real
        time web analytics

Dari Kami

Atlet Bintang Digodok Sejak Berpopok


Sumber: Aly Song/Reuters

TOPCAREER.ID – Tiga posisi tertas dalam perolehan medali Asian Games selalu ditempati oleh Cina, Jepang, dan Korea Selatan, bahkan di 2018. Tak hanya Asian Games namun juga pertandingan olahraga multi-event lainnya. Atlet mereka selalu menunjukkan performa bintang olimpiade. Tapi tak heran jika hal itu terjadi karena para atlet ini sudah digodok sejak kecil, sejak masih berpopok.

“Kamu akan mendapati anak-anak kecil yang sebenarnya masih berpopok, namun menakjubkan jika melihat apa yang bisa mereka lakukan pada usia itu. Mereka membungkuk seperti pretzel ketika melakukan latihan fleksibilitas,” kata Antropolog University of Missouri-St. Louis, Susan Brownell saat masuk ke gym senam di Shanghai Yangpu Youth Amateur Athletic School, Beijing, dikutip dari Business Insider.

Latihan, Latihan, Latihan…

Brownell menggatakan bahwa mereka sering mengubah olahraga yang disukai menjadi rutinitas yang monoton. Apalagi sekolah-sekolah olahraga yang menaungi atlet-atlet ini kerap menjadikan medali emas sebagai target utama. 

“Mereka pada dasarnya makan, berlatih, dan seharusnya pergi ke kelas, tetapi tidak selalu. Sebagian besar dari mereka melakukannya untuk alasan pragmatis, yaitu untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri dan keluarga mereka," ucap Brownell.

Begitupun yang terjadi di Korea Selatan bahwa untuk mencapai tingkat keunggulan tidak terjadi begitu saja, bukan karena kebetulan. Banyak jadwal latihan yang harus dilalui selama berjam-jam setiap hari, malah tak sempat bermain dengan teman-teman. 

Para atlet menerapkan hal semacam ini untuk pelatihan, mendedikasikan diri mereka untuk olahraga mereka dari usia muda. Pokoknya olahraga ada di atas semua aspel lainnya, seperti bersosialisasi, hobi, bahkan studi mereka.

Penari es Korea Selatan di Pyeongchang 2018 Yura Min dibesarkan di Amerika Serikat tetapi mengatakan bahwa keluarganya "sangat kultural Korea" sehingga orang tuanya selalu menanamkan kebiasaan kerja yang ketat dalam diri Yura Min sejak usia muda.

Dia mulai bermain skating berusia 6 tahun dan mengingat bahwa selalu bangun pada pukul 04.30 pagi untuk latihan yang diikuti dengan satu hari penuh di sekolah.

Sepulang sekolah, ia pergi untuk kelas biola, taekwondo, dan balet di malam hari. Ketika bakatnya bermain skating menjadi jelas, dia meninggalkan aktivitas-aktivitas lain dan hidupnya mulai berputar di sekitar waktu di atas es.

“Ibuku akan mengikutiku ke pelatihan, dan ayahku bekerja. Saya hanya ingat beberapa kali di mana kami semua duduk dan makan malam. Saya berharap kami semua bisa duduk-duduk dan berbicara tentang hari-hari kami, tetapi kami semua memiliki hal lain untuk dilakukan," kata Min dalam laman Al Jazeera.

Jadi Atlet Andal Angkat Status Sosial

Sementara, dari Business Insider menyebut bahwa banyak siswa dari keluarga kurang beruntung di Cina melihat olahraga sebagai tiket mereka keluar dari kemiskinan. Susan Brownell mengatakan, memenangkan medali di olimpiade bisa membawa peluang bagi atlet dan keluarganya untuk tinggal di kota dengan status yang berbeda. 

Bronzell menambahkan, para orangtua yang memiliki pendidikan perguruan tinggi cenderung tak mendukung anak-anak mereka terjun ke bidang olahraga. “Karena di sekolah-sekolah asrama olahraga ini pendidikannya tidak terlalu bagus," ujar Bronzell.

Sejak awal di sekolah umum, anak-anak dibagi ke dalam lima kategori tergantung pada bakat mereka: olahragawan master internasional, olahragawan master nasional, Kelas 1, Kelas 2, dan Kelas 3. Hanya anak-anak di Kelas 1 atau lebih tinggi yang umumnya mengikuti sekolah asrama olahraga.

Sekolah-sekolah olahraga yang tak terhitung jumlahnya seperti itu di Cina memiliki fasilitas pelatihan canggih bagi anak-anak untuk mengasah bakat mereka.

 

0 Comments

Lowongan Terbaru