real
        time web analytics

Dari Kami

Keluhan Film Maker Saat Garap Proyek Adaptasi Buku


TOPCAREER.ID – Membuat film yang diadaptasi dari buku kini jadi pilihan sendiri bagi para film maker. Namun, di balik peluang itu, ada kendala yang sama saat menuangkan cerita sebuah buku hingga kemudian diterjemahkan ke dalam visual. 

Rama Adi sebagai seorang penulis naskah skenario yang juga produser film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak mengaku bahwa kesulitan yang akan dihadapi ketika mengadaptasi buku ke dalam film adalah bagaimana membangun ceritanya. 

“Kalau di Indonesia sebenarnya membangun cerita supaya penonton believe aja tuh enggak mudah. Tapi kami optimis, di proyek Marlina kami cukup belajar, dan punya hasil untuk urusan membangun cerita itu,” kata Rama yang hendak mengerjakan proyek film adaptasi novel Mochtar Lubis yang berjudul Jalan Tak Ada Ujung.

Menurut Rama, adaptasi film dari buku ini merupakan sesuatu yang baru, dan hal itu sebenarnya menjadi potensi bagi para film maker dalam menciptakan karya. Kembali lagi bahwa tantangannya adalah membuat sesuatu yang baru berdasarkan buku yang sudah ada. Sudah terbangun jalan ceritanya, namun bagaimana membangun cerita ke bentuk visual.

Apakah membuat film dari buku yang sudah ada jalan ceritanya akan lebih mudah dalam penggarapan? Rama menjawab, seharusnya mudah karena memang film adaptasi ini terlihat hanya memindahkan cerita di buku ke film sesuai dengan alurnya.

“Cuma tetap ada pilihan-pilihan dari sutradaranya mau cara bercerita seperti apa. The way telling the story as a director itu sebenarnya yang mungkin harus jadi sesuatu yang menarik,” ujar Rama kepada TopCareer.id saat ditemui di Indonesia Internasional Book Fair (IIBF) 2018. 

Film maker perlu berpikir kreatif, kira-kira ketika buku difilmkan bagian mana saja yang sangat melekat pada pembaca, pandai memilah bagian menarik. Juga, keefektifan alur film itu sendiri juga diperhitungkan, yakni mampu membuat buku beratus-ratus halaman menjadi 2 jam durasi film. 

“Nanti kira-kira kalau di film tuh diceritain kayak apa. Kalau di buku ketika pembaca membaca bukunya mereka pasti membayangkan sesuatu (berimajinasi), cuma satu, dua, tiga orang mungkin membayangkan berbeda. Kalau film kan orang harusnya punya interprestasi yang sama walupun preferensi beda-beda,” papar Rama. 

Mengadaptasi Novel Sejarah

Rama bertutur soal proyek film yang hendak ia kerjakan bersama Cinesurya, merupakan adaptasi dari novel karya penulis ternama Mochtar Lubis dengan judul Jalan Tak Ada Ujung. Setting utama film ini nantinya berada di sekitar tahun 1946 dengan suasana kota Jakarta yang mencekam oleh ketegangan perang kota. 

Menurut Rama, film ini bakal jadi tantangan tersendiri dari segi setting atau latar. Apalagi jika dibandingkan dengan film-film yang pernah dikeluarkan oleh Cinesurya, seperti Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak atau Fiksi

“Karena kami harus mengkondisikan set-nya di tahun 1946. Sekarang yang mesti dipikir seperti apa dunia di tahun 1946 itu. Kami kan juga punya referensi, tapi kan kita bicara film di Indonesia belum bisa bikin besar seperti di Hollywood,” ucap Rama.

Rama melanjutkan, terkait latar suasana mencekam di tahun 1946, pihaknya bakal membuat pilihan-pilihan yang paling efektif, namun tetap mampu membentuk jalan cerita secara utuh. 

Rama sendiri sadar bahwa film peperangan ala Hollywood sangat wah layaknya film perang ekpektasi penonton kebanyakan. Namun, pihaknya berusaha bisa menyampaikan suasana mencekam perang tahun 1946 secara personal ke penonton. 

“Ya memang, pengin bercita-cita menghadirkan perang tahun 1946 yang ekspektasinya besar. Tapi lihat lagi, takutnya nanti maksudnya malah jadi enggak efektif. Nanti malah bikin penonton tidak percaya dengan bahan yang dibentuk sama pembuat filmnya.”  

 

0 Comments

Lowongan Terbaru