real
        time web analytics

Dari Kami

Hasil Studi: 77 Persen Karyawan Lebih Produktif Saat Kerja Fleksibel


Ilustrasi.

TOPCAREER.ID – Hasil dari beberapa studi menyebutkan bahwa para karyawan atau pekerja akan lebih merasa bahagia ketika bekerja secara fleksibel. Relevansinya ketika karyawan merasa bahagia, maka produktivitas kerja pun meningkat. 

Menurut penelitian oleh Canada Life Group Insurance, tiga dari 10 karyawan (30 persen) kurang produktif di tempat kerja karena beban kerja yang tinggi dan tekanan untuk menghasilkan. Statistik tersebut setara dengan 9,7 juta orang jika diterapkan ke Inggris secara keseluruhan.

Survei (dari 1.001 karyawan penuh dan paruh waktu Inggris berusia 18 tahun ke atas) juga menemukan bahwa hanya 17 persen dari mereka yang bekerja dari rumah secara teratur dipengaruhi oleh stres. 

Laporan tersebut juga menemukan bahwa 77 persen karyawan merasakan produktivitas dari kerja yang fleksibel. Sementara, seperempat (23 persen) staf mengatakan bahwa mereka merasa bos mereka tidak peduli dengan kesehatan atau kesejahteraan mereka.

“Sebagai contoh, kerja yang fleksibel tidak hanya memiliki manfaat meningkatkan keseimbangan kehidupan kerja tetapi juga dapat memiliki pengaruh positif pada kesehatan karyawan secara keseluruhan,” kata Direktur Pemasaran Canada Life Group Insurance, Paul Avis dalam laman Cover Magazine United Kingdom (UK).

Kerja Fleksibel Bikin Karyawan Lebih Bahagia

Kerja fleksibel lebih dipilih karyawan juga didukung oleh beberapa studi serupa. Seperti Perusahaan Videoconferencing OWL Labs menyurvei lebih dari 3.000 karyawan di enam benua untuk laporan State of Remote Work 2018.

OWL menemukan bahwa 56 persen perusahaan di seluruh dunia yang mengizinkan pekerjaan jarak jauh, merupakan perusahaan hibrida atau fully remote, jumlahnya 85 persen di Amerika Serikat. Hasil studi itu dilansir dari Bizjournals.

Penelitian itu juga menyampaikan bahwa orang yang bekerja dari jarak jauh setidaknya sebulan sekali memiliki kemungkinan 24 persen lebih besar lebih bahagia dan produktif daripada mereka yang tidak. Dan perusahaan yang menawarkan pengalaman kerja jarak jauh 24 persen lebih sedikit mengalami turn over (perputaran karyawan).

Alasan utama orang-orang yang ingin bekerja dari jarak jauh, yakni lantaran bisa meningkatkan produktivitas dan fokus mereka. Manfaat lain yang dirasakan termasuk tidak ada perjalanan pulang pergi yang harus ditempuh, lebih banyak waktu keluarga, lebih sedikit stres dan menghemat uang.

Bagaimana dengan pekerja di Asia?

Laporan Gender Diversity Report 2017 yang baru diterbitkan dari pakar rekrutmen Hays telah mengungkapkan bahwa kerja fleksibel sangat dicari oleh karyawan di Asia. Laporan itu, yang didasarkan pada survei pekerja dari 30 sektor industri di China, Hong Kong, Jepang, Singapura, dan Malaysia.

Dari mereka yang disurvei di China, 37 persen menyetujui jam fleksibel untuk orang tua, dan ini tercermin pada negara lain, seperti 34 persen di Malaysia, 29 persen di Jepang, dan 26 persen di Hong Kong.

Survei Hays menemukan adanya keinginan kuat dari kalangan laki-laki untuk mengakses pilihan kerja yang fleksibel. Faktanya, lebih banyak laki-laki yang menilai fleksibilitas sebagai hal penting. Dan 50 persen laki-laki mengatakan mereka sudah memiliki akses kerja yang fleksibel (dibandingkan dengan hanya 40 persen perempuan).

“Karyawan generasi muda lebih mendukung perekonomian dan mereka menyukai ... jam kerja yang lebih fleksibel daripada penuh waktu. Jika perusahaan ingin menarik dan menjaga karyawan seperti ini, kerja yang fleksibel bisa menjadi jawabannya,” Agnes Chan, mitra pengelola EY untuk Hong Kong dan Makau dalam Asia Research

 

0 Comments

Lowongan Terbaru