real
        time web analytics

Dari Kami

Cewek-Cewek Keren Bicara Soal Profesinya Sebagai Pilot Drone


Pilot drone perempuan, Ellie Mackay.

TOPCAREER.ID – Berprofesi sebagai pilot drone untuk beragam kebutuhan memang sering didominasi oleh kaum lelaki, namun bukan berarti kesempatan ini tertutup bagi perempuan. Malah beberapa perempuan berikut berprofesi sebagai pilot drone yang keren di industri masing-masing.

Civil Aviation Authority (CAA) mencatat pada Maret 2017, hanya 3 persen dari pilot maskapai di seluruh dunia adalah perempuan. Namun, dilansir dari The Guardian, mereka para perempuan ini bangga memiliki keahlian yang masih didominasi laki-laki. 

Gail Orenstein, seorang jurnalis foto, menggunakan drone untuk mengakses area yang sulit seperti kamp pengungsi dan zona konflik

“Sebagai perempuan, kita tidak boleh kalah dengan teknologi ini. Kami tidak bisa kalah dalam perspektif perempuan. Saya khawatir, karena saat ini industri UAV (unmanned aerial vehicle) didominasi oleh pertanian besar, militer, dan industri besar. Ini didominasi oleh laki-laki, dan itu bisa jadi luapan,” kata Gail kepada The Guardian

Gail sudah menjadi jurnalis foto selama 25 tahun, dan kemudian tiga tahun lalu menemukan teknologi drone yang sangat relevan dengan bidangnya. Gail merupakan pilot sipil pertama yang menerbangkan pesawat tak berawak di Kurdistan. 

Menurut Gail, sedikitnya kaum perempuan yang menjadi pilot drone terkait masalah visibilitas. Ia menilai perlu ada lebih banyak foto seperti dirinya yang kemudian disebarkan lewat online sehingga perempuan lain dapat melihat ia dan teman-teman yang seprofesi melakukannya dengan bangga.

Gemma Alcock gabungkan dua passionnya: teknologi dan menyelamatkan nyawa

“Setelah menjadi sukarelawan sebagai penjaga pantai, dan kemudian dalam tanggap banjir, saya dapat menggabungkan dua passion saya ketika bekerja dengan RNLI (Royal National Lifeboat Institution) pada proyek akhir saya: teknologi dan menyelamatkan nyawa,” kata Gemma Alcock yang menggunakan drone untuk pencarian dan penyelamatan.

Ia lantas bercerita bahwa profesinya sebagai pilot drone bermula karena “tersandung” saat tahun terakir dia berkuliah di Bournemouth University pada manajemen bisnis desain. Sekarang ia jadi CEO di perusahaannya sendiri, SkyBound Rescuer, yang meneliti dan berkonsultasi tentang bagaimana menggunakan drone dalam emergency services.

“Menjadi muda dan seorang perempuan membuat saya menjadi minoritas ganda. Dan industri tempat saya bekerja - layanan darurat, drone dan startup - semuanya didominasi oleh pria.”

Tetapi, lajut dia, pengalaman tidak selalu yang paling penting, usia dan gender tidak selalu mencerminkan kemampuan, terutama ketika teknologi berkembang dengan cepat.

Pembuat film, Ellie Mackay menggunakan drone untuk mendokumentasikan dunia alam

“Saya selalu tertarik dengan konservasi, tetapi memotret di Borneo dengan UAV mengajarkan saya betapa hebatnya alat drone untuk pesan lingkungan,” ucap Ellie.

Pada 2014, Ellie membuat film dokumenter panjang tentang industri kelapa sawit di Kalimantan. Ia menyadari itu tidak mungkin dilakukan tanpa memberikan skala akurasi yang sebenarnya. Sebuah helikopter sangat mahal, jadi ia berlatih dan mendapatkan lisensi untuk menerbangkan drone.

Ia juga gunakan teknologi itu bersama The Plastic Tide, mendeteksi plastik di sepanjang garis pantai, menggunakan drone dan algoritma. Citra drone memungkinkannya berbagi pengalaman soal keinginan besar melindungi planet bumi. 

Sementara, menurut Ellie, alasan kurangnya perempuan di industri ini bisa disamakan dengan situasi pekerjaan Stem (Science, technology, engineering, and mathematics) secara luas. Fisika dan matematika (salah) dilihat sebagai subjek untuk anak laki-laki.

“Coba search drone pilot online, dan gambar (yang muncul) semuanya laki-laki. Saya menghabiskan waktu untuk mendorong wanita muda lainnya untuk terbang,” ujar Ellie. 

 

0 Comments

Lowongan Terbaru