real
        time web analytics

Dari Kami

Dulu Jurnalis, Kini Mereka Terjun ke Ranah Politis


TOPCAREER.ID – Para wartawan atau jurnalis yang ingin ikut maju dalam pemilihan legislatif harus meninggalkan profesinya terlebih dulu. Ada beberapa jurnalis yang wajahnya kerap kali nongol di televisi, namun kini meninggalkan dunia sebagai pewarta dan memilih berada di jalur politik.  

Meutya Hafid

Jurnalis satu ini akan diingat soal kisahnya yang pernah disandera pejuang Irak bersama kameramen Metro TV Budiyanto ketika meliput perang tahun 2005. Ketika terjun ke politik, Meutya Hafid sempat mencicipi pemilihan wali kota Binjai, Sumatera Utara untuk periode 2010-2015 sebagai wakil dari Dhani Setiawan Isma. Namun, sayang ia masih kurang beruntung pada pilkada kala itu. 

Meutya yang pernah diganjar Penghargaan Jurnalistik Elizabeth O’Neill dari pemerintahan Australia pada Oktober 2007 lalu ini juga sempat gagal saat mencoba melenggang ke Senayan pada Pemilu Legislatif (pileg) 2009. 

Karier politiknya menanjak saat dia akhirnya menjadi anggota DPR melalui proses pergantian antar waktu (PAW). Dia menggantikan politikus senior Golkar Burhanuddin Napitupulu yang meninggal dunia. Ia maju kembali menjadi anggota DPR dari Golkar pada periode 2014-2019 dan akhirnya terpilih dari daerah pemilihan (dapil) Sumatera Utara.

Isyana Bagoes Oka

Perempuan ini mengawali kariernya di dunia jurnalistik sejak tahun 2003. Hingga pada 2015 ia mengirim surat terbuka kepada media yang menyatakan bahwa dirinya bukan lagi seorang wartawan. Perempuan kelahiran 13 September 1980 ini dikenal sebagai jurnalis dan news anchor di sejumlah stasiun televisi. Mulai dari TransTV, TV7 (Trans7) hingga RCTI.

Isyana kini bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), partai bentukan Grace Natalie yang juga mantan jurnalis televisi. Grace Natalie disebut memiliki banyak pengaruh dalam keputusan Isyana saat memilih jalur sebagai politisi di PSI.  Bahkan ia sudah mendaftar sebagai caleg melalui PSI. Ia siap menggodok Rancangan Undang-Undang (RUU) penyiaran dan kebebasan berekspresi bila berhasil duduk di DPR.

Grace Natalie

Grace Natalie adalah mantan jurnalis dan pembawa acara berita di televisi. Ia telah beralih profesi menjadi politikus sejak 2012. Pada bulan Juni 2012, Grace Natalie resmi meninggalkan tvOne untuk menjadi CEO Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

Perempuan kelahiran Jakarta, 4 Juli 1982 ini pernah menjadi pembawa acara berita di SCTV, ANTV, dan tvOne. Pada tahun 2014, Grace Natalie masuk ke dunia politik dan mendirikan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Ia yang memimpin PSI pada usia 33 tahun itu menjadikannya sebagai ketua umum partai politik termuda di Indonesia. Grace pernah beberapa kali melakukan wawancara ekslusif dengan tokoh-tokoh internasional seperti Jose Ramos Horta (presiden Timor Leste), Steve Forbes (CEO Majalah Forbes), dan George Soros.

Andy Budiman

Andy Budiman pernah terlibat dalam berdirinya kantor berita 68H dan Tempo TV. Ia juga menjadi salah satu anggota Komite Nasional ketika Indonesia diundang di Frankfurt Book Fair 2015 bersama Goenawan Mohamad.

Andy yang merupakan mantan jurnalis ini memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai calon anggota legislatif pada pemilihan umum 2019 lewat Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Andy pernah menjadi redaktur Deutsche Welle, lembaga berita publik di Jerman.

“Saya di Parlemen nanti harus berupaya menghasilkan produk hukum, aturan, dan kebijakan yang bisa mendukung atau bahkan memperluas aspek-aspek kebebasan," kata Andy di kantor Dewan Pengurus Pusat PSI beberapa waktu lalu.

 

0 Comments

Lowongan Terbaru