Seksolog Ini Cerita Pusingnya Tangani Kasus Rumit

Senin, 2017 adminbaru
Seksolog

TOP CAREER – Sebagai seorang seksolog, Baby Jim Aditya tentu banyak menampung berbagai curhatan orang-orang yang datang dengan segala permasalahan untuk diselesaikan. Layaknya psikolog, seksolog juga memberikan jasa konseling, namun arahnya lebih ke isu-isu seksual dan gender. Bahkan, Baby mengaku sempat merasa pusing dengan beberapa kasus yang dinilainya rumit.

Baby menuturkan biasanya penetapan berapa lama sesi konseling berdasarkan kasusnya. Ada yang sifatnya sebentar sehingga tidak membutuhkan banyak sesi, ada pula yang hingga bertahun-tahun belum juga selesai. Bahkan seolah deadlock tanpa menemui jalan keluar.

Ia mencontohkan salah satu kasus rumit yang ditanganinya, tergolong unik. Namun, selama empat tahun berjalan, hingga kini belum menemui titik cerah yang baik untuk pihak-pihak terkait. Kasus ini menyangkut rumah tangga dan isu gender.

Ada orang dalam perkawinan. Salah satu dari kedua orang dalam perkawinan ini, sejak kecil dia sudah sadar ingin jenis kelamin yang berbeda. Pasienku tuh dia perempuan ingin operasi top surgery, karena dia benci sama tubuhnya. Tetapi suami dan istri ini tetap ingin mempertahankan perkawinan karena merasa sama-sama saling cinta,” jelas Baby kepada TopCareer.id.

Sementara, lanjutnya, di sisi lain suami tetap tidak bisa membayangkan setelah istrinya melakukan suntik testosteron dan operasi top surgery. Dari sisi medical dan psikis, Baby lantas menjelaskan dampak-dampak apa saja yang terjadi bila sang istri melakukan suntik dan top surgery.

“Kalau kamu suntik testosteron kamu harus tahu nih dampaknya gini. Misalnya dia perempuan mau jadi laki. Terus gimana suamimu? Terus tanya suaminya juga, gimana nih kalau istri kamu sudah suntik testosteron itu akan mempengaruhi semua,” ujar dia.

“Sebenarnya complicated. Itu kami atur sesinya tidak selalu berdua, karena kan masing-masing mempunyai bargain dalam hidupnya. Masing-masing kekeuh. Kata suaminya, ibarat orang tidak punya kaki tapi disuruh lari, si perempuan bahkan bawaannya mau bunuh diri mulu. Saya katakan, adakah di dunia ini yang semuanya seratus persen kalau memilih. Karena masih muda jadi ngotot.”

(Baca juga : Jadi acting coach di Indonesia rasanya seperti ini…)

Menurut Baby, kasus yang ditangani hingga empat tahun tak kunjung selesai ini membutuhkan kesabaran ekstra dan memerlukan pemahaman dari berbagai sisi. Baby mengaku dalam kasus ini kedua belah pihak tidak mau bersikap realistis sehingga perbincangan sesi konseling lebih alot.

“Suaminya sampai bilang, bisa tidak Mbak Baby ubah saya jadi gay saja. Supaya saya bisa terima perubahan istri saya. Karena dua-duanya mau seratus persen. Mati enggak tuh sampai kayak gitu? Dan ini belum ngomong sama orangtuanya, bagaimana penerimaan dari mereka. Orangtua kedua belak pihak tidak ada yang tahu,” papar perempuan yang gemar traveling ini.

Baby memaparkan, dalam kasus mana pun konseling yang dibutuhkan harus berkesinambungan, tidak putus nyambung di tengah jalan. Selain itu, berbagai pihak perlu diundang untuk diajak berbicara agar persoalan bisa tuntas semua, tidak setengah-setengah.

“Misal okelah sekian sesi, tahu-tahu tidak balik dua atau tiga bulan. Nah itu kami tidak tahu apa yang terjadi di tengah-tengah dan mengubah semua pikiran yang sudah didiskusikan. Mungkin juga karena dia tidak mau patuh. Lalu, dia sendiri tidak mau move on. Jadi, ada model orang yang begitu, dia tahu masalah itu besar, tapi ketika dikasih tahu ini-ini solusinya, dia diam aja. Mereka tidak berani, karena ambil ke kanan ke kiri sama-sama berisiko.”

Ada pula isu gender lainnya yang juga sudah berumah tangga. Bahkan isu gender anak-anak yang dilaporkan oleh orangtuanya. Orangtua bercerita bahwa anaknya kerap mendapatkan pelecehan di sekolahnya. Namun, orangtua cenderung tidak mau mengakui bahwa anak tersebut bukan heteroseks.

“Anak kelas satu atau dua SD, sudah kelihatan bahwa dia bukan heteroseks. tidak usah pakai tes ini itu, saya udah tahu lah. Penanganannya pasti beda dengan yang dewasa, tapi sebetulnya kan persoalannya bukan hanya di anak kecil itu saja,” ujar Baby.

“Bukan cucian kotornya yang bermasalah, tapi air kotornya yang musti dibersihin. Karena yang bayar terapi orangtua, kadang mereka sampai bilang akan bayar berapa saja, asal anaknya sembuh. Sembuh menurut siapa? Apakah Anda pikir ini adalah penyakit? Ini kan bukan penyakit. Itu kan variasi,” tegas Baby.

Sebagai seksolog yang banyak dijejali permasalah rumit orang lain, diperlukan keterampilan, ada empati, dan keberpihakan, tapi bukan keberpihakan pada yang bayar. “Kadang-kadang yang bayar adalah orangtuanya, kasihan anaknya dong. Kami berpihak pada klien kami, apa yang baik bagi kesejahteraan mental dia,” ucap Baby.

Baca juga : (Coffee roaster bukan cuma tukang seduh kopi)

Baby menambahkan, ada beberapa kasus umum yang seharusnya berkenaan dengan hal psikis namun malah dibawa ke arah medik. Contoh umumnya adalah gangguan disfungsi ereksi, atau virginity karena macam-macam alasan, atau ejakulasi dini.

“Itu sesuatu yang psikologis sebenarnya, tapi orang seringkali salah, datangnya ke medis duluan. Itu masuknya psikolog karena dia masalahnya bukan di organ, adanya di otak. Itu datangnya ke psikolog, bukan dokter medis. Kalau dokter mungkin hanya sementara ya sembuhnya. Tidak mengobati akar masalahnya, hanya mengobati gejala-gejalanya,” jelas Baby.

Baby kembali menyampaikan bahwa menjadi seorang psikolog atau seksolog perlu memiliki standar yang jelas dan tidak boleh membawa norma-norma pribadi dalam menilai persoalan klien.

“Mereka datang kan dengan stres tertentu, biasanya karena perlakuan diskriminatif. Ya, kami bantu dia untuk menghadapi diskriminatif itu dengan resource yang ada di dia, bukan resource yang ada di kami, karena kan kondisinya beda.”

Baby mengklaim orang-orang yang berkonsultasi dengannya tak hanya mengantongi berpaspor Indonesia. Dan ketika disinggung soal tarif yang dikenakan saat konsultasi Baby berujar sambil tersenyum, "Ya cukuplah." (Hilda Ilhamil Arofah)