingga akhirnya setelah 2013 gaung Jiffest tak lagi terdengar hingga kini.

Sugar mengatakan bahwa masalah pendanaan menjadi sebab awal Jiffest tidak lagi diselenggarakan. Tak hanya itu ketiadaan support dari pemerintah dan sponsor semakin menambah alasaan kenapa festival itu ditutup. Padahal Jiffest bisa menjadi agenda besar bagi Badan Perfilman Indonesia (BPI) yang dibentuk pada 2014.

(Baca juga : Mengenal lebih dekat film programmer)

Tidak hanya BPI yang bisa turun tangan, Sugar menambahkan bahwa badan lainnya bisa turut andil mendukung terselenggaranya acara tersebut, seperti Kementerian Pendidikan, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Kementerian Perhubungan hingga Dinas Kebudayaan Jakarta.

“Belum saling bekerjasama, antar stakeholder film, pemerintah, pelaku film, dan pembuat film. Fokusnya masih masing-masing,” ucap Sugar.

(Baca juga : Curhatan pekerja media sosial Detik.com, oh ternyata...)

Dirinya menambahkan jika ingin permasalahan ini dipecahkan bersama maka pemerintah harus membuat wadah diskusi dimana semua yang terlibat dikumpulkan dalam satu tempat, lalu setelah itu pemerintah bisa membuat satu sistem membentuk kepanitiaan Jiffest yang direkrut secara profesional sehingga pada akhirnya bukan mereka (panitia) yang memikirkan keberlangsungan Jiffest tetapi pemerintah. “Harusnya yang harus mikirin ini terus jalan itu pemerintah, jadi negara ngasih uang buat film festival.” (Nur Lella)