Langkah Panas Sean Gelael Menuju Buasnya F1

Senin, 2017 adminbaru
Langkah

TOP CAREER – Lupakan sejenak Rio Haryanto, kini bersiaplah dengan Sean Gelael menuju perebutan kursi super panas di balap paling bergengsi berlabel Formula 1 (F1).

Tak hanya dahsyat untuk urusan teknologi, tensi sangat panas dalam perebutan kursi pebalapnya tiap musim juga menarik dicermati dari F1. Maklum banyak wakil-wakil terbaik dari banyak negara terus berupaya menunjukkan kepantasannya untuk bisa berkompetisi di ajang balap yang sering disebut sebagai kompetisi jet darat.

Indonesia pun tengah berupaya kembali ikut dalam pertempuran F1. Adalah Sean Gelael, pebalap Tanah Air yang terus mencoba untuk mengukuhkan kepantasannya di F1.

Langkah Sean pun kian mendekat. Ia lagi menguji coba kemampuannya di balap Formula 2 (F2), yang tak bukan merupakan balapan satu kasta di bawah F1.

Sebagai putra semata wayang dari pasangan pengusaha ternama  Ricardo Gelael dan Rini S. Bono, peluang Sean Gelael menjadi pengusaha sebenarnya terbuka lebar. Namun, Sean malah mantap ingin mewujudkan impian yang telah dirajutnya sejak dini yakni menjadi pebalap F1.

Sebagaimana diketahui, sang ayah, Ricardo Gelael adalah Presiden Direktur PT Fast Food Indonesia, pemegang waralaba Kentucky Fried Chicken (KFC) Indonesia. Hingga saat ini, KFC telah memiliki sekitar 500 gerai di Tanah Air. Selain itu, KFC kini memiliki label sendiri, Jagonya Musik. Label tersebut tak sekadar mengurusi penjualan CD musisi, namun juga menjadi manajer bagi musisi-musisi ternama yang tergabung di dalamnya.

Bagi Sean, mengelola bisnis keluarga bukan bagian dari mimpinya, setidaknya untuk saat ini. “Untuk ke depan, saya punya beberapa plan. Tapi untuk sekarang, saya sangat fokus pada dunia balap. Mimpi saya adalah bisa melaju di F1,” ucap Sean.

“Sebenarnya, bicara dunia bisnis, di motor sport juga ada bisnis, di mana-mana ada bisnis, dan pastinya tidak ada masalah kalau mau belajar bisnis. Karena pelajaran kan tidak hanya bisa didapat saat bersekolah. Cuma ya itu, saya saat ini fokus 100 persen untuk balapan, sampai saya mencapai F1,” kata Sean mantap.

Darah panas Sean di lintas balap memang terus membara. Pengalaman demi pengalaman pun terus dipupuk Sean, yang tak lain demi mengejar prestasi tertinggi bisa bertarung di F1. Beragam kompetisi balap kelas internasional pun sudah sering dilahapnya.

Sekarang langkah Sean ke F1 pun kian dekat lantaran dalam waktu dekat ia kembali dipercaya menjadi test driver mobil tim Scuderia Toro Rosso. Tepatnya dalam uji coba di sirkuit Hungaroring, Hongaria, pada 1-2 Agustus 2017. Tes di Hongaria menggantikan agenda tes sebelumnya yang direncanakan di sirkuit Silverstone, Inggris.

Rencana itu sempat diumumkan melalui akun twitter Toro Rosso. “Today Sean @gelaelized is inda house in Faenza, seat-fitting for Hungary,” begitu bunyi cuitan twitter tim Toro Rosso.

Bagi Sean, tes di Hongaria merupakan kesempatan yang kedua. Sebelumnya, Sean sudah menjajal STR16 milik Daniil Kvyat di sirkuit Bahrain, April lalu.

Baca juga : (Rasanya kerja di radio Mustang)

Selain di Hungaroring, Sean juga sebelumnya sudah dijadwalkan untuk tes di sirkuit Yas Marina, Abu Dhabi pada 28-29 November mendatang atau seusai balapan F1 terakhir musim 2017. Sesi tes di Abu Dhabi ini menjadi kesempatan bagi setiap tim untuk menguji spesifikasi ban yang akan digunakan pada musim selanjutnya.

Dipercaya menjadi pebalap penguji di tim sekelas Toro Rosso tentunya menjadi kebanggaan buat Sean. Sebab, tidak semua pebalap bisa mendapatkan kesempatan ini.

“Jadi test driver tim F1 adalah impian bagi semua pebalap. Apalagi Anda sudah melewati langkah dari mulai Formula junior. Ketika Anda sudah lama bermimpi dan akhirnya itu jadi kenyataan, itu adalah perasaan yang sangat luar biasa,” ujar Sean saat wawancara dengan FOX Sport di sela-sela persiapannya tampil di seri pembuka Formula 2 di Bahrain.

Lewat Toro Rosso, ia juga semakin dekat untuk mewujudkan mimpi bisa berlaga di ajang F1. Bagi yang belum tahu banyak sejarah mencatat bahwa juara dunia Sebastian Vettel,  Daniel Ricciardo, dan Max Verstappen sebelum masuk ke F1 juga merupakan mantan test driver Toro Rosso.

“Ini adalah kesempatan besar buat setiap pebalap, tidak terkecuali saya. Tekanan pasti ada, tapi pada akhirnya itu semua tergantung pada Anda,” lanjutnya.

Berbagai persiapan pun telah dilakukan Sean untuk bisa tampil maksimal bersama Toro Rosso. Sebab, menurutnya mobil F1 di era baru ini cukup jauh berbeda dengan mobil F2. Lebih cepat dan lebih bertenaga.

“Dengan segala perubahan (regulasi) yang terjadi, mobil F1 saat ini lebih buas dibanding tahun lalu. Jadi, dibutuhkan teknik membalap yang berbeda, karena downforce-nya lebih besar, mobilnya juga lebih bertenaga di musim ini,” imbuh Sean.

Sean, yang pada musim ini berkolaborasi dengan pebalap Perancis, Norman Nato di tim Pertamina Arden pada balapan F2. Toro Rosso dan Red Bull kebetulan punya afiliasi dengan tim Arden Motorsport, tim yang saat ini menaungi Sean untuk balapan F2. Tim Arden didirikan Garry Horner yang merupakan ayah kandung dari bos Red Bull, Christian Horner. Memiliki nama lengkap Scuderia Toro Rosso, tim ini dimiliki perusahaan minuman berenergi asal Austria, Red Bull, selain tim Red Bull Racing. Makanya, Toro Rosso disebut juga tim Red Bull junior.

Toro Rosso mulai mengikuti balapan F1 pada 2006. Asal muasalnya tim ini bernama Minardi, didirikan Giancarlo Minardi dan bermarkas di Faenza, Italia. Tim Minardi mengikuti balapan F1 dari 1985 sampai 2005. Kepemilikan tim Minardi sebenarnya sempat berpindah tangan ke Paul Stoddart pada 2001. Namun, pebisnis asal Australia ini hanya mampu menjalankan tim selama lima tahun, sebelum akhirnya dijual ke Red Bull di pengujung musim 2005 dan tim berubah nama jadi Scuderia Toro Rosso.

Musim ini Toro Rosso, mengandalkan pebalap Carloz Sainz Jr dan Daniil Kvyat. Dengan bergabungnya Sean Gelael mengikuti tes mengemudikan mobil STR12, bisa jadi sebagai tanda positif akan ada lagi pebalap Indonesia di balap F1.

Kemampuan pebalap yang lahir pada 1 November 1996 ini bahkan sempat dipuji, Team Principal Toro Rosso, Franz Tost. Ia  mengatakan, catatan waktu Sean bukanlah hal yang jadi fokus utama timnya, melainkan proses adaptasinya dengan berbagai hal baru yang ditemuinya.

“Saat berada di garasi tim, ia langsung bisa membaur dengan tim. Ia juga mampu menyerap dengan baik berbagai penjelasan tim, mulai dari stir, karakter mobil dan kemudian melakukan simulator,” kata Franz Tost saat menghadiri acara Paddock Party bersama Sean Gelael dan Tim Pertamina Arden di Jakarta beberapa waktu lalu.

“Penilaian kami terhadapnya sangat positif. Terutama dari sikapnya. Performa Sean di Bahrain (tes) juga sangat memuaskan. Dari lap ke lap, ia semakin cepat. Dan yang terpenting, dia tidak melakukan kesalahan,” lanjutnya.

Lebih jauh, Franz meyakini Sean memiliki peluang yang cukup besar untuk mewujudkan impiannya menjadi pebalap Formula 1. “Jika ia terus seperti ini, ia bisa jadi pebalap Formula 1 atau bahkan pebalap Formula 1 yang sukses,” tegasnya.

Sean pun tengah berusaha mendapatkan Super License. Seperti diketahui, Super License merupakan salah satu syarat utama yang harus dimiliki seorang pebalap untuk bisa berkarier di F1.

Untuk mendapatkan lisensi yang dikeluarkan FIA (Federation Internationale de Automobile), ada beberapa cara. Pertama, si pebalap harus memiliki gelar juara di ajang yang lebih rendah dari F1, seperti Formula 3 atau Formula 2. 

Seorang pebalap juga berhak mendapatkan Super License apabila mampu meraih hasil yang bagus secara konsisten di ajang tersebut. Semisalnya, si pebalap berhasil dua kali menempati posisi lima besar dalam tiga tahun terakhir di ajang F2, maka ia berhak mendapatkan lisensi itu. 

Selain itu, pebalap juga berhak mendapatkan lisensi itu apabila ditunjuk oleh tim F1. Namun ia pun harus memenuhi syarat yakni harus sudah punya jam terbang 300 km di sesi tes dengan mobil F1. 

Itu artinya peluang untuk mendapatkan lisensi itu dimiliki Sean ketika dipercaya menjadi test driver Toro Rosso. Dengan menggenggam lisensi itu, Sean tinggal membuktikan diri ia sudah siap berlaga di F1. 

"Prioritas utama saya adalah menjalani semua selangkah demi selangkah. Itulah cara yang terbaik. Sebab jika selalu berpikir tentang F1, Justru malah tidak fokus," ujar pebalap yang mahir bercakap dalam bahasa Inggris, Italia, dan Spanyol. (Yuda Prihantoro)