Jalur Sekolah Wujudkan Mimpi Jadi Pramugari Hingga 80 Persen

Jumat, 2017 adminbaru
Jalur

TOP CAREER – Imej menawan serta keuntungan menyenangkan seolah membuat profesi sebagai pramugari kerap kali menjadi impian bagi banyak perempuan. Jalur lembaga pendidikan pun menjadi salah satu jalan alternatif menuju mimpi itu. Bahkan keberhasilan sekolah pramugari mengirim alumnusnya terjun ke industri bisa mencapai 80 persen.

Kontribusi lembaga pendidikan pramugari seakan menjadi mata air segar bagi industri penerbangan yang kini tengah berkembang. Mulai dari pembangunan bandara di berbagai daerah, hingga peningkatan statusnya yang semula nasional menjadi internasional. Hal itu tentu tak bisa lepas dari  kebutuhan awak-awak penerbangan, seperti pramugari.

Di sekolah pramugari, para murid tentu akan lebih banyak diarahkan kepada materi sesuai kualitas standar airlines yang menjadi kebutuhan. Bahkan, kebanyakan materi tidak jauh berbeda dengan training center profesi pramugari di airlines yang menjadi syarat memperoleh license sebagai flight attendant (pramugari).

Founder sekolah pramugari Metro Airline School (Metschool), Yosh R. Lukman menyampaikan bahwa sekitar 70 persen materi yang diberikan di training center  tiap maskapai sama dengan materi yang diberikan saat di sekolah. Karena memang arahnya untuk meluluskan calon-calon pramugari ini meraih sertifikat terbangnya.

Baca juga : (Daya saing pilot Indonesia masih rendah)

Ia menyebutkan bahwa di training center siswa hanya tinggal impelementasi saja, seolah me-review pelajaran. Menurut Yosh, jika calon pramugari ini lolos tahap rekrutmen dan masuk training center, itu belum bisa menjamin langsung menjadi pramugari. Dan kasus lainnya, di training center itu ada calon pramugari yang selesai cepat ada yang selesai lebih lama.

“Materi di training center kurang lebih sama kayak di sekolah, cuma akan lebih banyak di implementasi. Contoh implementasi di pesawatnya, posisi pintu darurat, terus kabinnya seperti apa, handling kabin, masing-masing jenis pesawat itu kan beda. Sementara, sebagai pramugari harus hapal secara detail,” kata Yosh ketika ditemui TopCareer.id di kantornya.

Metschool sebagai sekolah pramugari, kata Yosh, tidak memberikan jaminan secara langsung bahwa setelah lulus sudah pasti bekerja di maskapai yang diinginkan. Namun, sekolah pramugari melakukan pendekatan melalui goal setting yang jelas, yakni mengejar standar kualitas di tiap maskapai sehingga jika itu tercapai, maskapai pun tak akan ragu untuk melakukan perekrutan.

Baca juga : (Begini rahasia Citilink dikembangkan)

“Bahkan, Citilink sendiri mau mengadakan rekrutmen di sini (Metschool). Cuma karena kami resources-nya terbatas sehingga masih kami kirim saja. Kami juga kemarin dari TNI Angkatan Udara mereka melakukan rekrutmen di sini. Ada 5-6 alumni dari kami saat ini sedang final progres rekrut untuk TNI AU,” ucap Yosh.  

Sementara, untuk meraih kualitas standar airlines itu, tentunya materi yang diberikan lebih padat dan tidak asal. Sebagai lembaga pendidikan, tetap saja Metschool mengacu pada standar kurikulum yang diterapkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Namun, ada improvment yang dilakukan agar lebih matang.

 

Belajar apa saja di sekolah pramugari

Yosh memaparkan bahwa materi yang diberikan di sekolah pramugari ini terbagi menjadi dua, yang sifatnya teoritis dan praktikal. Ada sekitar 20 materi yang ada di kurikulum, dan ada beberapa pelajaran yang menjadi materi andalan.

Materi-materi itu meliputi kepramugarian, kemudian ada passanger handling, materi penerbangan, dan tentunya hal penting dalam industri service, yakni komunikasi. Lantaran pramugari ibarat icon airlines yang notabene ada di industri service, maka penekanan dalam materi komunikasi itu menjadi hal yang paling penting.

Baca juga : (Deraya berbagi strategi perang di bisnis penerbangan)

Masih ingatkah dengan kisah-kisah menarik soal pramugari bantu kondisi darurat dalam pesawat yang berhubungan dengan penumpang, seperti sakit? Ternyata di sekolah pramugari memang ada materi yang namanya medical knowledge yang sudah disertai dengan praktik. Di Metschool sendiri, ada yang namanya praktik CardioPulmonary Resuscitation (CPR).

“Materi CPR yang kami berikan ke siswa itu sudah mengacu pada sertifikasi internasional. Praktiknya juga apa yag dilakukan di airlines, kami lakukan di sini, tentunya juga sesuai standar internasional. Lalu ada materi swimming and rescue. Terutama di rescue, standarnya integrated dengan medical knowledge,” jelas Yosh.

Yosh melanjutkan, tujuan mengapa pramugari dibekali dengan ilmu medical hingga survival adalah untuk membantu hal-hal darurat yang kaitannya dengan service terhadap penumpang. Karena di pesawat sendiri tidak ada dokter khusus untuk penanganan hal-hal kedaruratan semacam itu.

Contohnya, penumpang collapse, pingsan atau bahkan melahirkan. Pramugari dituntut mampu menangani penumpang hingga ke hal-hal yang sifatnya medis. Tugas utama pramugari memang melakukan kegiatan service yang baik, termasuk di dalamnya soal kenyamanan dan keamanan penumpang. Yosh mengibaratkan pekerjaan pramugari itu multidimensi.

Terkait kemampuan komunikasi, bahasa Inggris seolah mejadi aspek wajib yang harus dikuasai oleh pramugari. Karena nyatanya meski meladeni penerbangan domestik, di era seperti ini tidak mungkin jika tak bisa berbahasa internasional itu. Pematangan materi itu juga yang ditekankan oleh Metschool, terutama English conversation.

Metschool juga melakukan pemetaan melalui konseling terhadap masing-masing siswa untuk mengetahui sejauh mana perkembangannya. Program konseling ini bahkan tak hanya diperuntukkan bagi siswa aktif saja, melainkan juga bagi alumni yang masih memerlukan konseling lantaran belum direkrut airlines, bahkan mengawal hingga tahap perekrutan dan lolos training center.

“Lalu ada yang namanya simulasi rekrutmen sehingga siswa dikondisikan semuanya seperti dengan rekrutmen yang dilakukan oleh airlines. Bahkan lay out ruangan kami ubah semuanya, seolah-olah mereka melakukan rekrutmen betulan. Semua siswa antre di luar, termasuk juga bekas lamaran itu kita review one by one, seperti itu,” papar Yosh.  

Menurut Yosh, hal itu dilakukan untuk mencoba kesiapan mental setiap siswa jika menghadiri rekrutmen. Yang kedua, lanjut dia, tentu kesiapan materi. Dari hasil simulasi rekrutmen yang dilakukan, nantinya akan ada review juga, koreksi apa yang menjadi kekurangan siswa dalam menghadapi proses rekrutmen.

“Biasanya simulasi rekrutmen kami lakukan di bulan ketiga atau keempat dalam 6 bulan masa belajar. Karena kalau di akhir masa belajar, kami tidak punya cukup waktu untuk melakukan koreksi. Koreksi materi biasanya yang belum mereka kuasai secara penuh,” ujar dia.

Bahkan, ada materi praktikal yang namanya flight observation yang sampai terbang ke luar kota. Materi flight observation ini biasanya memberikan gambaran kepada siswa soal keadaan lapangan langsung, mulai dari kedaan pesawat, bandara, hingga dari segi pelayanan di tiap aspek. Siswa nantinya dituntut membuat laporan untuk dipresentasikan.

Baca juga : (Pemain di bisnis penyewaan pesawat makin menjadi)

“Bagaimana kondisi di bandara dari mulai ticketing, boarding, sampai dengan flight. Begitu flight pakai pesawat apa, jenis pesawatnya, berapa tempat duduknya, berapa pintu daruratnya, ada berapa pramugarinya, termasuk pilot dan kopilotnya. Kemudian mulai landing sampai dengan bagasi handling seperti apa.”

Pretest Sekolah Pramugari

Ada empat persyaratan standar yang harus dimiliki pramugari, yakni performance, kemampuan komunikasi, penguasaan bahasa Inggris, dan attitude. Nah, untuk men-screening empat aspek itu dalam memudahkan tahap belajar, Metschool melakukan pretest bagi siswa yang ingin masuk sekolah pramugari.

Melalui pretest juga setidaknya memperbesar kemungkinan keberhasilan sekolah dalam meloloskan alumnusnya nanti ke berbagai maskapai penerbangan. Menurut Yosh, ada beberapa test yang harus dilalui calon siswa pramugari ini.

“Tes masuk kami ada psikotes, English tertulis, ada pengetahuan umum, terus ada interview. Interview itu terkait dengan menggali potensi. Yang tertama adalah apakah calon siswa itu punya passion enggak untuk ke industri ini, industri yang sifatnya service industri. Kalau passion-nya bukan untuk melayani, itu kami juga cukup berat,” terang Yosh.

Ia menambahkan, dalam sesi interview juga dilakukan dalam bahasa Inggris. Lagi-lagi untuk mengetahui kemampuan siswa lebih dalam soal bahasa asing. Dan pada test interview ini, selain dari menggali potensi, juga untuk menggali motivasi untuk menghindari adanya kasus berhenti di tengah masa belajar.

“Kadang di awal masih ada yang seperti itu, tapi karena kami lakukan interview seperti itu terus juga kami gali semua background-nya, mulai dari backgound pendidikan sampai keluarga, sehingga profiling-nya bisa terlihat secara utuh,” ucap dia.  

Yosh melanjutkan, jika calon siswa tak bisa melalui satu tahapan dari test tersebut, maka dinyatakan gagal dan tidak diterima masuk Metschool. Rata-rata calon siswa yang mendaftar ke Metschool berada di range umum 17-19 tahun, dengan tingkat pendidikan lulus Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Sampai sejauh ini pendaftar Metschool dan melakukan pretest, yang lulus itu paling sekitar 50-60 persen. Jadi, tidak setiap pendaftar kami terima. Memang kami lakukan seleksi awal ini, kembali ke goal setting, yaitu memenuhi apa yang menjadi mandatory requirment-nya airlines. Paling enggak kami udah lakukan seleksi di awal.”

Sementara, terkait harga yang dipatok Metschool untuk setiap siswa selama masa belajar enam bulan itu, berada di angka Rp29 juta termasuk biaya seluruh kegiatan, kecuali akomodasi internal saat flight observation. Yosh menilai angka itu berada di tengah untuk sebuah lembaga pendidikan pramugari, tidak terlalu murah, tapi tidak juga terlampau mahal.

“Dari biaya pendidikan, praktikum, termasuk juga fasilitas dan perlengkapan. Seperti seragam, detailing seragam itu kan ada sepatu, setelan pakaian, wing-nya, tasnya, name plat, scrarf, stocking, modul, termasuk baju renang juga.” (Hilda Ilhamil Arofah)