real
        time web analytics

Dari Kami

Jurnalis Kerap Dibungkam Lewat Pembunuhan


TOPCAREER.ID – Menjadi seorang jurnalis harus siap dengan risiko menghadapi beragam ancaman, termasuk ancaman pembunuhan atau tindakan kekerasan lain. Berdasar laporan Reporters without Borders (RFS), pada 2018 ada 63 jurnalis seluruh dunia yang dibunuh. 

Jurnalis yang menjadi target pembunuhan itu akibat pemberitaan mereka yang mengancam kepentingan politik, ekonomi, atau kriminal. Pada tahun 2016, malah sebagian besar kematian mereka ditargetkan (60 persen). Tujuannya, untuk membungkam para jurnalis ini. 

Sementara, data dari Committee to Protect Journalist (CPJ) antara 2017 dan 2018, setidaknya ada 46 jurnalis di seluruh dunia yang dibunuh, dari 91 jurnalis yang tewas selama melakukan tugasnya. Pada 2017 ada 18 jurnalis, dan pada 2018 naik di angka 28 jurnalis dibunuh.  Enam di antaranya mengalami penyikasaan. 

Committee to Protect Journalist menyampaikan bahwa wartawan politik nasional bisa dibanjiri dengan volume ancaman yang besar di media sosial. Wartawan lokal lebih rentan terhadap kekerasan yang sebenarnya, terutama ketika mereka meliput demonstrasi.

International Free Press Society (IFPS), percaya bahwa siklus ancaman, serangan dan kematian terhadap jurnalis, jauh dari mereda, tampaknya semakin meningkat. 

Joel Simon, Direktur Eksekutif Committee to Protect Journalist di luar hub media besar, wartawan koran lokal sering menjadi perwakilan profesi yang paling terlihat. Mereka juga yang paling mudah diakses publik.

“Keamanan itu mahal dan tidak sesuai dengan profesinya. Jurnalis tidak dapat melaporkan dari balik barikade,” kata Simon dilansir dari NBC News. 

Impunitas lahirkan banyak pembunuh jurnalis

Menurut International Federation of Journalists, lebih dari 600 telah tewas dalam 6 tahun terakhir. Sembilan dari 10 di antaranya adalah pembunuhan yang belum terpecahkan. Sebuah laporan menunjukkan bahwa wartawan sedang diserang di mana-mana termasuk di Eropa, benteng bersejarah kebebasan pers. 

“Impunitas (kebebasan hukuman) atas pembunuhan wartawan melahirkan lebih banyak pembunuhan,” ucap Barbara Trionfi, Direktur Eksekutif International Press Institute dikutip dari HuffPost.

Ya, memang secara keseluruhan jurnalis yang terbunuh dari tahun 2015 hingga 2018 mengalami tren penurunan angka kematian. Baik data dari Committee to Protect Journalist, maupun data yang dikatakan oleh Reporters Sans Frontières (RSF).

Menurunnya kematian wartawan bisa jadi karena upaya global yang lebih besar untuk melindungi wartawan, tetapi juga didorong oleh self-censorship wartawan. Lantaran takut akan kehidupan dan keselamatan mereka, banyak yang melarikan diri dari negara-negara berbahaya atau mengubah profesi, yang memicu siklus impunitas para predator kebebasan pers.

Lebih lanjut Barbara mengatakan, lega rasanya mengetahui tren pembunuhan jurnalis ini mengalami penurunan di setiap tahunnya dan tentu berharap bahwa hal tersebut menandai berakhirnya tren global secara keseluruhan. 

“Namun demikian, pembunuhan brutal dari begitu banyak wartawan di Meksiko dan begitu banyak negara lain secara tragis menunjukkan bagaimana impunitas pembunuhan wartawan melahirkan lebih banyak pembunuhan.”

 

0 Comments

Lowongan Terbaru