Investasi Gampang dan Murah Sentuh Semua Kalangan

Senin, 2017 adminbaru
Investasi

TOP CAREER – Daripada gaji bulanan cuma pergi kayak angin lalu, mending sisihkan gaji untuk berinvestasi, tertarik? Investasi tidak melulu harus dengan nilai besar ratusan juta kok. Misal, lewat reksadana bisa dimulai dari Rp100 ribu saja. Bahkan, enggak perlu paham ilmu “naik-turun” investasi, cukup setor bulanan bisa dapat untung yang lumayan.

Head of Wealth Management and Digital Business of Commonwealth Bank, Ivan Jaya menuturkan bahwa saat ini pihaknya maupun dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) gencar melakukan edukasi soal investasi reksadana. Dan Commonwealth Bank memberikan layanan Autoinvest, yakni layanan investasi reksadana secara berkala dengan jumlah investasi mulai dari Rp100 ribu.

Menurut Ivan, fitur itu memiliki kelebihan dalam mengoptimalkan dana yang diinvestasikan dan membuat investor disiplin karena secara otomatis setiap bulan saldo investor akan didebet sesuai dengan ketentuan awal alokasinya. 

“Tidak perlu repot lagi tiap bulan tanggal satu harus ke bank, Autoinvest cukup sekali saja ke bank. Apabila di awal sudah ditentukan mengenai tujuan investasinya, paling enggak, tahu nabung itu untuk apa saja. Daripada coba-coba sendiri, enggak tahu apa-apa. Misal ada produk yang kurang perform, akan ada advice di depan,” papar Ivan kepada TopCareer.id.

Layanan Autoinvest yang dimiliki Commonwealth Bank ini menggunakan Dollar Cost Averaging, jadi strategi investasi dengan menggunakan dana yang besarannya sama dalam membeli suatu jenis investasi pada periode berbeda. Investor membeli saham dengan dana yang sama dalam periode rutin, misal tiap minggu atau sebulan sekali.

Jadi, untuk pegawai atau karyawan kantoran biasa yang tidak tahu mendalam soal investasi bisa langsung menggunakannya karena tidak perlu susah-susah memperhitungkan naik turunnya pasar saham. Strategi Dollar Cost Averaging dianggap sebagai strategi paling aman dalam berinvestasi.

Baca juga : (Menimbang tempat kursus bahasa Korea)

Ivan kembali mengingatkan layanan ini menjual kedisiplinan investor dalam menabung. Ia melanjutkan, daripada melakukan timing market, jika menggunakan konsep Dollar Cost Averaging secara konstan return bisa berpotensi lebih optimal.

“Maksudnya eggak usah nunggu kalau turun. Eh waktu nunggu,sudah naik ketinggalan. Daripada kayak gitu, disiplin aja, misal tiap tanggal 1 dipotong. Kalau tidak disiplin nanti malah enggak nabung. Misal ini lagi naik, ya sudah nanti saja deh, tunggu turun saja deh, udah tunggu turun taunya enggak turun-turun IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) sudah ke mana.”

Autoinvest ini tentu bakal menyentuh semua kalangan sehingga bukan orang-orang dengan kemampuan financial  tertentu saja yang bisa berinvestasi karena terjangkau dan mudah. Sementara, terkait dana yang akan dialokasikan oleh calon investor, bakal berdasarkan tiga hal, yakni umur dan pendapatan, kemudian profil risiko, dan tujuan investasi.

Ivan mencontohkan, calon investor A adalah seorang moderat yang setelah diketahui ketiga hal itu, maka akan disarankan alokasinya sekitar 15 persen reksadana saham, lalu 30 persen pendapatan tetap, 55 persen di pasar uang. Setelah memperoleh advice seperti itu, baru ikut dalam layanan Autoinvest.

“Misal satu juta rupiah setiap bulan.  Rp550 ribunya Autoinvest-kan di reksadana pasar uang, Rp300 ribu instrumen reksadana obligasi, 15 persen reksadana pasar saham yaitu Rp150 ribu. Itu setiap bulan. Apabila dengan nabung tiap bulan Rp500 ribu, atau Rp10 juta langsung di awal lalu kosong terus, dibanding Autoinvest sebulan sekali, nanti akan kelihatan.”

Namun, Ivan menyampaikan bukan berarti investasi reksadana tidak memiliki risiko. Ia tidak memungkiri bahwa risiko tetap ada, misal ketika sedang turun makan akan ikut turun, sementara bisa saja investor dalam keadaan yang darurat.

Namun, kata dia, layanan Autoinvest ini termasuk inovasi dalam meningkatkan kesadaran berinvestasi bagi semua kalangan masyarakat. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 7 Juni 2017 menyebutkan, baru ada sekitar 523 ribu investor reksadana di Indonesia, atau sekitar 0,2 persen. Padahal jumlah penduduk kelas menengah meningkat pesat.

“Meski demikian, ada peningkatan kesadaran berinvestasi di produk sophisticated, terutama di kalangan generasi muda. Kami yakin pasar ini akan lebih tertarik mengakses wealth management bila mendapatkan solusi perbankan digital komprehensif,” ujar Ivan. (Hilda Ilhamil Arofah)