real
        time web analytics

Dari Kami

Empat Kesalahan Founder yang Bisa Bikin Startup Mati


Ilustrasi.

TOPCAREER.IDFounder atau pendiri startup bisa saja melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan yang mungkin maksudnya demi perbaikan perusahaan. Tapi, maksud baik yang diambil dari keputusan yang salah itu bisa bikin startup mati sebelum sempat maju pesat. 

Para ahli startup berbicara dan berbagi tentang kesalahan yang dilakukan founder atau pemilik bisnis dan bisa mematikan startup, seperti dilansir dari laman Business News Daily

1. Mempekerjakan terlalu banyak orang terlalu cepat

“Sangat mudah tergoda untuk mempekerjakan terlalu banyak orang terlalu cepat," kata Steven Pritchard, pendiri Cuuver (startup asuransi). 

Founder mungkin memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan, tetapi menurut Steven, karyawan yang banyak di tahap startup akan menguras sumber daya. Manajer perekrutan harus meluangkan waktu untuk memastikan keputusan perekrutan yang tepat untuk perusahaan mereka. 

Patric Palm, CEO dan pendiri Favro (aplikasi perencanaan dan kolaborasi untuk aliran organisasi) menyampaikan bahwa penting untuk menganalisis apakah startup yang dibangun perlu mempekerjakan manajer di skala up. Coba tanyakan pada diri sendiri, apakah perlu membawa seseorang masuk atau apakah Anda bisa mengelola sendiri pekerjaan itu.

“Mempekerjakan manajer di skala-up harus mempertimbangkan sikap, keterampilan, dan nilai-nilai yang membuat tim yang andal dan produktif dalam jangka panjang,” kata Patric.

2. Merekrut eksekutif tanpa pengalaman startup

Mempekerjakan eksekutif yang salah bisa merugikan bisnis. Banyak startup melakukan kesalahan dengan menyewa eksekutif yang sukses, namun tidak memiliki pengalaman memimpin startup. Banyak startup yang merekrut eksekutif dari perusahaan-perusahaan besar untuk membantu mereka keluar dari kesulitan. 

“Para eksekutif ini seringkali ingin meninggalkan kancah perusahaan dan bekerja untuk startup baru yang ‘hot.’ Sayangnya, para eksekutif ini tidak memiliki pengalaman di dalam lingkungan kewirausahaan,” ujar Patric.

Ia menambahkan, para pendiri harus yakin bahwa eksekutif yang mereka pekerjakan memiliki pola pikir dan kemampuan yang tepat untuk beradaptasi dengan industri startup.

3. Gagal memahami apa yang diinginkan pelanggan

Jika kamu menjual sesuatu yang tidak diminati oleh pasar, jelas kamu tidak akan berhasil. Kamu harus memastikan bahwa startup-mu menyediakan sesuatu yang diinginkan atau dibutuhkan orang.

“Mengejar tren, bukannya malah memecahkan masalah nyata, membuat bisnis tidak pernah berakhir dengan baik,” kata Lili Balfour, pendiri Atelier Advisors. 

Sementara itu, Kerry Bannigan, salah satu pendiri Nolcha Shows, menyarankan untuk berbicara dengan pelanggan di setiap tahap bisnis. Coba dengarkan apa yang mereka inginkan dari segi pelayanan atau produk, dan mengapa mereka mau membayar atas hal tersebut. 

“Mengabaikan ini dan mengikuti asumsimu sendiri dapat merugikan bisnis.”

4. Royal pada solusi yang tidak perlu

Patric mengatakan bahwa ketika startup menghasilkan uang dengan cepat, sangat mudah untuk membuang uang untuk pembelian alat yang sia-sia. Meskipun alat-alat ini terkadang menyediakan perbaikan singkat, mereka biasanya tidak efektif dalam jangka panjang.

“Masalahnya adalah banyak dari alat ini tidak berskala dan hanya akan menyelesaikan masalah jangka pendek. Intinya adalah, sementara penting untuk tumbuh cepat, sama pentingnya untuk membangun budaya kebiasaan belanja hemat,” kata Patric.

Kean Graham, CEO MonetizeMore pun ikut mengamini dan mengatakan bahwa startup biasanya membocorkan uang tunai melalui inisiatif yang sia-sia. Dengan kesuksesan, para pendiri cenderung berbelanja secara royal pada hal-hal yang akan membuat mereka terlihat bagus yang belum tentu terbaik untuk perusahaan.

“Beberapa contoh pembelian barang rias ini adalah kantor yang mahal, mobil yang mencolok, perusahaan PR (public relation) yang terkenal atau pesta perusahaan yang mewah.”

 

0 Comments

Lowongan Terbaru