real
        time web analytics

Dari Kami

Berjuang Bangun Kafe untuk Bantu Kaum Tunarungu


Dissa Syakina Ahdanisa.

TOPCAREER.ID – Agak canggung memang ketika ingin ngopi-ngopi atau santap camilan di kafe yang dilayani oleh penyandang difabel tunarungu. Namun, di balik itu tentu ada misi sosial untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi tunarungu atau kaum difabel ini. Deaf Café Fingertalk jadi bentuk perjuangan Dissa Syakina Ahdanisa dalam memulai misinya.

Sederhana, Dissa ingin memberikan manfaat lebih banyak dan berjuang untuk mereka yang memiliki keterbatasan. Mengekor jejak sang ibu yang dekat dengan penyandang disabilitas, Dissa seolah memupuk rasa empatinya untuk kaum difabel, khususnya tunarungu. 

Ide kafe yang mempekerjakan orang-orang dengan keterbatasan itu muncul ketika dirinya mampir ke Café de las Sonrisas di Nikaragua. Di kafe itu, ia melihat bahwa semua pelayan hingga juru masaknya adalah tunarungu. Namun, pemilik kafe itu bukanlah seorang tunarungu.

Dissa yang pernah bekerja di Singapura ini kemudian bertemu Ketua Gerakan Kesejahteraan Tunarungu Indonesia, Pat Sulistyowati. Bersama Pat, ia berbincang soal keinginannya membantu tunarungu untuk memiliki lahan pekerjaan. Alhasil gayung bersambut. 

Mulai dari bangunan sederhana di Pamulang hingga pencarian kandidat pegawai tunarungu, Pat ikut berjasa membantu mimpi Dissa. Demi mewujudkan kafe impiannya itu, Dissa juga harus menyisihkan 30 persen gajinya saat bekerja di Singapura. 

Selain modal dana, Dissa sadar perlu berbekal kemampuan untuk bisa bahasa isyarat. Ia mengambil kursus bahasa isyarat di Singapura demi kelancaran komunikasi nanti. Hingga pada Mei 2015 Deaf Cafe Fingertalk resmi berdiri di Pamulang dengan 5 pegawai tunarungu sebagai koki serta pramusaji. 

Beberapa kali ia dihampiri pertanyaan yang sama, sudah mapan bekerja di Singapura kenapa mau dirumitkan oleh persoalan orang-orang tunarungu lewat kafe? Dissa hanya bisa menegaskan bahwa dirinya ingin membuat sesuatu untuk masyarakat yang kurang diperhatikan, salah satunya tunarungu.

Malah perjuangannya tak berhenti di satu Deaf Café Fingertalk Pamulang. Pada 2016, Deaf Café Fingertalk membuka cabang baru di Cinere, Depok. Bahkan kafe di Cinere ini ada tempat cuci mobilnya, dan tentu dengan pegawai yang juga komunitas tunarungu. 

Perjuangannya terhadap kaum difabel lewat Deaf Café Fingertalk, menghadirkan pejuang-pejuang seperti Dissa di daerah lain, di luar Pamulang dan Cinere. Dikutip dari berbagai sumber, Dissa bercerita bahwa ada yang berniat merintis usaha seperti yang Dissa lakukan dalam membangun Deaf Cafe Fingertalk, namun di daerah Poso. 

Kemudian, seorang temannya di Botswana juga menyatakan niat yang sama untuk membangun Deaf Cafe Fingertalk dengan nama dan konsep yang sama di Bostwana. Dari tanggapan-tanggapan itu, rasanya perjuangan Dissa berbuah manis. 

Ia hanya berharap kafe-kafe seperti Fingertalk bisa semakin menjamur di kawasan mana pun. Karena meski perannya mungkin tak terlalu besar, kafe itu bisa mewadahi tunarungu yang ingin menyalurkan bakat di bidang kuliner. Pun sebagai wadah komunikasi antara tunarungu juga komunitas hearing (sebutan orang normal yang mengerti dan bisa bahasa isyarat).

 

0 Comments

Lowongan Terbaru