Surveyor Tanah, Pilihan Sebelah Mata yang Penting

Senin, 2017 adminbaru
Surveyor

TOP CAREER - Surveyor tanah seolah tak pernah masuk dalam list profesi favorit dalam banyak survei di dunia tak terkecuali di Indonesia. Salah seorang surveyor tanah bercerita tentang seluk beluk profesi ini.  

Adalah Diandra Putra yang membagi kisahnya. Sudah lima tahun ia bergelut sebagai surveyor tanah di Indonesia. Dan sudah pula bisa ditebak sesuai dengan profesinya, kerjaan Diandra tentu berkaitan dengan survey tanah. Bahasa gampangnya ia menganalisis tanah.

Selama menjalani prosesi ini, ia lebih sering keluar masuk hutan. Maklum, jasa yang membutuhkannya kebanyakan terkait dengan pembukaan lahan baru untuk perkebunan. Bisa ditebak dong, ia harus rela masuk hutan yang banyak belum terjamah orang.

Kalau kamu pecinta alam, mungkin profesi ini terdengar menarik. Tapi tunggu dulu, pekerjaan ini tidak seperti hiking. Lebih dari itu para surveyor harus punya kemampuan untuk bertahan hidup di alam liar.

Baca juga : (Mekanik paling dicari di dunia penerbangan)

Tak cukup itu juga, surveyor juga harus memahami seluk adat setempat. Termasuk yang berhubungan dengan kekuatan lain diluar nalar. Mulai tertarik?

Pria berusia 28 tahun ini menyebut kekuatan diluar nalar yang dimaksudkan lebih kepada menghormati adat setempat. Semisal saat ia ditugaskan untuk menganalisis hutan di daerah Kalimantan, ia harus menjalani sejumlah ritual. Tujuannya untuk keselamatan surveyor yang bersangkutan.  

“Saat itu kami ditempatkan di rumah adat. Ketua adat ngadain ritual dengan motong babi, tuak, sama satu lagi dia ngasih jimat semacam beras. Nah nanti beras ini harus di simpan jangan sampai hilang sampai beres survei. Kalau sudah beres survei, baru terserah beras ini mau dibuang atau di simpan atau diapakan, yang jelas beras ini jangan pernah di tinggalkan selama kegiatan survey,” ucap Diandra menceritakan kepada TopCareer.id.

Itu baru satu dari sejumlah cerita menarik lainnya. Tapi yang jelas selama menjalani profesi ini, ia merasa profesi ini bukan seperti gula dan semut. Malahan ia menilai banyak rekan alumnus fakultas pertanian yang menjadi produsen surveyor lebih suka beralih profesi.

“Teman saya hampir separuhnya kerja di perbankan, jarang sekali yang mau kerja di bidang survey atau pemetaan. Padahal potensinya sangat besar. Nah, biasanya perusahaan perkebunan nyari surveyor berdasarkan pengalaman dan keahlian khusus dan kebanyakan enggak dapat-dapat.”

(Baca juga : Pertaruhan beasiswa dari keringat rakyat, yang untung siapa?

Diandra sendiri saat ini bekerja disalah satu perkebunan di Pulau Jawa. Lebih tepatnya ia menjabat sebagai Supervisor Bidang Survey Tanah dan Survey Lahan Baru di PT Great Giant Food. Dengan status ini, ia terbilang sudah lumayan punya posisi.

Umumnya bagi para surveyor yang berstatus fresh graduate, kata Diandra, kebanyakan akan dikontrak selama dua tahun untuk ditempatkan di perkebunan di luar pulau Jawa.

Lantas apa si yang dipelajari surveyor saat kuliah? Kebanyakan terkait dengan materi. Untuk praktek, Diandra mengaku mata kuliah yang dipelajari sebelumnya tidak aplikatif. Tak heran jika kebanyakan industri teriak fresh graduate  di Indonesia banyak yang tidak siap kerja. Bisa dipahami juga akhirnya jika alumnus surveyor hijrah ke bidang lainnya.

Ia mengaku banyak belajar tentang tanah saat mulai bekerja. Mulai dari menganalisis jenis tanah mineral, gambut, atau tanah rawa. Seorang surveyor juga harus bisa mengetahui spesifikasi tanah mulai dari warna tanah, tekstur tanah, struktur sampai bahan organik.

“Biasanya keahlian ini enggak bisa di dapat secara langsung.  Butuh waktu 3,5 tahun buat menjadi ahli di bidang spesifikasi tanah dan itu biasanya berdasarkan pengalaman-pengalaman ke daerah semisal Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain.”

Penting juga bagi seorang surveyor memiliki keterampilan dalam pemetaan yang nantinya berfungsi untuk memetakan daerah mana saja yang kira-kira tanahnya berbeda, di lihat dari tofografi, kemiringan lereng, geologi, peta lokasi. Dimana dengan pemetaan ini yang akan mempermudah proses di lapangan.

Oleh karena itu, untuk bidang pemetaan ini para surveyor tidak lepas dari teknologi yang harus dikuasai semacam teknologi GPS survey, theodolit, total stasion hingga pesawat drone. Di sertai dengan aplikasi khusus seperti Map Sos, Arc Gis, Quantum Gisk, Auto cad, Google Map, Google Earth dan aplikasi penunjang pembuatan peta lainnya.

Kemampuan-kemampuan itulah yang pada akhirnya diperlukan untuk bisa menganalisis lahan baru dalam hal ini lahan tidur yang belum tergarap. Hasilnya berupa prediksi potensial lahan tersebut apakah cocok untuk ditanami ataupun tidak. Kalau cocok maka lahan bisa di tanami dengan tumbuhan kelapa sawit, karet, nanas, hingga pisang.

Sehingga peran surveyor penting dalam proses pembukaan lahan baru, supaya dengan analisis tersebut bisa memangkas cost perusahaan agar tidak rugi saat melakukan ekpansi lahan.

Untuk jenjang kariernya sendiri, di perkebunan biasanya ada seorang mandor lulusan SMK pertanian atau SMK surveyor yang nantinya bisa menjadi bagian dari staf jika sudah menjabat selama 5 hingga 10 tahun. Tetapi untuk saat ini kebanyakan staf kebun datang dari mereka lulusan S-1 yang bertugas mengawasi beberapa mandor sekaligus.

Sedangkan jika ditempatkan di head office, jenjang karier dimulai dari posisi staff lalu menjadi supervisor, asissten manager dan mentok di jabatan manajer. Diandra pun menjelaskan bahwa tidak ada jabatan general manager atau direktur di bidang ini.

Karena termasuk pada industri yang sedang tumbuh dalam hal ini sektor perkebunan dan hortikultura, gaji yang di berikan pun beragam. Mulai dari mandor  yang biasanya akan di gaji kisaran Rp2,5 jutaan, staff Rp 3 juta hingga Rp4 jutaan. Sementara supervisor bisa digaji Rp5 juta sampai Rp8 juta. Dan di level atasnya assisten manager Rp9 juta sampai Rp15 juta dan jabatan paling tinggi di pegang oleh manager di gaji sekitar Rp15 juta sampai Rp20 juta.

Dengan kondisi seperti itu, menurutmu apakah surveyor bisa masuk menjadi salah satu profesi favorit? (Nur Lella)