Ini Tahap Seleksi Kompetensi Bidang CPNS Penjaga Penjara

Senin, 2017 adminbaru
Ini

TOP CAREER – Salah satu formasi Calon Pegawai Negeri  Sipil (CPNS) yang tengah dibuka oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM) adalah penjaga tahanan, bahkan jadi formasi yang paling banyak dibutuhkan. Berdasarkan alur seleksinya, tahapan akhir peserta harus melewati Seleksi Kompetensi Bidang (SKB).

SKB untuk formasi penjaga tahanan ini terdiri dari kesamaptaan dengan bobot 50 persen, serta Pengamatan Fisik dan Keterampilan (PFK) yang juga memiliki bobot 50 persen. Bagi yang sudah lolos tahap administrasi dan Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) berbasis Computer Asissted Test (CAT), harus siap fisik yang bugar dalam menghadapi SKB.

Pertama, tes kesamaptaan, yakni ujian yang dilakukan untuk mengetahui persiapan fisik yang dimiliki para pendaftar CPNS. Ujian ini juga sebagai tes mengukur kondisi jasmani sebagai penjaga tahanan.

Dalam Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor M.HH-03.DL.07.01 Tahun 2009 tentang Pedoman Administrasi Ujian Kesamaptaan Jasmani bagi CPNS, ujian itu terdiri dari lari 12 menit (rangkaian A) dan ujian pull up, sit up, push up, serta ujian shuttle run (rangkaian B). Melihat hal itu, tentu saja pendaftar harus dalam kondisi badan yang sehat serta siap mental untuk melaksanakan ujian.

 

Susunan Ujian Kesamaptaan

Ujian kesamaptaan A lari 12 menit, dimaksud untuk mengukur daya tahan otot, daya tahan jantung, pernapasan, dan peredaran darah. Pada ujian kesamaptaan lari 12 menit ini, para peserta dibagi dalam beberapa gelombang. Dan tiap gelombang maksimal 20 orang (disesuaikan dengan jumlah dan kemampuan penguji).

Dalam Permen tersebut, baik peserta laki-laki maupun perempuan sama-sama melakukan lari dalam 12 menit. Namun, pada 2014 lalu, peserta perempuan lari selama 14 menit pada tahap ujian kesamaptaan A.

Setelah itu, ada ujian kesamaptaan B. Ujian ini dibagi dalam beberapa gelombang, dan masing-masing gelombang pada tiap item berjumlah maksimal 20 orang yang melaksanakan ujian secara bergantian berkelompok, masing-masing kelompok antara 4-6 orang.

Ujian kesamaptaan B yang pertama, yakni melakukan pull up maksimal 1 menit dengan tujuan mengukur kekuatan dan daya tahan otot lengan bagian dalam. Sementara, untuk peserta perempuan melakukan chinning, dalam waktu 1 menit.

Kedua, ada ujian sit up maksimal 1 menit yang dilakukan untuk  mengukur kekuatan dan daya tahan serta fleksibilitas otot perut. Kemudian ujian push up dengan waktu maksimal 1 menit, untuk mengukur kekuatan dan daya tahan otot lengan bagian luar.

Setelah itu shuttle run dengan jarak 6x10 meter, dimaksudkan mengukur kecepatan, kelincahan dan keseimbangan tubuh. Shuttle run sendiri adalah lari membentuk angka delapan di antara dua buah tonggak. Peserta lari secepat mungkin menuju tonggak yang berada di depannya sampai melewati tonggak langsung memutar berbalik kembali ke tempat semula menuju tonggak pertama.

Apabila peserta start dari sebelah kanan tonggak, maka peserta berlari menuju ke sebelah kiri tonggak di depannya kemudian berbalik memutar melewati tonggak menuju ke sebelah kanan tonggak pertama. Peserta tidak diperbolehkan memegang tiang tonggak pada waktu berlari.

Sementara, untuk urutan ujiannya, peserta terlebih dahulu melakukan ujian kesamaptaan A, yakni lari 12 menit. Kemudian istirahat selama 10 menit, baru melanjutkan ujian kesamaptaan B. Masing-masing peserta melaksanakan rangkaian ujian secara berurutan mulai dari pull up, sit up, push up dan shuttle run. Interval waktu istirahat untuk tiap item pada item B adalah 5 menit.

Untuk tiap item yang diujikan, para peserta harus benar-benar memperhatikan tiap gerakannya agar mendapat skor yang tinggi. Dalam penilaiannya, gerakan yang salah tidak akan mendapat hitungan sehingga perlu mengetahui gerakan apa yang dianggap salah.

Seperti pada gerakan push up, yang termasuk hitungan gerakan salah adalah sebelum lengan lurus pada saat mengangkat badan sudah turun kembali. Lalu, gerakan dilakukan dengan badan tidak lurus (bergelombang), dan bagian badan menyentuh tanah pada saat turun.

 

Penilaian

Peserta harus memperhatikan faktor-faktor dalam ujian kesemaptaan seperti sikap permulaan, gerakan, ketentuan hitungan dan gerakan yang salah/tidak dihitung.

Hasil gerakan kesamaptaan jasmani A (HGA) dihitung berdasarkan jarak yang dicapai oleh peserta. Sementara, nilai gerakan kesamaptaan jasmani A (NGA) diperoleh dengan cara mencocokkan hasil gerakan kesamaptaan jasmani A (HGA) dengan tabel nilai.

Pada ujian kesamaptaan jasmani B, hasil gerakan kesamaptaan jasmani B (HGB) dihitung berdasarkan jumlah gerakan yang benar dari masing-masing item, yakni pull up, sit up, push up (B1, B2, B3) selama maksimal 1 menit dan untuk shuttle run (B4) berdasarkan waktu yang dicapai.

Nilai gerakan masing-masing item kesamaptaan jasmani B, yakni pull up, sit up, push up dan shuttle run (NGB1, NGB2, NBG3, NGB4) diperoleh dengan cara mencocokkan hasil gerakan masing-masing item (HGB1, HGB2, HGB3, HGB4) dengan tabel nilai masing-masing item.

Nilai gerakan kesamaptaan jasmnai B (NGB) diperoleh dengan cara menjumlahkan nilai gerakan pull up/chinning (NGB 1) + nilai gerakan sit up (NGB 2) + nilai gerakan push up (NGB 3) + nilai gerakan shuttle run (NGB 4) dibagi 4.

Nilai Akhir Kesamaptaan Jasmani (NKJ) ditentukan dengan cara menjumlahkan nilai item ujian A (NGA) dan item ujian B (NGB) kemudian dibagi dua.

Biasanya sebelum pelaksanaan tes kesamaptaan, akan diumumkan materi serta tanggal dan tempat pelaksanaannya, termasuk susunan ujian yang bakal digelar tergantung putusan dari panitia. Perlu diingat, pengetahuan akan gerakan yang benar untuk item yang diujikan begitu penting.  

 

Pengamatan Fisik dan Keterampilan (PFK)

Pada ujian ini, lagi-lagi menyoal kekuatan fisik dan kondisi kesehatan. Pada pengamatan fisik layaknya pemeriksaan general check up atau pemeriksaan kesehatan secara keseluruhan, untuk menghindari kemungkinan peserta yang memiliki tanda klinis penyakit.

Rangkaian pengamatan fisik umum yang dilakukan meliputi, pemeriksaan urine, pemeriksaan umum seperti tinggi badan, berat badan, serta tekanan darah, kemudian pemeriksaan mata dan gigi, lalu pemeriksaan pendengaran, dan pemeriksaan badan secara menyeluruh, seperti tidak bertato, bekas patah tulang, serta cacat fisik.

Sementara, keterampilan yang dimaksud pada tahapan seleksi ini adalah fokus pada kemampuan bela diri. Jika peserta mempunyai keterampilan menembak atau pernah mengikuti diklat SAR (search and rescue), maka peserta akan mempunyai nilai lebih.

Sedangkan, keterampilan pada umumnya memperagakan beberapa gerakan bela diri, seperti kuda-kuda, gerakan memukul atau menendang. Keterampilan lain yang mungkin diujikan adalah keterampilan baris-berbaris. (Hilda Ilhamil Arofah)