real
        time web analytics

Dari Kami

Cuma Fokus Latihan, Atlet Korsel Rentan Nganggur


TOPCAREER.ID – Analis percaya bahwa atlet junior Korea Selatan diminta untuk melakukan pemfokusan di bidang olahraga terlalu ketat sehingga melupakan aspek lainnya, seperti masa muda hingga masa depan. Totalitas membentuk atlet berprestasi merampas kesempatan untuk belajar sebagaimana mestinya hingga keraguan karier masa depan. 

Profesor Ilmu Olahraga di Dong-A University, Chung Hee-Joon mengatakan kepada Al Jazeera bahwa setelah anak-anak di Korea Selatan mulai berlatih, mereka harus menyerah pada pelajaran mereka dan fokus sepanjang waktu. Hal itu membuat mantan atlet merasa kesulitan untuk memperoleh pekerjaan.

Sementara, persaiangan kerja di Korea Selatan kian menantang. Ribuan lulusan universitas bersaing untuk sejumlah pekerjaan yang stabil dan dibayar pantas di perusahaan besar. Sedangkan, mantan atlet selama masa muda, mereka tidak punya waktu untuk mengembangkan jenis keterampilan yang dicari oleh perusahaan.

Sebuah studi 2013 oleh Institut Ilmu Olahraga Korea, mensurvei 3.000 mantan atlet dan menemukan bahwa sekitar sepertiga dari atlet yang mereka survei berakhir menganggur.

“Sangat sulit bagi para atlet untuk mendapatkan pekerjaan selain melalui koneksi orangtua mereka, atau mengambil bisnis keluarga. Saat ini, atlet cenderung kebanyakan berasal dari keluarga kaya yang mampu membayar biaya pelatihan dan risiko yang terlibat,” ujar Chung dalam laman Al Jazeera.

Pemerintah Korsel Cari Jalan

Namun, segala sesuatunya berangsur-angsur membaik. Pemerintah Korea Selatan tampaknya memperhatikan tantangan yang dihadapi oleh para atlet yang pensiun, dan mengalokasikan sumber daya untuk membantu para atlet untuk mempersiapkan masa depan mereka.

Park Seong-Hee, seorang profesor manajemen olahraga di Hankuk University of Foreign Studies, selama hampir satu dekade bekerja pada program pemerintah Korea Selatan yang menasihati dan membantu atlet pasca-karier.

“Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata telah mereformasi sistem olahraga dari tingkat akar rumput dan mencoba membangun sistem pengembangan olahraga yang sehat. 

Pemerintah juga, sambungnya, mengembangkan banyak program pasca-karier untuk atlet, seperti pendidikan bahasa Inggris, pendidikan industri olahraga, program pensiun, dan beasiswa sekolah pascasarjana.

“Banyak atlet melihat akhir karier mereka sebagai hukuman mati. Mereka sering tidak memiliki kepercayaan diri untuk maju karena semua yang mereka lakukan dalam hidup mereka hingga saat itu adalah olahraga bermain."

Jatah Kursi PNS Atlet Berprestasi Jadi Angin Segar

Hal yang sama juga dilakukan oleh pemerintah Indonesia demi meminimalisasi nasib buruk yang kerap menimpa mantan atlet berprestasi di masanya. Hadiah berupa penempatan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) bagi atlet berprestasi kini jadi angin segar tersendiri bagi pejuang olahraga Indonesia.

Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) berkoordinasi agar mampu menempatkan atlet peraih medali di ajang-ajang bergengsi bisa menempati posisi PNS. 

Pada januari 2018 lalu, Kemenpora bersama Kemenpan RB bahkan sudah memastikan 137 atlet berperestasi akan dipromosikan menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Prioritas pengangkatan Pegawai PNS formasi khusus dari kalangan atlet berprestasi adalah berdasarkan capaian prestasinya baik tingkat dunia maupun tingkat ASEAN. 

“Kami berharap dengan adanya motivasi baru ini para atlet tidak memikirkan lagi hal-hal terkait dengan apa pekerjaan mereka di masa depan, jadi formasi khusus PNS ini mereka telah ada kepastian di masa depannya,” ujar Asman Abnur yang ketika itu menjabat sebagai Menpan RB, dikutip dari situs Sekretariat Kabinet.

Beberapa atlet yang mendapat penghargaan ini antara lain Ni Nengah Widiasih (Peraih Emas Angkat Berat, ASEAN Para Games 2017), Eki Febri Ekawati (Peraih Emas Tolak Peluru, SEA Games 2017), Eko Yuli Irawan (Peraih Perak Angkat Besi, Olimpiade Rio 2016), Sri Wahyuni Agustiani (Peraih Perak Angkat Besi, Olimpiade Rio 2016), Rifda Irfana Luthfi (Peraih Emas Senam, SEA Games 2017), I Gede Siman Sudartawa (Peraih Emas Renang, SEA Games 2017).

Atlet bulu tangkis nasional, termasuk Mohammad Ahsan (peraih emas ganda putra Asian Games 2014), Hendra Setiawan (emas Ganda Putra Asian Games 2014), Tontowi Ahmad (emas Ganda Campuran Olimpiade Rio 2016), Liliyana Natsir (emas Olimpiade Rio 2016), Greysia Polii (emas ganda putri Asian Games 2014), Anthony Gintings (emas Kejuraan Asia 2016, perak Thomas Cup 2016), Kevin Sanjaya (emas ganda putra All England 2017) Marcus Ferinaldi (emas ganda putra All England 2017).

Selain itu ada juga  Christopher Rungkat (Peraih Emas Tenis, SEA Games 2017) dan Lindswel Kwok (Peraih Emas Wushu, SEA Games 2015 dan 2017, Peraih Perak Taijiquan Championship Polandia 2016).

“Sementara menjadi atlet tentu juga menjadi pegawai di Kemenpora, setelah dia tidak jadi atlet lagi maka bisa dia didistribusikan sebagai pelatih di seluruh kementerian/lembaga atau dispora yang membutuhkan,” ujar Asman.

 

0 Comments

Lowongan Terbaru