Robo Advisor Geser Peran Financial Advisor?

Rabu, 2017 adminbaru
Robo

TOP CAREER – Lagi, terobosan dalam dunia keuangan khususnya investasi, ada yang namanya robo advisor. Meski gaungnya telah ada lebih dulu di Amerika, namun kini perlahan sebarannya meluas. Bisa dibilang robo advisor adalah perencana keuangan bagi investor atas dasar data. Lalu bagaimana fungsi financial advisor? Akan tergeser atau malah berdampingan?

Untuk diketahui, robo advisor ini memberikan layanan wealth management dengan memperhatikan data nasabah/investor meliputi umur, pendapatan, profil risiko, serta tujuan investasi, yang kemudian diolah membentuk algoritma atau ramuan tertentu.

Hasil dari ramuan itu kemudian dibuat advice atau rekomendasi untuk diberikan kepada nasabah/investor secara langsung melalui platform digital. Khusus untuk wealth management, fungsi robo advisor itu kelak bisa diimplementasikan di Indonesia.

Hal itu diutarakan Head of Wealth Management and Digital Business of Commonwealth Bank, Ivan Jaya. Kepada TopCareer.id ia bertutur bahwa melalui fungsi robo advisor ini pekerjaan yang semula terbatas dikerjakan manusia, akan lebih mudah dilakukan dan cakupannya pun semakin luas.

Ia menilai bahwa nantinya robo advisor itu akan berkembang dan memerlukan big data sebagai bahan ramuan informasi investor/nasbah. Jika semakin luas data yang dikembangkan, maka portofolio calon investor semakin lengkap. Dan rekomendasi yang diberikan pun sesuai dengan kondisi dan pribadi calon investor.

Jika robo advisor ke depan akan sangat berguna dalam memberikan advice terkait perencanaan keuangan, lalu ke mana fungsi seoranng financial advisor? Apakah kelak financial advisor perannya bakal terganti oleh para robot investasi ini?

Ivan menjawab bahwa untuk market Asia akan lebih cocok dengan strategi omni-channel, yakni kombinasi antara digital (robo advisor) dan sosok manusianya sendiri. Khusus untuk Indonesia, melihat layanan wealth management masih merasa lebih nyaman apabila melihat sosok orangnya.

Namun, kata dia, ke depan Indonesia bisa mengkombinasikan robo advisor dan financial advisor menjadi satu kolaborasi yang sangat baik, melalui strategi omni channel tersebut. Layanannya bisa secara tatap muka, tetapi untuk pemberian informasi yang sifatnya inti, seperti jumlah dana yang sudah berkembang, bisa melalui platform digital.

“Kalau seorang manusia kan terbatas ya. Mungkin dia hanya bisa 200 orang, kalau robo advisor mungkin bisa 100 ribu orang. Karena melalui sistemnya. Kirim SMS 100 ribu orang daripada saya telepon 100 ribu orang, mau sampai kapan. Jadi, menurut saya adalah strategi omni-channel akan berbarengan atau berdampingan dengan future wealth management,” kata Ivan.

Ivan menambahkan, robo advisor itu akan mengelola portofolio inti investor/nasabah, yang memang tidak diutak-atik lagi. Namun, selain melihat portofolio inti, ada yang namanya portofolio satelit, di mana bisa memberikan return yang lebih optimal lagi.

Portofolio inti merupakan bagian yang dibuat untuk memberikan stabilitas serta imbal hasil yang cukup baik. Sedangkan portofolio satelit dikelola secara aktif dan didesain untuk memberikan alpha (imbal hasil tambahan).

“Jadi contohnya, ada ketegangan Korea, impact-nya bagaimana. Sebaiknya harus memperhatikan portofolio untuk mengamankan nih, itu ada di portofolio satelite. Meskipun sebagai financial advisor dia lihatnya secara keseluruhan, portofolio satelit dan core-nya juga,” ujar Ivan.

Jika Indonesia menginginkan strategi omn- channel ini diterapkan, maka butuh pengembangan yang lebih dalam ke depannya. Ia mengumpamakan bahwa dari hasil klik sosial media seseorang saja bisa diketahui rekomendasi yang tepat sesuai kepribadian orang tersebut.

“Misalnya si A di Facebook sukanya ini, klik ini ini, belanjanya ini. Kayak gitu kan sebenarnya bisa dianalisis. Berarti kan jumlahnya kan banyak. Kemudian juga ada tentang penilaian yang subjektif, jadi subjektif judgment. Kemudian juga ada perkembangan policy, lalu update atau eksekusi dari policy tersebut, misalnya kayak gitu.”

Bagaimana cara kerja robo advisor sebenarnya? Pertama, robo advisor membutuhkan info profil risiko dari investor yang nantinya berperan penting menghasilkan portofolio investasi sesuai kebutuhan. 

Baru kemudian robo advisor mengolah data investor berdasarkan algoritma. Setelah mengolah data, robo advisor akan memberikan rekomendasi portofolio untuk investor. Secara otomatis akan membeli produk-produk investasi yang disarankan berdasarkan alokasi yang disimpan.

Kemudian, di masa yang akan datang jika keuntungan investasi tidak merata, maka proporsi dalam portofolio bisa saja berubah. Jadi, robo advisor di sini juga berperan memantau dan menyeimbangkan portofolio secara berkala. (Hilda Ilhamil Arofah)