real
        time web analytics

Dari Kami

Hitung-hitungan Insentif Personal Trainer


TOPCAREER.ID – Enggak cuma diberi upah pokok saja, personal trainer yang mampu mencapai minimum penjualan juga berhak memperoleh insentif. Kalau untuk di Gold’s Gym sendiri, ada beberapa faktor dalam menentukan insentif para personal trainer.

Club General Manager Gold’s Gym Kalibata City, Novita Yunius menyampaikan bahwa terkait insentif ada hitungannya sendiri, yakni berdasarkan minimum requirement. Minimum requirement untuk seorang trainer di Gold’s Gym itu ada dua, jumlah minimum jam mengajar dan penjualan.

“Pertama, jumlah minimum ngajar dia (personal trainer) dalam satu bulan, itu ada minimumnya. Kalau minimum di Gold’s Gym itu 100 jam. Jadi anggap aja kan satu kali ngajar satu jam, berarti satu bulan itu 100 jam paling minimum,” kata Novi kepada TopCareer.id.

Jadi, minimum jam mengajar ini sebagai patokan apakah personal trainer tersebut bisa mendapatkan insentif atau tidak. Faktor selanjutnya, yakni terkait penjualan. Para personal trainer ini selain mengajar, juga melakukan selling kepada para calon member.

Para trainer ini menjual program latihan yang paling sesuai dengan kebutuhan member. Misal, ada calon member yang ingin menaikkan berat beadan namun memiliki penyakit diabetes, maka personal trainer akan menjual kira-kira program latihan seperti apa yang sesuai.

Terkait jumlah minimum penjualan agar personal trainer ini memperoleh insentif, Novi menyebut angka Rp40 juta sebagai angka minimum penjualan.

“Angka minimumnya di Rp40 juta per bulan. Karena ada beberapa paket latihan, mulai yang paling kecil 3 sesi hingga paling besar 40 sesi, jadi hitungannya enggak bisa dari berapa kontrak yang deal. Makanya melihat dari angka penjualan,” ujar Novi.

Kalau sudah memenuhi dua persyaratan minimum itu, kira-kira berapa ya insentif yang didapat personal trainer? Novi lantas menjawab angka minimum insentif paling tidak mulai dari Rp15 jutaan. Itu hanya dari insentif, karena upah personal trainer juga dihitung dari uang hariannya.

Menurut Novi, uang harian itu dihitung berdasarkan absensi. Kalau telat atau tidak hadir pada jadwalnya, ya otomatis tak memperoleh uang harian pada hari tersebut.

“Karena mereka kan juga dapat uang harian ya, uang kehadiran, uang makan. Ada absennya pakai finger print. Jadi kan supaya sistemnya HRD ter-detect nih, ini orang absen apa enggak, telat apa enggak. Kalau telat dan enggak masuk ya enggak dapat aja uang hariannya.” 

0 Comments

Lowongan Terbaru