Peluang Bekerja di Qatar Makin Lebar

Kamis, 2017 adminbaru
Peluang

TOP CAREER – Qatar dikenal sebagai salah satu negara yang superkaya. Salah satu faktor penunjangnya, yakni ditopang industri oil and gas yang kian berkembang. Bahkan, lantaran majunya industri oil and gas itu, Qatar banyak mempekerjakan profesional dari luar negeri, salah satunya Indonesia. Begitu pula di sektor lainnya yang banyak mempekerjakan profesional Indonesia.

Sekitar 1.500 profesional Indonesia saat ini bekerja pada bidang oil and gas di Qatar. Bahkan peluang itu masih bisa terbuka lebih lebar lagi, melihat Qatar yang saat ini masih fokus pada sektor tersebut. Malah tak menutup kemungkinan tenaga kerja Indonesia bisa berkesempatan berkarier di Qatar pada sektor lain.

Menurut Agri Sumara, diaspora Qatar yang kini bekerja di Qatargas sebagai LNG Process Onshore Operation, permintaan tenaga profesional Indonesia untuk ditempatkan di Qatar sangat tinggi. Namun, hal itu tak bisa terpenuhi karena kekurangan supply profesional di bidang oil and gas.

“Hal itu karena berkurangnya industri-industri baru atau pabrik baru (oil and gas) di Indonesia selama mungkin 15 tahun ini sehingga kader itu sudah berkurang. Pasar kami agak lemah sekarang. Padahal di sana (Qatar) permintaan cukup tinggi untuk profesional,” jelas Agri Sumara kepada TopCareer.id.

Seharusnya, kata Agri, melalui pabrik-pabrik oil and gas di Indonesia itu, para pekerja bisa mengembangkan kariernya di Indonesia. Setelah berpengalaman dan terbilang profesional, baru kemudian bisa go global sampai ke Qatar.

Baca juga : (Masih memandang kurator museum sebelah mata?)

“Maksudnya pemerintah Indonesia membangun lagi pabrik-pabrik baru agar ada penerimaan pegawai baru, ada didikan-didikan baru, di mana mereka nanti bisa bersaing lagi ke luar setelah lima tahun. Setelah punya pengalaman, jadi terbuka lebar peluangnya. Profesional Indonesia itu tidak diragukan keahliannya. Lima tahun sudah bisa ke Qatar,” papar Agri.

Sementara pemerintah mengembangkan pabrik-pabrik oil and gas untuk memperoleh regenerasi profesional, di sisi lain para diaspora di Qatar turut berupaya menciptakan image pekerja yang bertanggung jawab dan benar-benar ahli.

“Jadi, kami di sana itu kan sudah memberi contoh bekerja yang baik sehingga kami mendapat pasar. Profesional Indonesia di Qatar terkenal dengan disiplin, rajin sehingga berkembang. Kami kan bersaing di sana, selama unggul ya kami tetap dipilih,” kata pria yang sudah bekerja di Qatar selama 21 tahun itu.

Baca juga : (Ternyata barista punya karier loh)

Ia menambahkan, bahkan selain sektor oil and gas yang sudah pasti membuka peluang untuk berkarier di Qatar, sektor lain yang kini juga tengah merambah naik adalah hospitality. Menurut Agri, kini banyak orang Indonesia yang bekerja di Qatar menjadi chef profesional.

“Sekarang kira-kira ada 30.000 warga negara Indonesia di Qatar. Dan bidang-bidang seperti perhotelan, jasa, restoran, patisserie juga sedang berkembang. Di Qatar banyak chef-nya, chef dari Bali. Mungkin enggak disadari bahwa Bali itu central tourism dunia, bukan hanya Indonesia. Sehingga tenaga-tenaga hospitality di bidang tourism ini andal,” ujar Agri.

Agri sendiri menilai, di era globalisasi seperti ini, para profesional Indonesia dari berbagai bidang perlu dimunculkan di kancah dunia. Dari situ nantinya banyak keuntungan yang didapat bagi tenaga profesional sendiri, dan juga untuk pembangunan Indonesia.

“Jadi, semua profesi juga bisa membuka diplomasi, disebut dengan soft empower diplomasi. Dan itu bisa melalui budaya, atau dengan contoh-contoh disiplin kami, ramah tamah. Itu semua bisa jadi promosi untuk meningkatkan hubungan, nantinya malah meningkatkan ekonomi antara negara, juga investasi,” tutur Agri.

Ketika ditanya soal kontribusi diaspora yang diberikan untuk negeri, Agri menjawab bahwa berkontribusi itu bukan hanya membangun secara fisik di dalam negeri saja. Namun, kata dia, membangun Sumber Daya Manusia (SDM) profesional dan go global juga dianggap sebagai kontribusi membangun Indonesia. Apalagi jika dikaitkan dengan generasi di masa mendatang.

Baca juga ; (Intip kerjaan program director di radio)

Ia kembali menegaskan betapa pentingnya peran diaspora dalam membangun Indonesia. Menurut Agri, dari segi keuntungan financial yang diperoleh saja terbilang jadi sumbangan yang cukup besar. Dan yang terpenting adalah penyambung networking.

“Jadi, kalau misalnya nanti di negara-negara tertentu ingin mengetahui Indonesia, bisa dimulai perkenalannya dari diaspora yang ada di luar negeri. Kami diaspora itu the uniq ambassador. Artinya diaspora di seluruh dunia ini bisa menjembatani. Jadi, tidak perlu studi banding, tidak perlu biaya besar.”

Qatar Rasa Indonesia

Hidup jauh dari negeri asal, bukan berarti adaptasi jadi hambatan yang terjal. Terlebih di Qatar yang memang penduduk aslinya lebih sedikit daripada ekspatriat. Agri mengaku bahwa tak ada kesulitan yang berarti selama bekerja di Qatar, termasuk soal adaptasi.

Menurut dia, karena tujuannya adalah bekerja tentu suasana serta komunikasi yang terbangun seputar pekerjaan, hal-hal teknis yang sebenarnya sama saja seperti di Indonesia. Bahkan, lingkungan yang mayoritas muslim di Qatar juga membuat Agri merasa seperti di Indonesia.

“Kendala enggak ada. Kami kan dididik juga di Indonesia dengan bahasa-bahasa teknis, dan bidang kerja masing-masing. Kemudian di Qatar juga kan bercampur berbagai bangsa, sementara kita kan bercampur berbagai etnik di Indonesia sehingga perbedaan itu sudah biasa menurut kami,” ujar Agri.

“Bahkan, di Qatar itu ada satu komplek atau perumahan hampir 400 keluarga Indonesia sehingga kami tidak lagi merasa di luar negeri. Segala macam makanan Indonesia ada, ya masing-masing punya kreasi. Di rumah-rumah ada yang jual makanan Indonesia.”

Banyak diaspora profesional Indonesia yang membawa keluarga untuk tinggal di Qatar. Dan yang memiliki anak akan disekolahkan dengan pendidikan berbahasa Inggris tentunya. Kemudian setiap tahunnya diizinkan pulang ke Indonesia untuk bertemu sanak saudara.  

“Pendidikannya di sana sampai lulus SMA dan itu ditanggung oleh perusahaan. Setelah itu, kuliah umumnya ada yang di luar ada yang ke Indonesia. Alhamdulillah enggak repot mikir biaya sekolah. Yang dibiayain perusahaan itu rumah, fasilitas kesehatan, insurance, cuti, tunjangan hari tua. Itu semua fasilitas standar industri oil dan gas,” tutup Agri. (Hilda Ilhamil Arofah)