Bedanya Kerja Sosmed di Media dengan Agensi

Selasa, 02 Mei 2017 admin
Bedanya

TOP CAREER – Pekerjaan sebagai seorang social media (Sosmed) di mana pun tujuannya sama, yakni untuk mempromosikan brand agar lebih dikenal. Namun, social media yang bekerja di web atau portal berita memiliki perbedaan dengan social media di agensi. Mau tahu bedanya apa aja?

“Menurut saya bedanya dari sisi bosen atau enggaknya kerjaan. Kalau media, misal Detikcom ya sudah megang itu saja terus. Satu brand doang nih, yang bikin bosen adalah ya gitu-gitu lagi. agensi enggak gitu, karena akan menemukan brand-brand baru. Misalnya di 3 bulan ini banking, 3 bulan berikutnya bisa saja ngerjain produk susu,” kata Mega Agniya, Social Media Content Detik.com.

(Baca juga : Profesi langka peracik minuman di Indonesia. Berani coba enggak?

Mega kepada TopCareer.id, mengistilahkan bekerja sebagai social media di agensi seperti berkepribadian ganda, karena harus mampu mempromosikan produk sesuai dengan karakter brand masing-masing. Sementara, jika di web atau portal berita hanya mem-branding satu nama, namun bisa bermain di banyak kanal.

“Mau itu kontennya lifestyle, sport, ya branding-nya Detikcom. Kamikan punya fanpage kanal, mungkin pelarian sosmed Detikcom biar enggak bosen ya itu. Switch dari yang megang Detikcom, jadi megang kanal,” ucapnya.

(Baca juga : Ini dia gajinya pekerja sosmed Detik.com)

“Misal Wolipop, ya enggak mungkin pakai Anda dong. Kalau di media enggak megang kanal itu akan bosen, ya gini-gini saja enggak bisa meng-eksplore jauh. Beda ketika megang DetikHot atau Wolipop. Di DetikHot bahasanya bisa nyinyir banget meski tetap dalam jalurnya, dan enggak mungkin membawa bahasa DetikHot itu ke akun sentral Detikcom.”

Mega menilai bahwa pekerja social media di agensi akan lebih disibukkan dengan permintaan klien, sementara sosmed di web atau portal berita akan terasa sibuk ketika ada peristiwa yang menyangkut “kehebohan” keredaksian.

(Langkah Manajemen Organic Record dalam memasarkan artisnya, bisa ditiru nih)

“Hectic-nya, ya hectic agensi. Misal deadline jam berapa ya harus diberesin, ketika klien minta dibenerin hari itu ya hari itu juga dikelarin. Tiba-tiba jam 7 malem klien minta revisi ya harus diladenin. Kalau di media lebih ke by moment, kalau debat Pilgub enggak mungkin jam 7 udah balik, karena debatnya jam 7. Sidang Jessica live, tiap sidang datang pagi,” papar Mega.

Sosmed Agensi Rela Ribet Bareng Klien

Berbeda cerita dari Mega sebagai sosmed portal berita, Nabila Fadiyah yang pernah bekerja di Mirum Agency mengungkapkan bagaimana kesibukan anak social media di sebuah agensi. Nabila setuju bahwa pekerja social media merupakan pekerjaan yang harus siap siaga, meskipun berada di bawah naungan agensi.

Enggak menentu 8 jam kerja, tergantung kalau memang ada deadline, atau kerja lumayan banyak itu ya bisa lembur. Sabtu minggu bisa libur, bisa stand by juga. Misalnya ada even, sosmed officer kadang dateng ke even itu untuk sekadar live reportvia channel-nya social media. Tergantung dari brand-nya juga sih, kira-kira perlu enggak nih dateng ke tempat even,” ujar Nabila.

Nabila menambahkan, karena agensi merupakan konsultan, jadi tentunya komunikasi banyak dilakukan dengan klien. Bagaimana agensi bisa memberikan masukan yang terbaik serta mengakomodasi keinginan dari klien sendiri.

Namun, dalam prosesnya ada beberapa hal yang terkadang membuat anak social media kebingungan sehingga perlu merevisi hasil kerjanya. Salah satu di antaranya adalah miss komunikasi antara account executive (AE) dengan officer atau dengan klien. Karena dalam agensi, AE bertindak sebagai penghubung atau perantara klien dengan agensi.

(Baca juga : Citilink kelola pekerja dan bisnis pakai cara keren kaya gini…)

“Kadang miss komunikasinya di AE dulu, misal si AE salah menerjemahkan. Bisa jadi social media officer dan tim kreatif sudah buat, tapi AE kurang detail nyampein ke kliennya. Atau dari AE kurang detail nyampein pesan yang diinginkan klien ke kami. Jadi, enggak bisa sosmed officer komunikasi langsung ke klien,” jelas Nabila yang kini bekerja sebagai Content Copywriter di Hollycow.

“Agensi itu hitungan-hitungan bisnisnya cukup banyak, jadi jam kerja officer juga dihitung. Jadi biar jam kerja officer itu aman, harus ada AE yang ngejagain officer dari permintaan klien. Dan juga ngejagain klien enggak boleh nyuruh langsung. Karena kalau klien langsung ke officer nanti jam kerjanya kacau, perjanjian apa pasti enggak nyampe,” lanjutnya.

Hal lainnya, kata Nabila, yang membuat proses kerja anak sosmed terhambat adalah dari klien itu sendiri yang tidak bisa menyampaikan pesan keinginannya secara jelas sehingga pihak agensi sulit mencerna.  

“Yang ketiga kliennya memang demanding, perfeksionis. Yang keempat dari segi brand-nya yang heavy. Misalnya, kayak XL, Indosat, itu heavy banget. Promonya banyak, aktivitasnya banyak. Atau kayak brand susu ibu, itu heavy. Mereka (brand susu) suka ngadain event, campaign juga, bersifat diminum dan dimakan, jadi harus lebih hati-hati, lebih klinis,” ucap Nabila.

Sementara, terkait pekerjaan social media di agensi yang lebih dituntut untuk menangani beberapa brand dalam waktu yang tidak menentu, Nabila menganggap bahwa hal itu sebagai tantangan tersendiri.

“Buat sebagian lagi itu tantangan. Bagi saya, belum terlalu bisa berpindah kepribadian, dari dulu sampai sekarang megang brand yang sifatnya brand cewe. Kalau Hollycow sekarang targetnya luas. Selama di Mirum brand cewe,” ujar dia.

“Sebaiknya sih memang setiap officer dibedakan memegang brand apa, misal brand cewe itu ya cewe dinilai berdasarkan kinerja sebelumnya. Intinya bagaimana memposisikan diri terhadap brand itu.” (HIA)