Realitas Kondisi Tenaga IT di Indonesia

Jumat, 2017 adminbaru
Realitas

TOP CAREERPerkembangan teknologi di Indonesia yang kini bergerak semakin cepat, perlu dibarengi dengan tenaga bidang Information Technology  (IT) yang mumpuni. Kebutuhan akan tenaga IT profesional perlu dihadirkan agar pertumbuhan teknologi di Indonesia bisa diatur ke arah yang lebih produktif, bukan teknologi konsumtif.

Sebut saja India, yang dari segi sumber daya manusia (SDM) IT-nya bisa dibilang mumpuni. Indikasinya ya bisa dilihat dari banyaknya IT berpaspor India yang berkarier di ragam tempat termasuk Indonesia hingga Silicon Valley. Jika dibandingkan Indonesia, naif tentunya jika disebut sepadan.

Manager Technology and Digital Michael Page, Imeiniar Chandra pun setuju bahwa India memang beberapa langkah lebih maju daripada Indonesia dalam hal perkembangan teknologi, termasuk dari sisi SDM. Menurut hitungan populasi pekerja saja, kata Imeiniar, Indonesia sudah kalah jumlah dibanding India.

Baca juga ; (Mengungkap rahasia Jobstreet dan JobsDB)

“Karena negara mereka dari dulu IT itu sudah di-encourage sejak masih muda. Kalau di India, kebanyakan mereka lulusan dari engineer background, atau kedokteran. Sementara, kalau di Indonesia lebih banyak ke bisnis, marketing, sales. Nah, makanya baru banget 2-3 tahun terakhir anak-anak kuliah ngambil IT lagi, computer scient,” papar Imeiniar kepada TopCareer.id.

Imeiniar mengaku bahwa ketersediaan tenaga IT berkualitas di Indonesia masih rendah sehingga tidak searah dengan permintaan pasar yang perkembangannya melaju pesat. Salah satu tenaga IT yang kini sangat dibutuhkan oleh industri adalah developer, mulai dari developer mobile, android, juga website.

Developer itu mereka prefer untuk kerja freelance. Padahal tenaga ini punya demand yang tinggi. Second, ada product manager. Pekerjaan ini masih jarang karena product manager adalah suatu title yang baru ada 3 tahun belakangan ini.”

Baca juga : (Manajemen band ini beritahu rahasia pengelolaan band)

Di tengah kondisi tenaga IT Indonesia yang masih serba kurang itu, Imeiniar percaya Indonesia tetap bisa bersaing dengan negara lain yang memang beberapa langkah lebih maju dalam hal teknologi. Saat ini, kata dia, tenaga IT tak hanya dilihat sebagai support office saja di tiap perusahaan, melainkan bisa menjadi profesi yang memiliki prospek besar ke depannya.

“Bisa sih, tapi bukan sekarang. Mungkin tiga tahun ke depan kita akan menjadi seperti mereka. Di Indonesia ada beberapa engineer yang bagus, salah satunya berasal dari Yogyakarta, atau di Bandung kan juga sudah banyak dan enggak harus di Jakarta. Dan secara technical skill mereka juga lebih bagus,” jelas dia.

Imeiniar membeberkan, agar bisa menyusul ketertinggalan, Indonesia bisa memulainya dari edukasi teknologi atau pengadaan kursus yang memang mampu mendorong SDM Indonesia mengarah ke pemahaman teknologi secara dalam.

Ia menilai, edukasi itu juga bisa dilakukan dari universitas-universitas. Bahkan, untuk peningkatan tenaga IT di suatu perusahaan, maka perusahaan itu bisa bekerja sama dengan training center untuk melatih keahlian khusus yang orang IT butuhkan.

“Biasanya dari edukasi mereka juga, sih. Secara universitas, ada apa enggak courses yang akan supply computer scient, matematika. Dan kebanyakan tuh beberapa start up di Indonesia sudah mulai bekerja sama dengan universitas, memberikan program magang selama 1-2 bulan baru mulai bekerja. Tapi sepertinya itu agak terlalu telat karena itu baru mulai sekitar 1 sampai 2 tahun yang lalu,” ujar Imeiniar.

Ia menambahkan, beberapa universitas bahkan mulai menawarkan online class untuk profesional. Jadi jika dimungkinkan ada yang mau belajar tentang digital marketing, atau coding, ketika mereka sibuk mereka bisa lewat online.

Sementara itu, kendala lain yang menyebabkan tenaga IT di Indonesia belum bisa memenuhi kebutuhan pasar adalah kemampuan nontechnical skill yang masih minim, seperti melakukan komunikasi dengan bahasa Inggris. Selain nontechnical skill, tenaga IT Indonesia bisa diandalkan, tergantung kebutuhannya.

“Sayangnya karena banyak perusahaan luar yang mau investasi di Indonesia, jadi ada banyak communication barier di mana orang Indonesia secara Inggrisnya tidak bisa komunikasi. Jadi salah satu yang mau aku encourage karyawan adalah cobalah bahasa Inggris, belajar leadership, atau communication skill.”

Kualifikasi Tenaga IT yang Dibutuhkan Industri

Kebutuhan industri akan tenaga IT memang berbeda-beda di tiap perusahaan. Namun, tentunya ada kualifikasi umum yang minimal dimiliki kandidat agar bisa dilirik perusahaan, terlepas dari kemampuan technical.

Biasanya, perusahaan merekrut tenaga technical berasal dari lulusan IT, computer science, matematika, statistika, atau data science. Sementara, untuk kemampuan nontechnical akan lebih menilai personalitas kandidat, seperti kemampuan kerja sama tim, mau belajar banyak, juga kontribusi yang pernah dilakukan pada pekerjaan sebelumnya.

“Jadi, kalau bisa campur orangtechnical dengan personality yang cocok, will be really good. Tapi biasanya yang jadi challange, orang technical itu communication skill-nya kurang. Jadi balik lagi, perusahaannya mau enggak ngerekrut orang-orang yang mungkin aja komunikasinya kurang, tetapi mau belajar, mau dilatih,” ucap Imeiniar.

Biasanya, kata dia, penyaringan terkait technical skill datang dari perusahaan langsung karena tiap perusahaan berbeda-beda IT skill set-nya. Sementara, Michael Page sendiri akan membantu mengarahkan test online sesuai dengan platform yang diberikan perusahaan, serta test yang sifatnya nontechnical.

Lalu, jika ingin memilih antara tenaga IT luar negeri dan dalam negeri dari segi technical skill, Imeiniar menjawab bahwa tenaga IT di tiap negara itu punya plus minusnya masing-masing. Untuk kebutuhan pasar Indonesia, Imeiniar lebih merekomendasikan tenaga IT Indonesia, bukan orang luar.

“Biasanya kalau lulusan luar negeri Inggrisnya bagus. Jadi, memang untuk technical ini enggak mesti lulusan luar negeri. Karena sebenarnya universitas di sini sudah bagus-bagus kok, bahkan beberapa lebih bagus dari yang di luar negeri,” ucap dia.

Kalaupun perusahaan Indonesia mengharuskan merekrut tenaga asing, hal itu karena kebutuhan akan tenaga IT yang sangat jarang di Indonesia. Bahkan tidak ada sebelumnya. Imeiniar mencontohkan, seperti data modelling yang memang bidang itu masih sangat baru di Indonesia.

“Pernah ada, orang luar punya technical skill yang khusus dan di Indonesia sendiri belum ada yang melakukannya. Lalu perusahaan ini ingin menjadi yang pertama, jadi benar-benar technical skill di Indonesia belum ada yang sukses melakukan itu,” imbuh dia.

Biasanya, kata Imeiniar, tenaga IT Indonesia lebih berorientasi pada kontribusi yang akan diberikan pada perusahaan, bukan pada uang. Imeiniar menilai, tenaga IT Indonesia mementingkan produk apa yang bisa diciptakan, serta lingkungan bekerja.

“Kalau orang sales ya mereka pasti nyarinya uang. Kalau orang IT mereka biasanya lihat cocok enggak bosnya, bisa belajar lebih banyak apa enggak. Kontribusi apa yang bisa diberikan untuk perusahaan, produk apa yang bisa diciptakan untuk membangun masyarakat. Mereka lebih ke sana mindset-nya.”

Tiga tahun terakhir, lanjut Imeiniar, tenaga IT gajinya sudah mulai dinaikkan karena sudah banyak yang investasi, sedangkan talent-nya tidak banyak. “Jadi balik lagi ke supply demand-nya seperti apa. Supply tenaga IT yang berkualitas itu masih dikit.” (Hilda Ilhamil Arofah)