Hadeh, Lagi-Lagi Karier Musisi Berhenti Karena Bunuh Diri

Jumat, 2017 adminbaru
Hadeh,

TOP CAREER – Kini giliran Chester Bennington frontman dari Linkin Park yang bunuh diri (20/7). Itu artinya bertambah panjang daftar musisi yang bunuh diri. Yang mengejutkan sudah ada penelitian yang mengungkapkan adanya hubungan kreativitas dan sakit mental.

Berita duka ini dikutip dari TMZ, Bennington ditemukan dalam kondisi tak bernyawa karena gantung diri di kediamannya di Palos Verdes. Ia meninggal pada usia 41 tahun.

Bennington diketahui memiliki masalah dengan obat-obatan terlarang dan kecanduan alkohol. Sebelum dia tutup usia, album terbaru Linkin Park yang berjudul One More Light, sukses bertengger di puncak Billboard 200 pada awal tahun ini.

Sebelum Bennington sudah banyak musisi yang mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. Masih hangat diingatan kita pada Mei tahun ini, Chris Cornell juga meninggal karena bunuh diri.

Baca juga : (Jantungnya radio ada di music director)

Deretan lainnya tentu pecinta musik ingat dengan bunuh dirinya Kurt Cobain pada 1994. Mirisnya vokalis dari Nirvana tersebut menembak kepalanya sendiri karena  depresi. Kemudian ada Jared McLemore yang pada 15 Mei 2017 membakar diri. Dan kalau mau di list, akan sangat panjang nama-nama musisi hebat yang mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri.

Pada 2015, Dianna Theadora Kenny, profesor di jurusan Psychology and Music, Universitas Sydney, menerbitkan penelitiannya tentang kematian dalam dunia musik. Dari penelitian itu terungkap data dari 12.665 musisi populer dari segala jenis genre yang meninggal dalam rentang 1950 hingga Juni 2014. Sekitar 90 persennya adalah lelaki. Data umur dan penyebab kematian dihimpun dari 200 sumber, mulai dari buku, situs genre musik tertentu, hingga sumber lain.

Selain kecelakaan, sakit jantung, atau kanker, bunuh diri juga termasuk penyebab lumayan besar kematian para musisi. Dalam rentang 2001-2010, ada 4,6 persen musisi yang meninggal bunuh diri.

Baca juga : (Rasanya kerja di radio Mustang)

Hal ini juga senada dengan temuan the Center for Suicide Research. Menurut Steve Stack, direktur lembaga tersebut, tingkat bunuh diri musisi itu tiga kali lebih besar ketimbang orang biasa. Salah satu penyebabnya adalah kreativitas yang kemudian melahirkan depresi. Tentu ini tidak terjadi pada semua orang kreatif.

"Jelas ada hubungan antara kreativitas dan sakit mental," ujar Dr. Christine Moutier, Chief Medical Officer untuk lembaga American Foundation for Suicide Prevention. Menurutnya, sekitar 90 persen orang yang melakukan bunuh diri memang punya masalah kejiwaan.

Lanjutnya banyak artis atau musisi yang meninggal bunuh diri punya karakter nyaris sama, yakni dekat dengan perfeksionisme. Jika ini ditambah dengan gangguan mental seperti manic depression dan bipolar, hidup para seniman bisa jadi amat rapuh.

Ada banyak kasus lain musisi yang memilih meninggal bunuh diri. Selain karena depresi, ada pula yang melakukannya karena sudah tak punya keinginan hidup lagi dan memilih untuk mati dengan kesadaran sendiri.  Ian Curtis, misalkan. Menurut beberapa kerabat dan kawan dekat vokalis Joy Division itu, Ian tak punya keinginan untuk menjalani hidup di umur 20-an. Maka ia gantung diri.

Begitu pula yang terjadi pada Wendy O. William. Vokalis band punk Plasmatics ini menembak dirinya sendiri. Rod Swenson, kekasihnya, mengatakan bahwa Wendy sudah memikirkan soal bunuh diri selama 4 tahun. Menurutnya, Wendy sangat sedih menjelang kematiannya. Di surat wasiatnya, Wendy mengatakan ia ingin bunuh diri karena ia berhak.

"Menurutku, untuk bunuh diri, seseorang harus berpikir dalam dan dalam waktu lama. Namun aku amat percaya bahwa bunuh diri adalah hak dasar orang yang tinggal di dunia bebas," tulisnya. (Yuda Prihantoro)