Jalur Mainstream Menjadi Model

Selasa, 2017 adminbaru
Jalur

TOP CAREER – Bukan cuma harus mengantongi passion serta fisik yang menunjang jika ingin menjadi model profesional. Butuh perbekalan lain yang bisa didapat dari sekolah model profesional. Dari sana model bisa dibilang menempuh jalur karier secara mainstream.

Bicara sekolah, biasanya tentu terkait pendidikan. Demikian pula yang terjadi jika seseorang masuk ke sekolah model. Umumnya peserta akan dibekali dengan pengetahuan-pengetahuan modeling. Nah yang membedakan sekolah model yang satu dengan yang lain tentu bisa dilihat dari banyak faktor.

Semisal di Look School, salah satu sekolah model ternama di Indonesia, dimana pesertanya bisa memilih tipe pendidikan yang ingin dilahap. Sekolah model yang usianya sudah lebih dari satu dekade ini menerapkan pembagian kelas berdasarkan peminatan.

Keke Soeryo Renaldi, founder Look School kepada TopCareer.id  menjelaskan untuk peserta awam yang ingin mengenal modeling bisa masuk ke dalam kelas basic modeling. Di kelas ini siswa akan di latih selama tiga bulan dengan biaya sekitar Rp5,3 juta.

(Baca juga : Model standout menurut agensi model)

Tidak ada syarat khusus bagi peserta yang berminat mengikuti kelas ini. Hanya pembatasan usia yang tidak boleh di bawah 13 tahun. “Sebenarnya tidak ada seleksi. Semua bisa diterima asal tidak ada kekurangan secara fisik. Kadang umur pun tidak dipermasalahkan. Bahkan ada juga yang sudah 20 sampai 40 tahun ikut,” ujar Keke.  

Tahapan selanjutnya jika sudah mampu memahami pembelajaran di kelas basic maka beberapa peserta akan direkomendasikan oleh para tutor untuk bergabung di kelas advance. Rekomendasi itu berdasarkan beberapa faktor yang dipunya peserta, seperti kemampuan basic pose, basic walk, ekpresi, serta acting modeling.

Karena terbatas dan hanya untuk beberapa orang saja, kelas advance rata-rata diisi oleh 4 hingga 5 orang untuk 10 kali pertemuan dengan biaya Rp 5 juta setiap orangnya.  

Ana, pengajar di Look School, mengatakan peserta berkemampuan lebih di kelas advance¸ akan punya peluang bergabung dengan agensi model Look Management.

Setelah terpilih dan masuk ke agensi tersebut, model ini akan di kontrak oleh Look Management selama 1 tahun untuk masa percobaan. Jika prospek si model bagus, maka akan diperpanjang selama 3 tahun berikutnya.  

(Baca juga : Perbedaan ngurus sosmed di agensi dan portal berita)

Selanjutnya  booker-lah yang  mengemban tugas untuk menjual dan mempromosikan para model baik untuk acting, runwayatau foto produk.

Berdasarkan pengalaman, kata Ana, model yang banyak dipakai rata-rata adalah mereka yang memiliki grade tinggi masing-masing di kalangan agensi. Ada yang termasuk dalam grade A, yakni model yang punya postur tinggi 175 cm, dan walking-nya bagus. Model ini biasanya paling sering di booking oleh beberapa event sehingga rate-nya paling mahal. Sedangkan untuk grade B kebanyakan model yang memiliki tinggi 172 cm dan berwajah photogenic.

Model dengan grade A menurut Ana biasanya akan di bandrol dengan harga Rp2 jutaan untuk sekali event. Sementara model bule di bandrol lebih mahal dikisaran Rp4 juta. Sedangkan untuk harga grade B dirinya belum mengetahui secara rinci karena bukan termasuk bagian dari Look Management.

 

Perjuangan Model Profesional

Lantas bagaimana seorang model layak disebut profesional? Untuk hal itu Keke punya pendapatnya. Sebagai mantan model profesional, menurut Keke, model yang masuk kategori itu salah satunya dilihat dari proses audisi yang mereka jalani dalam mengikuti satu event.

Semisal mengikuti kelas casting atau audisi seperti pada pagelaran Indonesia Fashion Week (IFW), Jakarta Fashion Week (JFW) atau art audisi show tunggal. Yang rata-rata akan memakan waktu 6 bulan sampai 1 tahun untuk proses audisinya.

“Tidak gampang, setelah ikut audisi itu kalau mereka keterima mereka bisa show, ikut pemotretan juga. Itu biasanya dari 1 tahun sampai 2 tahun baru benar-benar bisa menjadi model yang bisa di bilang profesional.”  

Persyaratan yang diperlukan oleh para model untuk mengikuti audisi ini biasanya model harus membawa dokumen berupa composite dan portofolio. Composite terdiri dari dua foto yang digabungkan menjadi satu, dimana ada foto full body dan foto close up dari sinilah para klien akan melihat apakah model tersebut memiliki tulang pipi yang bagus, senyum yang bagus juga kulit yang terawat.

Sedangkan portofolio berupa buku kumpulan foto-foto dari model tersebut, yang di ambil dari foto-foto majalah yang telah di lakukan oleh si model. Tapi apabila seorang model belum pernah mengikuti pemotretan, dirinya bisa melakukan secara pribadi dengan fotografernya masing-masing.

Saat proses audisi berlangsung,  model harus bisa berkomunikasi dengan baik dengan cara menjual atau mempromosikan diri sendiri  kepada klien dalam hal ini desainer. Mereka harus mempunyai wawasan yang luas terkait profil desainer, produknya, gaya fesyennya serta cara membawakan baju yang akan dipakai. 

Setelah itu akan dikumpulkan 100 model untuk berjalan di depan para juri yang terdiri dari 2 hingga 4 orang dari kalangan make up artist, koreografer, desainer ataupun pihak klien.

Umumnya di audisi ini, para model akan mengenakan celana pendek dengan atasan tank top hitam dan high heels setinggi 15 cm. Ini dilakukan untuk melihat jenjang kaki dari para model. Karena menurut Keke seorang model yang bagus, lazimnya akan terlihat kakinya lebih panjang daripada badannya.

Tentunya saat audisi berlangsung si model harus terlihat prima dengan muka yang fresh, kulit yang sehat, dan ekspresinya yang bagus. Model harus berjalan dengan confidence untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki karakter yang kuat. Tidak boleh grogi ataupun berjalan dengan membungkuk ini salah satu hal yang dapat membuatnya gagal terpilih. (NL)