Mengenal Kriminologi sebagai Ilmu The Dark Of Society

Selasa, 2017 adminbaru
Mengenal

TOP CAREER - Jika masa kecilnya sering melihat serial kartun Detektif Conan, pastinya sudah tidak aneh lagi, dengan cara pengungkapan kejahatan yang dilakukan oleh Shinichi Kudo dan teman-temannya. Berperan sebagai detektif, kira-kira seperti itulah yang akan dialami jika mengambil jurusan kriminolog.

Di Indonesia jurusan kriminologi kali pertama dibentuk di Universitas Indonesia (UI). Menurut Ketua Departemen Kriminologi UI Iqrak Sulhin, pada awalnya jurusan ini berada di bawah ilmu hukum. Akan tetapi, dalam perkembangannya kriminologi bernaung dibawah fakultas ilmu sosial dan ilmu politik (FISIP).

Dengan pergeseran tersebut, menurut Iqrak sebenarnya membuktikan bahwa, ilmu kriminologi masih satu rumpun dengan ilmu sosilogi. Meski di lapangan ada perbedaan cara pandang pada keduanya. Di mana sosiologi lebih banyak berbicara tentang sudut terang dari masyarakat. Semisal proses interaksi antarmanusia, struktur sosial, permasalahan sosial, dan lain-lain.

“Tetapi di kriminolog kami berbicara soal the dark side of society. Bicara soal sisi gelapnya masyarakat,” ucapnya kepada TopCareer.id.

Lebih rincinya, ilmu kriminilogi berbicara tentang bagaimana seseorang menganalisis kejahatan. Analisisnya dilihat dari berbagai aspek baik dari pelaku, korban, kejahatan, dan reaksi sosial yang ditimbulkan.

Makanya tidak heran jika di jurusan ini banyak berbicara seputar ilmu viktimologi yakni ilmu yang mempelajari tentang korban termasuk hubungan korban dengan pelaku. Penologi, ilmu tentang penghukuman. Berbicara soal strategi kejahatan, intelijen dan investigasi, analisis risiko kejahatan yang membahas tentang analisis peluang kejahatan dan lain-lain.

Nantinya pada saat mahasiswa mengambil jurusan ini, mahasiswa akan menerima kuliah wajib dan di tahun ketiga harus mengambil kuliah peminatan.

“Kriminologi di UI itu ada tiga peminatan, yakni kriminologi jurnalistik, penegakan hukum, dan transnasional crime. Walaupun berdasarkan pada rapat kerja departemen kriminolog 2017 kami akan menambah satu konsentrasi lagi yakni kriminologi forensik,” ucap Iqrak.   

Tetapi kriminologi forensik ini menurutnya belum sepenuhnya berjalan, dan diperkirakan akan mulai aktif di tahun depan.

Adapun dalam kriminologi jurnalistik, konsentrasi yang bisa diambil oleh mahasiswa jumlahnya ada enam. Meliputi etika dan hukum pers, news making criminology 1 & 2, media massa dan kejahatan, investigasi jurnalistik, serta intelijen dan investigasi kejahatan.

Berbeda hal dengan peminatan di penegakan hukum. Akan banyak bersinggungan dengan manajemen dan penegakan hukum, penegakan hukum alternatif, analisis risiko kejahatan, polisi dan pemolisian, intelijen dan investigasi kejahatan serta kebijakan kriminal.

Sementara transnasional crime menurut Iqrak lebih banyak berbicara tentang teror dan terorisme, organized crime, transnational policing, kebijakan kriminal, dan globalisasi kejahatan transnasional.

Di antara ketiga peminatan yang ada sekarang, yang paling banyak dipilih oleh mahasiswa adalah kriminologi jurnalistik dan penegakan hukum. “Kalau transnasional crime itu cenderung sedikit, biasanya 14 -15 orang, tapi yang numpuk itu di penegakan hukum dan jurnalistik,” ucap Iqrak.

Sehingga nantinya dengan peminatan ini bila ditarik sebab dan hubungannya akan berkaitan erat dengan peluang profesi di bidang yang digeluti. Di mana menurut Iqrak banyak dari para alumnus kriminolog yang sekarang bekerja di media. Salah satunya menjadi wartawan kriminal.

Kemudian banyak juga yang bekerja di kepolisian ditempatkan di bagian reserse, dengan catatan biasanya setelah lulus dari kriminolog mengikuti seleksi terlebih dahulu hingga melakukan pendidikan kembali di bidang kepolisian.

“Kalau dia di reserse maka dia akan otomatis bekerja di dalam penyelidikan dan penyidikan kejahatan. Penyelidikan itu melakukan investigasi awal belum ada tersangka, kalau penyidikan dari sudah ada tersangka. Nah, lulusan kami yang masuk di reserse itu pasti akan bekerja dengan cara seperti itu,” ucap Iqrak.

Ada juga yang menjadi bagian dari sistem peradilan Indonesia. Seperti sebagai staf kejaksaan dan pegawai di lembaga pemasyarakatan (LP). Tentunya selepas beres sarjana, melanjutkan kembali ke jenjang master di dalam ilmu hukum.

Badan Narkotika Nasional (BNN) juga lembaga pemerintahan yang menjadi salah satu incaran para alumnus. Biasanya yang diterima akan ditempatkan sebagai analis di bagian penindakan.

“Kurang lebih pekerjaannya melakukan investigasi, semisal pola-pola kejahatan yang dilakukan oleh bandar sekarang itu seperti apa. Tetapi sebagian yang lain terlibat dalam penindakan. Seperti undercover, kemudian dia juga ikut dalam penggerebekan,” tambah Iqrak.

Karena kriminolog juga dirancang sebagai ilmu sosiologi. Jadi ada juga alumnus yang bekerja sebagai peneliti di bidang-bidang seperti lembaga Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), atau di Non-Government Organization (NGO) seperti Kontras.

Bahkan ada juga lulusan yang bekerja di Garuda Indonesia, di bagian aviation security. Tugasnya menurut Iqrak menjadi bagian dari unit yang bertanggung jawab terhadap keamanan penerbangan.

Ketika lulus, alumnusnya bisa langsung menyandang predikat sebagai seorang kriminolog. Seorang kriminolog juga kerap hadir di berbagai persidangan sebagai saksi ahli. Pada posisi tersebut biasanya kriminolog akan menganalisis kasus kejahatan. Dengan cara mengamati dari segi korban dan pelaku.

Iqrak memberikan gambaran contoh sebuah kasus, pembunuhan mutilasi suami dalam rumah tangga yang dilakukan oleh istri. Dari kaca mata kriminolog apa yang dilakukan oleh pelaku (istri) tidak sepenuhnya salah. Karena diketahui bahwa si perempuan ini telah menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang telah dilakukan oleh suaminya itu selama bertahun-tahun. Sehingga pembunuhan itu dilakukan terhadap reaksi terhadap akibat perbuatan buruk suaminya.

“Nah, di sini peran kriminolog itu terlihat, kami tidak mengatakan dia benar atau dia salah. Tapi kami memunculkan sebuah posisi berdasarkan penelitian seperti ini, pembunuhan itu terjadi karena faktor a, b, dan c. Pola-pola yang selama ini terjadi di dunia seperti apa. Jadi, fungsinya itu semacam memberi pengetahuan, keterangan yang kemudian digunakan oleh hakim untuk memutus perkara,” ucap Iqrak. (Nur Lella)