real
        time web analytics

Dari Kami

Alur Tes Perawat di Rumah Sakit


TOPCAREER.ID – Lulus dari sekolah keperawatan pasti yang diincar bisa bekerja di rumah sakit atau instansi kesehatan lain biar ilmunya enggak sia-sia. Sebelum melamar di rumah sakit, ada baiknya tahu dulu seleksi seperti apa yang bakal kamu lalui. Setidaknya kamu pegang kisi-kisi.

Salah seorang perawat pelaksana Rumah Sakit Jakarta, Sri Fujiyati mengatakan kurang lebih ada 5 tahapan tes yang harus ia lalui sampai masuk ke instansi di tempat ia bekerja saat ini.

Psikotes

Tahapan pertama setelah lolos administrasi adalah, psikotes. Kala itu, cerita Puji, diberi waktu satu jam untuk mengisi jawaban soal psikotes. Dan di hari yang sama, ia disuruh mengerjakan tes tertulis soal keahlian keperawatan.

Uji Kompetensi Tertulis

Masih di hari yang sama, tes tertulis ini dilakukan setelah psikotes. Ya , soal-soal yang keluar seputar ilmu keperawatan, yang lebih ditekankan pada kebutuhan dasar manusia. Serta diagnosa-diagnosa keperawatan terhadap penyakit.

Interview dengan SDM

Kalau di perkantoran ada yang namanya human resources department (HRD), nah kalau di rumah sakit ada bagian sumber daya manusia (SDM). Setelah lolos tes tertulis kemudian dipanggil lagi untuk tahap interview. Pertanyaan yang muncul saat interview ini ya seperti HRD pada umumnya, misal motivasi kerja.

“Tentang motivasi kerjanya apa, jawabnya pertama saya jujur sih cari duit, dengan bahasa yang lebih baik. Nyari duit sama kembangin ilmu saya. Sekolah saya tentang keperawatan, jadi saya lamar ke rumah sakit ini (Rumah Sakit Jakarta),” kata Puji kepada TopCareer.id.

Interview Divisi Keperawatan

Masih di hari yang sama, setelah interview dengan bagian SDM, kemudian lanjut ke divisi keperawatan di Rumah Sakit Jakarta. Wawancaranya lebih dalam mengenai keperawatan itu sendiri karena divisi ini yang mementukan kandidat cocok ditempatkan di mana.

Kala itu, Puji ditanya-tanya soal anatomi sistem perkemihan, lalu perjalanan suatu penyakit seperti apa. Misal, diberi contoh suatu penyakit, lalu ditanya diagnosa keperawatannya apa, sampai nanti implementasi atau treatment yang mau diberikan oleh seorang perawat bagaimana.

“Jadi aku ditanyain tentang anatomi sistem perkemihan. Dari minum itu nanti larinya ke mana, jatuhnya ke mana, keluar dari mana. Sama diagnosa penyakit, waktu itu aku tentang penyakit sistem perkemihan, kira-kira diagnosa keperawatan yang sering muncul di sistem perkemihan itu apa.”

Interview Komite Keperawatan

Agak berbeda dengan divisi keperawatan, pada komite keperawatan keterampilan kandidat sangat dilihat. Pertama pasti ditanya sertifikat atau pelatihan apa yang pernah diikuti. Saat itu Puji hanya punya sertifikat yang minimal dimiliki oleh lulusan sekolah perawat, yakni pelatihan bantuan dasar hidup.

Kemudian kembali ditanya soal diagnosa keperawatan suatu penyakit, baru kemudian disuruh melakukan praktik. Puji bertutur, waktu itu ia disuruh praktik memasang infus yang benar, ada juga yang disuruh ambil spesimen darah, atau melakukan pemasangan kateter (selang yang dimasukkan tubuh untuk mengeluarkan atau memasukkan cairan ke dalam rongga tubuh).

“Setelah praktik dievaluasi kekurangannya apa. Waktu aku tuh dikritik kurang komunikasinya. Dikritik juga masalah penampilan. Mereka bilang memang enggak butuh penampilan yang menarik sih, tapi setidaknya enak dilihat,” pungkas perempuan yang sudah 2 tahun bekerja di Rumah Sakit Jakarta ini.

Setiap rumah sakit memang akan berbeda cara menyeleksi kandidatnya, tapi yang paling dasar tentu menguasai materi keperawatan itu sendiri. Kemudian jujur dalam menjawab setiap pertanyaan, karena itu yang lebih dihargai. Terakhir, soal penampilan. Layaknya seleksi kerja di mana pun, penampilan jadi modal pertama bertemu para interviewer.

0 Comments

Lowongan Terbaru