real
        time web analytics

Dari Kami

Empat Puluh Persen Perusahaan Tambah Pekerja Lantaran AI


TOPCAREER.ID – Lebih dari 40 persen organisasi atau perusahaan menambah lebih banyak pekerjaan karena mereka memasukkan fungsi Artificial Intelligence (AI) ke dalam bisnis. Hal itu seperti yang dilaporkan oleh Dun & Bradstreet (perusahaan penyedia data komersial, analitik, dan wawasan untuk bisnis).

Semula datangnya AI menjadi kekhawatiran karena mengancam hilangnya pekerjaan lain. Namun, nyatanya hanya 8 persen dari 100 eksekutif bisnis dari organisasi Global 2000 yang disurvei mengaku  perusahaan mereka memangkas pekerja setelah menerapkan teknologi baru, dalam hal ini AI. 

Telepas dari munculnya AI di kantor mereka, sekitar 34 persen responden mengaku bahwa permintaan pekerjaan jumlahnnya tetap di perusahaan mereka. Dan 18 persen melaporkan AI tidak mempengaruhi tenaga kerja mereka sama sekali.

Hal ini menunjukkan bahwa ketakutan akan munculnya teknologi AI mungkin sebagian besar disebabkan oleh hype. Ketakutan yang hadir karena kecanggihan teknologi AI ini berupa hilangnya kesempatan kerja karena tren teknologi yang bakal menggeser banyak pekerjaan. 

Kehadiran AI memang memiliki peran besar untuk dunia bisnis, sebagian besar perusahaan menggunakannya sampai tingkat tertentu. Menurut survei tersebut, jumlah perusahaan yang akan mengadopsi AI diperkirakan meningkat. 

Sampai sekarang, hampir setengah (44 persen) dari bisnis sedang dalam proses meluncurkan AI, dan satu dari lima bisnis sepenuhnya menggunakan AI dalam organisasi mereka, menurut survei.

Tantangan terbesarnya, yakni 46 persen responden mengaku bahwa AI memerlukan banyak penjelasan — butuh kemampuan untuk memahami dan mengkomunikasikan bagaimana sistem AI sampai pada kesimpulan. 

Laporan itu menambahkan, hanya sepertiga responden mengatakan bahwa mereka sepenuhnya memahami cara kerja sistem AI mereka. Itulah sebabnya ada permintaan untuk karyawan baru yang memahami AI. Tantangan lain yang ditemukan adalah kurangnya data. 

“Data adalah dasar di mana teknologi apapun - terutama AI – untuk dapat dibangun,” kata Anthony Scriffignano, kepala ilmuwan data di Dun & Bradstreet, dalam siaran pers. 

“Jika Anda memiliki fondasi data yang salah, Anda kemungkinan akan memiliki pendekatan teknologi yang salah sehingga menghasilkan wawasan yang salah. Karena data terus diproduksi dan disimpan dalam jumlah yang meningkat secara eksponensial, kami akan mulai melihat sistem AI beradaptasi dan meningkat, yang melekat pada nilai AI.”

Dalam organisasi, responden melaporkan kasus penggunaan teratas untuk AI menjadi analitik (62 persen), otomatisasi (52 persen), dan manajemen data (42 persen). Sekitar 29 persen menggunakan teknologi untuk perbaikan sistem back-end, dan 23 persen menggunakan AI untuk chatbot yang menghadap konsumen.

 

0 Comments

Rekomendasi

Terkait