Membual Lewat Multitasking

Kamis, 2017 adminbaru
Membual

TOP CAREER Multitasking mungkin menjadi salah satu senjata yang bisa dibanggakan oleh seorang profesional. Dan memang benar penelitian membuktikan hanya ada dua persen populasi manusia di dunia yang mampu melakukannya dengan baik. Ya hanya dua persen. Selebihnya mungkin tak sadar kalau mereka sedang MEMBUAL.

Tak usah jauh-jauh, coba perhatikan lingkungan kerja sekitar kamu. Berapa banyak rekan atau bahkan kamu sendiri yang merasa sanggup mengerjakan berbagai tugas dalam waktu bersamaan. Istilah lazimnya dikenal dengan multitasking. Tapi pada akhirnya sering kali orang yang bersangkutan mendapati hasil terkait itu tidak maksimal, ngaret, bahkan fatalnya malah berantakan.

Tak heran jika lantas multitasking menjadi satu kemampuan yang banyak dicari perusahaan. Salah satu alasannya tentu karena efisiensi. Bisa mengerjakan banyak tugas dengan satu bayaran. Hehehe...

Kembali ke multitasking personal, jika menemukan ada orang yang sering kali mengklaim punya kemampuan tersebut, kamu patut mempertanyakannya. Apakah ia sedang membual atau tidak. Atau jangan-jangan malah kamu sendiri yang sering membual terkait itu.

Penelitian dari University of Utah mengungkapkan fakta di atas yakni bahwa hanya 2,5 persen dari populasi mampu melakukan beberapa hal dalam waktu yang bersamaan dengan baik. Mereka menyebut orang-orang luar biasa tersebut dengan istilah supertasker.

"Menurut teori kognitif, individu-individu ini tidak seharusnya ada," kata Jason Watson salah satu peneliti tersebut seperti dikutip dari laman resmi University of Utah. "Namun, dengan jelas mereka [supertasker] melakukannya [multitasking], jadi kami menggunakan istilah supertasker sebagai cara yang nyaman untuk menggambarkan kemampuan multitasking mereka yang luar biasa."

Pada dasarnya otak manusia tidak tercipta untuk multitasking. Umumnya yang ada ketika manusia melakukan banyak hal secara bersamaan adalah beralih dari suatu tugas ke tugas yang lain, dengan panik.

Jauh sebelumnya, pada 2005, sekelompok peneliti dari the Institute of Psychiatry dari the University of London menyatakan bahwa melakukan multitasking dapat mempengaruhi tingkat Intellegence Quotient (IQ) mereka.

Dalam studi mereka untuk Hewlett Packard, para peneliti tersebut menyatakan bahwa para pekerja yang perhatiannya terpecah karena email dan telepon yang masuk mengalami penurunan IQ hingga 10 poin. Penurunan itu sama dengan yang terjadi pada mereka yang tidak tidur semalaman dan lebih tinggi dua kali dibandingkan mereka yang sedang mengisap mariyuana, demikian seperti dikutip dari BBC.

Parahnya, lebih dari 50 persen responden studi tersebut, yang berjumlah 1.100 responden, mengatakan mereka merespons email yang masuk dengan segera. Sebanyak 21 persennya mengaku bahwa mereka bahkan melakukan interupsi pada sebuah rapat untuk merespons email tersebut. Situasi yang disebut oleh para peneliti itu dengan istilah "infomania".

Yang lebih menyedihkan lagi, semakin sering kita menghabiskan waktu dengan multitasking, semakin susah pula kita untuk berkonsentrasi pada satu tugas yang bersifat intelektual, seperti membaca sebuah buku pelajaran. Demikian menurut sebuah laporan oleh peneliti AS dalam jurnal Cyberpsychology and Behaviour, seperti dikutip dari Dailymail.

"Ada biaya yang harus ditanggung akibat dari perubahan yang terjadi pada masyarakat kita. Manusia tidak tercipta untuk bekerja dengan cara ini [multitasking]," kata Profesor Russell Poldrack, seorang psikolog di University of California. "Kita benar-benar diciptakan untuk fokus."

Studi yang dilakukan oleh sejumlah peneliti dari University of Stanford membenarkan hal itu. Dalam penelitian mereka, orang yang sering memproses banyak informasi elektronik pada waktu yang bersamaan memiliki konsentrasi, kemampuan mengingat serta kecepatan berpindah dari satu tugas ke tugas yang lain lebih buruk dibandingkan mereka yang melakukannya lebih sedikit.

"Mereka tidak bisa menolak untuk memikirkan tugas yang tidak mereka lakukan," kata Eyal Ophir, seorang peneliti dari University of Stanford. "Mereka yang sering melakukan multitasking selalu menarik diri dari semua informasi di depan mereka. Mereka tidak bisa menjaga hal-hal tetap terpisah di pikiran mereka."

Dengan segala macam pembuktian dari penelitian di atas jelaslah bahwa supertasker adalah orang-orang tertentu yang memiliki bakat khusus. Mereka yang tidak tercipta demikian dan memaksakan diri untuk melakukan multitasking pada akhirnya hanya akan melelahkan dirinya sendiri, sebab berpindah pada satu tugas ke tugas yang lain merupakan hal yang sangat melelahkan.

Efek dari tidak bisa tiap orang untuk multitasking berimbas pada ketidaktepatan perealisasian target. Gampangnya dikenal dengan istilah ngaret.

Salah satu alasan kuat mengapa manusia suka terlambat adalah karena mereka seringkali gagal memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan pola pikir seperti ini ada sebanyak 40 persen.

Sebuah studi pada 2003 yang dilakukan oleh Jeff Conte dari San Diego State University Amerika Serikat menemukan bahwa sebanyak 181 operator subway di New York yang kebanyakan melakukan banyak pekerjaan di satu waktu seringkali terlambat menyelesaikan tugasnya. Hal ini dikarenakan multitasking akan menyusahkan seseorang untuk bisa fokus pada pekerjaannya.

Menariknya, ternyata kebiasaan terlambat ini juga melibatkan komponen-komponen psikologis seseorang. Sebuah studi yang dilakukan oleh Diana DeLonzor dari San Francisco State University pada sekitar 1990-an menguji kebiasaan terlambat dengan karakter seseorang, mulai dari rasa waswas, kontrol diri, dan tendensi. Dari penelitiannya, DeLonzor mengklasifikasikan tujuh tipe tukang ngaret, dua di antaranya adalah "Si Deadliners" dan "Si Produser".

"Yang kutemukan adalah beberapa orang terpicu adrenalinnya ketika sudah hampir mencapai batas waktu. Mereka terdorong untuk memotivasi diri mereka tanpa mengingat deadline-nya. Ketika mereka sadar bahwa mereka mungkin tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu, hal ini justru memicu mereka untuk segera menyelesaikannya," kata DeLonzor seperti ditulis Huffingtonpost.

Lalu untuk kategori kedua adalah mereka yang menganggap bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan: olah raga, membersihkan rumah, mencuci baju, mandi, dan mengantarkan anak ke sekolah dalam waktu satu jam.

"Banyak orang yang terlambat termasuk optimistis dan tidak realistis dan hal ini mempengaruhi persepsi mereka terhadap waktu," ujar DeLonzor.

Penelitian serupa kemudian juga dilakukan oleh Jeff Conte pada 2001. Dalam eksperimennya ia membagi dua kelompok orang berdasarkan kepribadiannya, yakni Tipe A dengan kepribadian ambisius dan kompetitif, dan Tipe B dengan kepribadian yang lebih santai, kreatif, dan eksploratif. Mereka diminta untuk menebak, tanpa melihat jam, berapa lama satu menit berlalu. Hasilnya, Tipe A merasa satu menit sudah berlalu ketika waktu sudah berlalu selama 58 detik. Sementara itu Tipe B menebaknya ketika waktu sudah berlalu selama 77 detik. 

Sebagian dari kita mungkin kesal bila ada seorang kawan yang datang terlambat, sementara kita dibiarkan menunggu. Namun, menurut DeLonzor sebenarnya para pelaku ngaret juga tidak suka terlambat.

"Keterlambatan adalah sebuah masalah kesalahpahaman," katanya. "Berdasarkan orang-orang yang kuwawancarai, kebanyakan dari mereka yang memang ngaret kronis sebenarnya tidak suka terlambat. Mereka berusaha untuk tepat waktu dan ini sudah menjadi masalah dalam hidup mereka," lanjutnya. 

Meski begitu, menurut DeLonzor kebiasaan terlambat ini bisa diubah dengan beberapa cara. Pertama, dengan mengevaluasi berapa waktu yang biasanya dibutuhkan untuk menyelesaikan satu rutinitas. Kedua, ubah pola pikir, tidak hanya perilaku. Serta ubah jadwal keseharian. Salah seorang profesor dari Oklahoma State University Teri Bordeau menyarankan hal ini, yakni mengubah pola aktivitas sehari-hari dengan mengategorikannya. (YP)