real
        time web analytics

Dari Kami

Asia Tenggara Jadi Wilayah Berbahaya Bagi Jurnalis


Ilustrasi.

TOPCAREER.ID – Menjadi jurnalis kerap dikaitkan dengan ancaman-ancaman tak mengenakkan, bahkan pertaruhan nyawa. Di Asia Tenggara, pekerjaan jurnalis kerap bersinggungan dengan ancaman dan kurungan penjara selama menjalankan tugasnya. 

Anggota Dewan ASEAN Parliamentarians for Human Rights (APHR), Teddy Baguilat yang juga anggota Dewan Perwakilan Filipina mengatakan bahwa bukan hanya penjahat (yang berhubungan dengan narkoba) yang menghadapi risiko kematian di Filipina. Bahkan, jurnalis berada di bawah ancaman yang sama. 

“Media berada di bawah ancaman yang meningkat di seluruh Asia Tenggara. Adalah hal yang menjijikkan bahwa wartawan yang berani harus membahayakan kebebasan pribadi mereka atau bahkan hidup mereka hanya karena melakukan pekerjaan mereka,” kata Teddy dalam laman The Asean Post.

Berdasarkan laporan penghitungan kematian jurnalis baru-baru ini oleh International Press Institute (IPI), Filipina adalah negara paling berbahaya di Asia Tenggara bagi wartawan. Laporan menunjukkan bahwa 177 wartawan dan pekerja media telah terbunuh di sana sejak 1986; 47 dalam dekade terakhir. 

Hal tersebut lantas menempatkan Filipina di antara lima negara di dunia dengan catatan akuntabilitas termiskin, menurut Committee to Protect Journalists (CPJ). Empat negara lainnya adalah Somalia, Suriah, Irak dan Sudan Selatan.

Tak Hanya Filipina

Tidak hanya di Filipina, kekerasan terhadap wartawan juga terjadi di wilayah lainnya di Asia tenggara. Seperti di Kamboja, Thailand, Myanmar, juga Vietnam. Beberapa negara di Asia Tenggara ini membuat profesi jurnalistik jauh dari rasa aman dan sulit berekspresi. 

Ancaman terhadap wartawan tidak hanya terbatas pada pembunuhan, ada yang dipenjara hanya karena membuka kebenaran. CPJ memilih Vietnam sebagai salah satu pelanggar terburuk, karena sedikitnya 16 wartawan dan blogger telah dipenjara di sana sejak 2016.

Di Myanmar, dua wartawan Reuters (Wa Lone dan Kyaw Soe Oo) dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara pada bulan September tahun ini karena melanggar Official Secrets Act yang kuno. Satu-satunya "kejahatan" mereka adalah membantu mengungkap pembantaian penduduk desa Rohingya oleh pasukan keamanan Myanmar.

Di Kamboja setidaknya ada 13 wartawan yang telah dibunuh sejak tahun 1994. Banyak di antara mereka yang tengah menyelidiki dan melaporkan dugaan korupsi oleh petinggi-petinggi di pemerintahan dan militer. Sementara, di Thailand ada 10 wartawan yang telah dibunuh sejak 1998.

Setiap negara ASEAN saat ini menduduki peringkat di atas 120 dari 180 negara di World Press Freedom Index. Indonesia berada di peringkat tertinggi di antara negara-negara ASEAN dalam indeks, yakni di peringkat 124. Sementara Vietnam adalah yang terendah di wilayah ini di peringkat ke-175. Negara-negara lain seperti Malaysia dan Singapura masing-masing berdiri pada 145 dan 151.

“Pemerintah harus berbuat lebih banyak untuk melindungi wartawan dan memastikan bahwa mereka yang bertanggung jawab untuk membunuh pekerja media dibawa ke pengadilan. Apapun yang kurang hanya akan mengirimkan sinyal bahwa kejahatan semacam itu dapat diterima,” ujar Teddy.

 

0 Comments

Lowongan Terbaru