real
        time web analytics

Dari Kami

Enggak Cuma Kejar Ijazah, Ini Model Pendidikan yang Benar


TOPCAREER.ID – Mengenyam pendidikan melalui bangku sekolah bukan hanya menyoal ijazah, melainkan ilmu apa yang sudah didapat dan bagaimana penerapannya. Model pendidikan yang efektif tentu tak lagi berpaku pada nilai ijazah melainkan mampu berpikir logis.

Co-Founder & President Hoshizora Foundation, Reky Martha yang juga lulusan Educational Counselling Psychology and Special Education di University of British Columbia, setuju bahwa saat ini anak sekolah di Indonesia masih kerap berpatokan pada nilai ijazah.

Sehingga, kata dia, yang harus ditekankan sekolah adalah bagaimana melatih anak-anak tersebut untuk berpikir lebih logis. Harapannya, mereka bisa problem solving dengan arah yang benar serta tanggap akan lingkungan sekitar.

“Menurut saya, sistem edukasi yang paling penting adalah ngajarin anak-anak itu bisa berpikir. Jadi, enggak cuma duduk mendengarkan, terus pulang ngerjain PR. Tapi menghasilkan anak-anak yang punya kemampuan berpikir, bisa cari solusi, problem solving,” kata perempuan lulusan University of British Columbia itu kepada TopCareer.id.

Reky menambahkan, pendidikan yang baik perlu menggali potensi diri dari si anak, meningkatkan softskill, juga sosialisasi positif. Sehingga tak hanya fokus mengejar nilai ujian semata. Reky bertutur, untuk membantu pemerintah menjaga kualitas pendidikan, Hoshizora membantu dalam pendidikan pendampingan.

Pendidikan yang diterapkan oleh Hoshizora Foundation arahnya memang lebih kepada menggali potensi diri dan mengembangkannya, jadi bukan lagi pendidikan satu arah. Reky mencontohkan, untuk anak SD diajarkan kreativitas, bagaimana bersosialisasi yang positif, memahami diri sendiri, dan tanggung jawab pribadi.

"SMP itu materinya lebih ke public speaking, presentasi, analytical thinking, softskill yang kadang-kadang sekolah enggak kasih. Kalau untuk anak SMA itu self confidence, hard skill, public speaking, analytical thinking. Jadi temanya beda tiap tingkatannya.”

Saat melakukan sesi belajar anak,  lanjut Reky, pihaknya bekerja sama juga degan sosial enterprise di Jakarta untuk memberikan sesi parenting skill kepada orangtuanya. Kemudian, bekerja sama juga dengan perusahaan besar untuk memberikan finansial literasi kepada guru dan sekolah. Semua pihak turut serta dengan harapan membangun anak-anak tersebut satu jalan.

Ia menyebutkan dalam teori psikologi edukasi Bronfenbrenner’s, pendidikan yang baik tidak bisa hanya si anak saja yang terlibat, tetapi juga semua pihak termasuk tetangga, keluarga, teman. Untuk itu, diajarkan sosialisasi positif, terlebih memasuki era perkembangan teknologi yang kini serba handphone.

"Bahaya sosial media seperti apa. Kami ngasih tahu sebenarnya jadi imej yang positif itu seperti apa. Mulai mengetahui diri mereka, kelebihannya apa, pintarnya di mana. Kami guide mereka untuk mencari potensi diri,” ucap Reky.

Bahkan, Hoshizora Foundation sendiri dalam melakukan pendampingan pendidikan selalu berhati-hati dalam merekomendasikan sesuatu, apalagi yang berhubungan dengan potensi si anak. Harus ada konseling yang pelakunya punya background psikologi, dan paham pendidikan anak.

Reky menyampaikan, kondisi pendidikan di Indonesia saat ini juga tak bisa sepenuhnya menyalahkan pemerintah. Menurutnya, pemerintah sudah berusaha semampunya dalam meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Namun, kalau semua hanya mengandalkan pemerintah juga tidak bisa berjalan dengan baik.

"Jadi kalau kita enggak puas dengan kerja pemerintah, apa yang bisa dikontribusikan untuk itu. Oke dari Hoshizora ya bantu itu, pendidikan karakter, problem solving, analytical thinking, mencari maksimum potential. Sedikit-sedikit kami kerjakan di situ.”

"Harapan saya, lebih banyak anak muda yang tersadar melakukan gerakan-gerakan sosial. Kita bantuin pemeritah sebenarnya. Mimpinya tidak perlu lagi ada anak enggak bisa sekolah. Kalau mau dibilang nomor, kami berharap tumbuh organisasi sosial lainnya, untuk membantu itu,” pungkas Reky.

0 Comments

Lowongan Terbaru