Kompetensi Khusus Guru SLB Tunanetra

Selasa, 2017 adminbaru
Kompetensi

TOP CAREER – Tak seperti guru di sekolah umum, menjadi guru SLB (Sekolah Luar Biasa) tidak mudah. Selain harus memiliki kesabaran yang ekstra guru di bidang ini juga harus dibekali dengan berbagai macam kompetensi. Yuyu Yulianingsih salah satunya, guru SLB A Pembina Lebak Bulus, bercerita tentang kompetensinya menjadi guru untuk murid tunanetra.

“Untuk keterampilan sebenarnya di sekolah berkebutuhan khusus itu ada beberapa tingkatan. Kalau ibu kan fokus ke A (sekolah khusus tunanetra). Jadi keterampilannya yaitu baca tulis braille. Itu pokok banget dan harus dipahami banget,” ucap Yuyu kepada TopCareer.id.

Jika melihat pada Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 20 disebutkan bahwa pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah pendidikan khusus. Di  dalamnya mengatur tentang satuan pendidikan yang terbagi dalam beberapa jenis. Seperti SLB A khusus tunanetra, SLB B untuk tunarungu, SLB C untuk tunagrahita, SLB D untuk tunadaksa, SLB E untuk tunalaras, dan SLB G untuk cacat ganda.

Setiap guru di sekolah-sekolah SLB ini, menurutnya harus memiliki keterampilan masing-masing. Seperti pada SLB B khusus murid tunarungu, guru yang mengajar di sana harus memiliki keterampilan bahasa isyarat sebagai media komunikasi dan mengajar. Pun dengan guru-guru yang mengajar di SLB tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, dan cacat ganda. Meski dirinya tidak tahu pasti keterampilan apa yang harus dikuasai.

Untuk menciptakan kelas yang kondusif, setiap kelas di sekolah tunanetra hanya berisi 1-5 orang saja. Sebab, guru yang mengajar di kelas harus memberikan perhatian kepada tiap murid secara individual bukan secara klasikal seperti kelas pada umumnya.

“Ada pula yang mencapai hingga delapan orang perkelas, tapi itu biasanya disertai dengan dua guru yakni guru utama dan guru asisten,” ucap Yuyu.

Berdasarkan ganguan penglihatan yang dialami, murid tunanetra akan dibedakan menjadi dua, yakni murid dengan penglihatan low vision artinya murid yang memiliki sebagian kemampuan penglihatan namun kurang awas, dan murid yang mengalami totally blind  kebutaan total.

Ketika di kelas guru juga harus memperhatikan pencahayaan dan penempatan bangku. Di mana jika dikelas Yuyu, dirinya membentuk bangku menjadi triple U. Dengan posisi Yuyu berada di tengah. Sedangkan untuk pencahayaan, anak dengan kebutuhan low vision harus diutamakan. 

“Jika ada dua murid yang low vision dan satu lagi buta total. Maka harus diatur dengan cara memperhatikan yang low vision. Karena anak yang low vison harus mempunyai penerangan yang cukup. Jadi cahaya itu memang betul-betul harus diberikan ketika mengatur ruangan,” ucap Yuyu.

Pada mata pelajaran yang membutuhkan kemampuan membaca dan menulis, Yuyu mengatakan ada empat kemampuan dasar yang harus diperhatikan oleh guru, mencakup kemampuan mendengar, menyimak, membaca dan menulis. Tetapi, bagi murid yang tidak memiliki masalah dengan inteligensi, dan pendengaran, kemampuan murid tunanetra sama seperti anak pada umumnya.

Rata-rata yang membedakan mereka menurut Yuyu adalah dari kemampuan membaca dan menulis. Yang mana untuk murid dengan kemampuan low vision ringan, dapat menggunakan tulisan awas, mereka juga dapat membaca dengan menggunakan kaca pembesar atau buku yang berhuruf cetak tebal. Sedangkan pada anak yang mengalami totally blind, mereka bisa membaca dengan menggunakan huruf braille.

“Huruf braille mempunyai 6 titik atau dot. Masing-masing huruf terdiri dari beberapa titik. Contoh huruf a titik 1, huruf b titik 1 dan 2 dan seterusnya. Di baca dengan menggunakan ujung jari dari kanan ke kiri,” ucap Yuyu.

Dalam mengasah keterampilan menulis, Yuyu mengatakan ada beberapa cara yang bisa digunakan. Di  antaranya dengan menggunakan papan pantule (Papan Tulis Braille). Papan pantule ini biasanya sudah diperkenalkan kepada murid dari usia TK.

Papan ini terbuat dari kayu berbentuk kotak persegi panjang. Di mana pada papan tersebut terdapat beberapa petak kotak yang berlubang-lubang, setiap kotak memuat enam lubang atau titik. Setiap titik akan diisi oleh sejenis baut yang terbuat dari alumunium atau terbuat dari paku-paku kecil. Dibuat umumnya seperti titik-titik pada huruf braille.

“Baut-baut ini nantinya bisa dibaca oleh murid dalam proses membaca. Jadi papan pantule ini mempunyai 2 fungsi selain untuk menulis juga untuk membaca,” ucap Yuyu.

Media selanjutnya yang bisa digunakan untuk media tulis adalah reglet dan pena berbentuk paku. Alat ini terdiri dari 2 plat yang dihubungkan dengan engsel. Plat bawah mempunyai lubang-lubang tak tembus yang berfungsi sebagai cetakan titik-titik. Plat atas berfungsi sebagai lubang-lubang tembus berfungsi sebagai pengarah dalam menulis huruf braille. Reglet ini bentuknya lebih kecil dari papan pantule dan terbuat dari alumunium atau plastik.

Cara memakainya cukup kertas dimasukan atau dijepit oleh reglet, kemudian ditusuk dengan menggunakan paku yang disebut pena. Ditulis bergerak dari kanan ke kiri. Reglet ini menurut Yuyu sangat praktis digunakan dalam pembelajaran.

Mesin ketik braille Perkins menjadi media selanjutnya, mesin ini terbuat dari besi yang berisi beberapa tombol sebagai pengatur huruf, layaknya seperti huruf pada braille dan 2 tombol di samping kiri dan kanan sebagai pengatur kertas.

Menurut wikipedia dalam mesin ketik ini setiap abjad direpresentasikan oleh keenam titik- titik timbul braille,sehingga jika dirangkai dapat membentuk kata-kata. Selain kombinasi titik timbul huruf braille, mesin Perkins juga memiliki tombol spasi, tombol backspace untuk menghapus dan tombol spasi perbaris. Layaknya mesin ketik manual, mesin ketik Perkins ini memiliki dua sisi alat putar untuk memasukkan dan mengeluarkan kertas. 

Dan media terakhir adalah komputer yang dilengkapi dengan sistem JAWS (Job Access With Speech). Umumnya komputer ini menurut Yuyu mulai diperkenalkan sejak murid berada di kelas 3 SD.

Berdasarkan wikipedia Indonesia, JAWS ini dilengkapi dengan layar yang memiliki kemampuan untuk melafalkan teks (teks to speech) yang ditampilkan atau ada juga yang dengan menerapkan teknologi braille display. Keyboard pada komputer ini memiliki peranan penting karena dapat digunakan untuk berinteraksi langsung dengan monitor.

Secara sederhana, cara kerja JAWS pada setiap perintah yang dimasukan melalui keyboard akan dibacakan oleh software menjadi bentuk audio. Semisal saat menekan huruf a, maka komputer akan menyebut huruf a dalam bahasa Inggris. 

Pada pembelajaran yang mengharuskan menghitung, media yang digunakan pun berbeda. Yuyu biasanya menggunakan media abacus (sempoa) untuk mempermudah penghitungan yang dilakukan oleh murid tunanetra.

“Kalau orang awam untuk mengoret-oret soal matematika menggunakan kertas. Kalau anak tunanetra mereka menggunakan abacus,” tambah Yuyu.

Selain mengajarkan bidang mata pelajaran, di sekolah tunanetra juga terdapat kelas keterampilan, massage atau memijat salah satunya. Di mana keterampilan ini harus dimiliki oleh setiap guru tunanetra.

Terkecuali guru di sekolah menengah pertama (SMP) tunanetra atau sekolah menengah atas (SMA) tunanetra yang fokus ajarannya sudah mengarah pada mata pelajaran. Dengan keahlian ini, diharapkan selepas murid lulus nanti mereka dapat menjadi mandiri.

“Massage itu sebenarnya ciri khasnya kelas tunanetra. Alumnus SLB mereka lebih banyak mencari pekerjaan yaitu massage atau memijat. Karena biasanya keterbatasan perusahaan dalam menerima mereka (kerja). Dari pada mereka meminta-minta di jalanan dan sebagainya, lebih baik mereka membuka panti pijat,” ucap Yuyu.

Orientasi mobilitas (OM) juga menjadi kompetensi lain yang harus diajarkan oleh guru. OM ini menurutnya, merupakan metode pengenalan murid tunanetra terhadap lingkungan.

“Seperti tadi melihat anak berjalan membawa tongkat, menyusuri jalan sekitar sekolah. Nah anak itu sebenarnya sedang belajar, belajar memahami lingkungannya. Bagaimana caranya berjalan sendiri atau berjalan berdampingan dengan temannya.”

“Jadi, supaya anak tidak ketergantungan. Semisal, ketika anak mau ke tempat orang tuanya harus digandeng oleh guru. Itu tidak bisa. Jadi nanti anak bisa ke orangtuanya dengan berjalan sendiri,” tambah Yuyu.

Dari ragam kompetensi dan tujuan yang ingin dicapai, dapat ditarik kesimpulan bahwa menjadi guru SLB memang harus berasal dari pendidikan luar biasa (PLB) dan bukan dari jenjang jurusan lain seperti psikologi. Seperti latar belakang Yuyu yang memang dulunya berkuliah di Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB) Bandung pada 1982.

“Kalau untuk sekarang, fokus menjadi guru SLB itu memang harus ada latar belakang dari jurusan ke PLB an. Dan sekarang ini mulai banyak universitas yang membuka jurusan tersebut, di UNJ (Universitas Negeri Jakarta) sudah ada, kemudian UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) itu ada juga,” ucap Yuyu.

Guna memberikan pembelajaran yang efektif, dinas pendidikan telah menetapkan kurikulum yang dianggap sesuai untuk diterapkan di sekolah tunanetra yaitu kurikulum 2013. Di dalam kurikulum ini berisi tentang pembelajaran tematik.

Bagi yang belum mengetahui pembelajaran tematik, yaitu pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna pada siswa. Semisal yang dipakai oleh Yuyu dengan memasukan tema olahraga, bahasa Indonesia, seni budaya dalam satu pembahasan.

“Jadi, ketika murid kami bawa keluar di sana kami ajarkan permainan ular naga. Di dalam pembelajaran ular naga itu, murid dapat belajar olahraga, bahasa Indonesia dan menyanyi, yang mana nyanyi merupakan salah satu seni budaya,” ucap Yuyu. (Nur Lella)