real
        time web analytics

Dari Kami

Dunia Fashion Juga Butuh Psikolog


TOPCAREER.ID – Teori-teori psikologis bisa dikaitkan dengan dunia fashion, apalagi kalau menyangkut dengan kebutuhan konsumen dalam berpakaian. Nah, psikolog fashion di sini mampu memahami pilihan pakaian seseorang yang tidak hanya berdampak pada emosi diri sendiri, tapi juga orang-orang di sekeliling kita.

“Saya bekerja dengan brand, agensi, dan materi iklan untuk membantu mereka memahami perilaku konsumen dan bagaimana itu dapat diterapkan untuk membuat keputusan bisnis atau kreatif yang lebih efektif, strategis,” kata Kate Nightingale, kepala psikolog konsumen dan pendiri Style Psychology.

Style Psychology merupakan sebuah perusahaan konsultan yang bekerja dengan brand pakaian yang tujuannya  untuk memberikan wawasan tentang mengapa orang membeli apa yang mereka beli.

Lebih lanjut Kate menyampaikan, jika mampu memahami bagaimana persepsi manusia bekerja pada tingkat ilmu syaraf dan bagaimana orang memilih pakaian berdasarkan susunan psikologis mereka, maka bisa menciptakan strategi yang sangat efektif yang mampu meningkatkan pengalaman pelanggan secara keseluruhan dan garis bawah. 

Memang, bisnis fashion dapat menggunakan psikologi konsumen untuk membuat pembeli lebih mau membeli produk atau layanan tertentu. Ini bisa termasuk melihat detail seperti pengemasan, penempatan rak atau iklan.

Untuk menjadi seorang psikolog mode, atau psikolog dalam hal ini, kamu harus menyelesaikan studi psikologi yang ekstensif. 

“Saya sering mendesak orang-orang yang tertarik menjadi psikolog fashion atau konsumen untuk mempelajari bukan hanya psikologi, tetapi mengeksplorasi ilmu perilaku lainnya seperti ilmu saraf, antropologi dan sosiologi,” ujar Kate.

Namun, kata dia, peran semacam ini baru muncul dalam beberapa tahun terakhir sehingga masih dinilai pekerjaan yang tidak umum. Meskipun pekerjaan sebagai fashion psikologis mempunyai keuntungan terbesar untuk perusahaan global, yang memiliki hubungan dengan pelanggan di seluruh dunia dengan latar belakang, perilaku, dan preferensi yang sangat berbeda. 

“Saya percaya pada suatu titik, semua brand akan berkonsultasi dengan ahli perilaku internal atau eksternal.”

 

0 Comments

Rekomendasi

Terkait

Lowongan Terbaru