real
        time web analytics

Dari Kami

Hidupkan Pendidikan Anak-Anak Kawasan Kolong Jembatan


TOPCAREER.ID – Jika menilik Undang-Undang Dasar 1945, anak telantar memang dipelihara oleh negara. Ajeng Satiti Ayuningtyas menjadi salah satu yang mengambil aksi nyata untuk memelihara sebagian kecil anak telantar di kawasan kolong jembatan Cikini, Jakarta. Salah satu jalannya adalah dengan memenuhi kebutuhan akan penddikan. 

Ajeng sadar bahwa anak jalanan membutuhkan arahan serta pendidikan yang layak sehingga tidak memperoleh cap negatif. Pikiran itu juga sejalan dengan mimpinya yang ingin sekali mengajar untuk anak-anak kurang mampu. Dimulailah mimpinya itu lewat Sekolah Kolong Cikini (Sekoci).

Pada 2015 tekadnya semakin besar untuk mengajar anak-anak jalanan. Bermodal pensil, kertas, dan pensil warna, Ajeng dan kedua temannya mencoba mewujudkan niat itu dengan sukarela. Pertama, ia harus door to door melakukan pendekatan pada orang dewasa di kawasan tersebut. Di situ, ia dan teman-temannya mulai melakukan penawaran. 

Ajeng dan teman-temannya melakukan penawaran untuk memberikan pendidikan lewat belajar tanpa ada pungutan biaya terhadap anak-anak mereka. Sayang, tak semua rencana berjalan mulus. Ajeng merasa bahwa para orangtua ini masih menganggap pendidikan bukan hal penting. Mencari uang tetap jadi prioritas daripada belajar. 

Ketika ia dan temannya siap untuk memulai kegiatan belajar mengajar, mereka malah mendapati tempat yang sepi, tak seorang anak pun hadir untuk belajar. Namun, ia tak berhenti di situ. Ajeng menguatkan hati, ia kembali melakukan pendekatan pada para orangtua agar bisa membujuk anaknya untuk belajar gratis. 

Semula hanya ada empat anak yang mau ikut belajar, tapi kian lama makin bertambah. Anak-anak yang diajar di Sekoci rata-rata berusia 5 hingga 12 tahun. Beberapa di antara mereka memang ada yang mengenyam bangku sekolah, namun tak banyak. Malah kebanyakan dari mereka bekerja sebagai pengamen, pemulung, atau berjualan keliling. 

Sementara, para orangtua anak-anak jalanan ini berlatar belakang pekerjaan yang juga beragam. Ada yang bekerja sebagai pemulung, cleaning service, malah ada yang benar-benar tak bekerja. Lantaran keterbatasan ekonomi itu, maka anak-anak ini banyak yang putus sekolah. 

Semangat Ajeng tak pernah surut, apalagi melihat anak-anak ini yang belum bisa baca tulis meski sudah di usia 8 tahun. Ajeng ingin sebisa mungkin membantu mereka, setidaknya agar tidak buta huruf dan bisa menerapkan ilmu budi pekerti. 

Kegiatan belajar yang diberikan kepada anak-anak jalanan ini meliputi pelajaran bahasa Inggris, bahasa Indonesia, agama, matematika dasar, juga budi pekerti. Bahkan peserta didik juga mendapat pelajaran soal pendidikan seks untuk anak-anak. Dalam hal ini Sekoci bekerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Sementara, anak-anak yang belajar ikut bertambah, Ajeng mengajak relawan lain untuk mengajar di Sekoci dengan niat yang sama tentunya. Latar belakang para relawan ini beragam, mulai dari pegawai kantor, kontraktor, psikolog, jurnalis, guru, dokter, juga dosen. 

Lewat Sekoci, Ajeng ingin meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak jalanan dengan menanamkan rasa cinta tanah air, serta memupuk cita-cita sejak kecil demi meningkatkan taraf hidup mereka. Perempuan lulusan Universitas Padjajaran ini ingin Sekoci bisa menginspirasi warga negara lainnya untuk memelihara anak jalanan lewat pendidikan. 

 

0 Comments

Lowongan Terbaru