real
        time web analytics

Dari Kami

Bangun Budaya Kantor Jadi Cara Jaga Kestabilan Perusahaan


TOPCAREER.ID – Menguatkan budaya perusahaan menjadi salah satu cara untuk menjaga kestabilan di tengah tahun politik dan pertumbuhan ekonomi global yang dinilai turun. Kultur yang mengedepankan keterlibatan karyawan menjadi krusial, dan di sini ada peran pemimpin yang jadi tumpuan.

Kondisi ekonomi global dan suasana politik yang tengah menghangat di Indonesia berpotensi menimbulkan ketidaktsabilan atau kondisi VUCA: penuh gejolak (volatility), ketidakpastian (uncertainty), rumit (complexity), dan serba kabur (ambiguity). 

“Dalam guncangan VUCA, budaya perusahaan sangatlah penting utamanya menggalang kekuatan internal, satu-satunya yang bisa diandalkan menghadapi lingkungan bisnis yang berubah. Sebab, lewat budaya di lingkungan kerjalah, karyawan bisa melihat bagaimana mereka berandil dalam organisasi, berhubungan dengan atasan, memecahkan masalah, serta memahami tujuan perusahaan,” kata Paul J. Siregar, MSc.C.Eng, CEO Dale Carnegie Indonesia.

Namun, dari survei terbaru Dale Carnegie & Associates di lima negara (Jerman, Polandia, India, Amerika Serikat dan Indonesia) mengungkap bahwa 45 persen pemimpin perusahaan merasa tekanan untuk meningkatkan produktivitas menjadi tantangan utama membangun budaya perusahaan yang demikian.

Sementara, 39 persen pemimpin menganggap transparansi di tempat kerja dan meningkatnya mobilitas (keluar-masuk) karyawan menjadi penyebab lain sulitnya tercipta budaya kuat sebuah perusahaan. 

“Budaya perusahaan yang kuat, atau culture champion, bisa tercapai jika para pemimpin perusahaan menyadari pentingnya keterlibatan karyawan. Di sinilah pemimpin yang mampu mengembangkan emosi positif berpengaruh besar,” imbuhnya.

Survei terbaru lain dari Dale Carnegie & Associates yang bertajuk ‘Pendorong Emosional Keterlibatan Karyawan: Bagaimana Organisasi dan Pemimpin Dapat Mengembangkan Emosi Positif’ menyatakan bahwa sebagian besar keputusan sangat dipengaruhi oleh emosi. 

Survei terhadap 3.300 responden di 10 negara ini (Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Inggris, Brasil, Cina, Jerman, Perancis, India dan Taiwan) memperlihatkan bahwa perasaan dihargai (valued), percaya diri (confidence), terhubung (connected) dan diberdayakan (empowerment) merupakan emosi-emosi positif yang perlu diperhatikan seorang pemimpin guna menciptakan keterlibatan karyawan.

Sebesar 55 persen dari responden mengaku tidak terlibat (disengaged) terhadap perusahaan apabila pemimpin mereka tidak mengasosiasikan emosi positif. Sebaliknya, 40 persen dari responden menjawab terlibat penuh (fully engaged) terhadap tempatnya bekerja jika pemimpin mereka menerapkan 3 sampai 4 emosi positif tersebut. 

Tak hanya emosi positif, di dalam sebuah perusahaan tentu sangat umum karyawan merasakan emosi negatif terkait hubungan dengan pemimpin mereka. Riset di atas menyebut, 1) cemas (14%), 2) tidak tertarik (11%), dan 3) terganggu (10%) merupakan ragam emosi negatif karyawan perusahaan yang sering dipicu oleh atasan langsung mereka.

“Menghadapi tantangan VUCA, manajemen perusahaan mau tidak mau harus berbenah diri untuk menguatkan budaya di lingkungan kerja demi kelangsungan bisnis. Tak berhenti di situ, mereka juga hendaknya membuka mata untuk melihat seberapa mampu para pemimpin bisa memberi inspirasi emosi positif kepada karyawan,” tegas Paul. 

Lebih lanjut, hasil survei Dale Carnegie menunjukkan besarnya peran para pemimpin dan atasan langsung dalam menguatkan – atau bahkan melemahkan – keterlibatan karyawan. 

 

0 Comments

Rekomendasi

Terkait

Skills