Koordinat Cerah Mekanik Helikopter

Kamis, 2017 adminbaru
Koordinat

TOP CAREER - Industri penerbangan tak melulu identik dengan pilot serta pramugari jelita. Para engineer yang mengurusi kelangsungan pesawat atau helikopter atau juga dikenal dengan panggilan dengan LAME (License Aircraft Maintenance Engineer), nyatanya kini malah menjadi primadona rebutan di banyak perusahaan burung besi. 

Maraknya pertumbuhan bisnis penerbangan di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia, serta merta membuat permintaan akan tenaga kerja, terutama untuk posisi krusial seperti engineer yang mengurusi pesawat kian terdongkrak. Sayang peluang tersebut tak dibarengi dengan lancar pasokan engineer-nya. Padahal di lapangan tak sedikit lulusan teknik yang masih bimbang menentukan koordinat kariernya.

Baca juga (Intip kerjaan program director radio)

M. Farouq Darmanto, Chief Engineer Rotary Wing PT Travira Air, mengaku kepada TopCareer.id beberapa waktu lalu kalau dirinya termasuk yang sempat tak terpikirkan berkarier di industri penerbangan. Sebelumnya, alumnus Politeknik Manufaktur Bandung ini menjalani karier sebagai engineer di industri migas. Lantaran ingin mencoba tantangan baru, Farouq pun memberanikan diri untuk menjajal karier di Travira Air, yang tak lain merupakan pemain di bisnis penyewaan pesawat dan helikopter. Posisi pertama yang diembannya saat itu sebagai trainee mechanic.

Lantaran berbekal latar belakang pendidikan Farouq yang bukan spesialisasi engineer di industri penerbangan atau biasa dikenal dengan sebutan LAME, ia harus menjalani serangkaian pelatihan terkait.

Baca juga (Lantaran hal ini, perusahaan malas terima IT Indonesia)

Farouq menuturkan karier di profesi ini sebenarnya sangat terbuka bagi siapa saja yang memiliki ketertarikan di industri penerbangan dan memiliki skill engineering yang baik. Pria yang bakal memiliki momongan kedua ini kemudian lebih memilih mendalami pelatihan untuk jenis rotary wing atau lebih dikenal dengan jenis helikopter. Beragam pelatihan dijalaninya, guna memahami seluk beluk rotary wing yang dimiliki Travira Air.

Farouq mengatakan pelatihan untuk satu jenis rotary wing bisa beragam. Karenanya, si engineer dituntut memiliki kemauan terus belajar guna mengimbangi, bahkan mendahului perkembangan teknologi rotary wing yang terus berjalan. Pelatihan dari dalam dan luar negeri negeri pun menjadi makanan Farouq, demi mendongkrak kompetensi di bidangnya. Pelatihan tersebut antara lain diberikan langsung oleh si produsen rotary wing terkait atau dengan mendatangkan tenaga pengajar langsung yang sangat kompeten di bidangnya.

Perjalanan karier Farouq sebagai engineer di Travira Air terus menanjak, seiring dengan kinerjanya yang apik, serta bekal kompetensinya yang terus terasah. Setelah menjabat sebagai Trainee Mechanic, karier Farouq meningkat menjadi engineer, senior engineer, lead engineer, assistant chief engineer rotary wing¸hingga saat ini menjabat sebagai chief engineer rotary wing.

Saat ini untuk terjun langsung menjadi engineer rotary wing, cara terbaik, peminat merupakan lulusan dari AMTO (Aircraft Maintenance Training Organisation), yang tersedia di beberapa sekolah di Indonesia, seperti STPI (Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia) Curug, Universitas Nurtanio Bandung, ataupun ATKP (Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan) Surabaya. 

Di sekolah-sekolah itu, calon-calon engineer ini akan dididik selama 18 bulan dan setelah itu baru mendapatkan basic license. Walaupun tidak tertutup kemungkinan lulusan dari universitas non-AMTO bisa meniti karier menjadi LAME dengan menjalani pelatihan yang sudah ditetapkan.

Lantas, bagaimana kerja dari engineer rotary wing sendiri? Secara singkat Farouq menjelaskan tugas engineer rotary wing, antara lain me-maintance helikopter sesuai prosedur guna memastikannya layak untuk terbang. Tapi tak setiap engineer rotary wing bisa melakukan itu untuk semua helikopter. Tugas tiap engineer berbeda, sesuai dengan latar belakang pendidikan yang dikantongi. Artinya, jika si engineer tidak memiliki latar belakang pendidikan untuk helikopter terkait maka engineer tersebut “haram” hukumnya untuk me-release maintance helikopter tersebut. 

Pada umumnya,Engineer  Rotary Wing sebelumnya harus mempunyai suatu lisensi yang disebut dengan rating. Rating ini sangat penting dimiliki oleh LAME karena hanya seorang LAME yang mempunyai rating dan otorisasi perusahaan yang bisa me-release maintenance sebuah pesawat. Rating seorang LAME bisa didapatkan dengan mengikuti basic license secara umum, kemudian dia bisa mendapatkan rating yang lebih spesifik lagi untuk suatu tipe helikopter.

“Syarat yang paling dibutuhkan untuk mendapatkan rating adalah harus memenuhi pengalaman dan persyaratan yang ditetapkan. Selama melakukan pengalaman itu, seorang LAME akan diawasi oleh LAME yang lebih senior lagi untuk menilai sejauhmana ia layak untuk mendapatkan rating dan lulus ujian type rating yang diadakan oleh DKUPPU(Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara),” kata Farouq.

“Setelah mereka mengantongi lisensi engineer pesawat, mereka nantinya dituntut untuk tidak hanya mengetahui soal mesin pesawat saja, melainkan dia juga harus menguasai sistem yang ada di pesawat sehingga ketika pilot mengalami masalah di udara, engineer pun langsung bisa mengatasinya setelah pesawat kembali landing.”

Secara umum jika dibandingkan pesawat fixed wing, perawatan rotary wing dinilai Farouq relatif lebih kompleks. Lantaran itu pula, para engineer terkait terus dituntut untuk memahami perkembangan dari teknologi helikopter. Seperti yang sudah disampaikan diatas, pelatihan-pelatihan menjadi makanan wajib yang harus ditelan para engineer.

Tak bermaksud membanding-bandingkan kelebihan antarindustri, Farouq merasakan kenyamanan serta tantangan berlebih ketika dirinya meniti karier sebagai engineer di perusahaan penerbangan. Baginya, peraturan yang dianut Travira Air sangat ketat.

“Di dunia penerbangan,saya merasa ketika bekerja saya dilindungi dan aman. Di posisi saya, dengan diberlakukannya zero tolerance terhadap kesalahan, maka membuat setiap orang berlomba-lomba untuk bekerja dengan baik dan sempurna,”ujarnya.

Selain mengusung profesionalisme yang tinggi, perusahaan tempatnya bekerja ini juga memberlakukan pendekatan manusiawi. Salah satu implementasi dari pendekatan itu, antara lain perusahaan tidak memeras habis-habisan tenaga para LAME demi menjaga kualitas kerjanya. LAME di Travira Air diusahakan tidak bekerja lembur. Selain itu, setiap LAME juga akan dilihat dari berbagai faktor seperti kondisi emosionalnya.

“Apakah dia nyaman dengan pekerjaan yang dia lakukan, atau apakah dia sedang menghadapi suatu masalah atau tidak. Semua engineer di Travira Air benar-benar dijaga kondisi emosionalnya, agar mereka tidak melakukan kesalahan yang disebabkan karena human error. Kami sangat memperhatikan sekali kondisi engineer di Travira Air dan sampai saat ini pun tidak pernah ada engineer yang melakukan kesalahan fatal karena human error.”

Baginya, bekerja merawat helikopter itu membutuhkan suatu konsentrasi penuh, bukan hanya sekedar merawat secara fisik, tetapi benar-benar dilihat alurnya sampai tuntas (baik secara fisik, maupun dokumentasi). 

Selain itu, mempunyai self belonging dari helikopter yang bersangkutan merupakan modal penting untuk menjadi engineer yang andal.  Dia menyadari sampai saat ini profesi engineer rotary wing masih dilihat sebelah mata oleh masyarakat, masih kalah bergengsi dengan pilot.

Padahal jika engineer tersebut memiliki kompetensi mumpuni, yang bersangkutan bakal menjadi madu di sarang lebah. Terlebih dengan kondisi yang ada saat ini di mana pasokan engineer, baik secara nasional dan global, masih jauh dari kata cukup. (Yuda Prihantoro)