real
        time web analytics

Dari Kami

Cerita Berdarah Startup Edukasi Gaet Partner Institusi


Ilustrasi.

TOPCAREER.ID – Terpentok regulator hingga kesulitan mengubah mindset dari zaman dinosaurus ke era serba digital, merupakan sekelumit kendala dalam membangun partnership untuk startup berbasis pendidikan (education-technology). Selalu ada cerita berdarah-darah dari proses berdirinya stratup yang mulai dari nol. 

Malam hari usai acara BukaTalks, Gerald Ariff menceritakan kepada TopCareer.id bagaimana sulitnya memperoleh perjanjian partnership dari rekan-rekan perguruan tinggi di awal perintisan Haruka Edu. Kala itu, ingatnya, untuk menjalin satu partner perguruan tinggi saja bisa memakan waktu satu setengah tahun. 

“Selama 3-4 tahun ini saya kunjungi ratusan universitas, susah setengah mati. Ratusan universitas untuk dapat satu (partnership) aja setengah mati,” kenang Gerald yang kini menjabat Chief Partnership Officer (CPO) di Haruka Edu diselingi tawa. 

Perangi Mindset Zaman “Dinosaurus”

Sebagai portal pendidikan formal dan informal berbasis online, Haruka Edu perlu menggaet perguruan tinggi demi menambah kelas pendidikan formal yang nantinya bisa dijangkau siapapun. Basis belajar dengan sistem e-learning (electronic learning) yang saat itu belum populer (Haruka Edu berdiri pada 2013), jadi faktor pertama susahnya gaet partner perguruan tinggi. 

Menurut Gerald, pada saat itu banyak perguruan tinggi yang masih menggunakan metode belajar secara reguler, dan belum paham soal dunia digital, termasuk e-learning. Gerald seolah dipaksa untuk mengubah mindset orang-orang yang ia istilahkan sebagai manusia zaman dinosaurus ini. 

“Jadi ini yang kami lakukan. Kami masuk ke perguruan tinggi, lalu kami transform isinya, mindset-nya, dan itu susah setengah mati untuk merubah mindset. Karena critical thinking, toleransi, kalau enggak dipogram dari kecil gitu, susah. Kami harus bisa reformat,” ujar lelaki lulusan S1 King's College London.

Hampir semua co-founder Haruka Edu terjun untuk melakukan pendekatan meraih tanda tangan perjanjian partnership dengan instansi pendidikan formal. Pertemuan demi pertemuan dengan para rektor pun dilakukan untuk melancarkan serangan, tapi masih saja banyak alami penolakan.

Lagi-lagi mengubah mindset dirasa jadi PR (pekerjaan rumah) tersendiri. Butuh waktu lama untuk mengerjakan PR satu ini jika hanya dilakukan sendiri.

Terkendala Regulasi 

Keadaan yang mengharuskan Gerald mereformat mindset itu makin diperparah dengan regulator pemerintah soal pendidikan jarak jauh (PJJ) yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) pada Pendidikan Tinggi. 

Saat itu regulasi ini belum tersosialisasi dengan baik sehingga masih menjadi ranah abu-abu bagi perguruan tinggi. PR lainnya yang perlu diurai oleh Haruka Edu. Perguruan tinggi enggan mengikat kontrak dengan Haruka Edu sebab regulasi tersebut. 

“Penerapannya, sosialisasinya kurang, pengelola perguruan tinggi ketakutan. Ngomong sama yayasan, apalagi ngomongin peraturan, ‘Kita enggak mau deh.’ Tapi kemudian (pendidikan) reguler ambruk,” ucap Gerald.

Seiring berjalannya waktu, pemerintah malah semakin mendorong instansi pendidikan untuk memiliki sistem belajar melalui online, semuanya perlu go digital. 

Perlahan namun pasti, mindset zaman dinosaurus yang melekat di institusi pendidikan pun kian terurai, partnership perguruan tinggi yang diharapkan Haruka Edu lantas terkumpul satu per satu.

“Sekarang, tahun ini justru mendukung semua perguruan tinggi masuk online. Dalam 6 bulan bisa dapat 5-6 perguruan tinggi, kami sudah didukung regulator. Sekarang partner sudah ada 20-an lebih.”

Pesan Gerald agar tiap pendirian startup, apapun bentuknya, tetap perlu patuh pada regulasi yang ada di kawasan tersebut. Pada akhirnya kembali lagi pada visi startup itu yang perlu diperkuat, di mana Haruka Edu bermaksud membantu pemerintah dalam hal pendidikan. 

 

0 Comments

Lowongan Terbaru