real
        time web analytics

Dari Kami

Kompetisi Usia Muda Ciptakan Pemain Sepak Bola Andal


TOPCAREER.ID – Ada yang kurang dalam pembinaan pemain sepak bola usia muda sehingga sepak bola Indonesia dinilai belum banyak mencetak pemain bola andal. Kompetisi pemain muda yang kerap terhenti di umur 15 hingga 16 tahun jadi salah satu faktornya.

Direktur Teknik pada Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Danurwindo mengatakan bahwa di negara-negara maju dengan kualitas pemain sepak bola yang baik, pasti memiliki kompetisi usia muda. Misal kompetisi untuk U-16, U-18, hingga U-20. Sementara, di Indonesia terputus sampai di U-16. 

“Pemain nasional usia muda Indonesia ini datangnya bukan dari jalur elite, tapi dari amatir. Inilah situasi sepak bola Indonesia. Ini yang membuat kita belum berprestasi seperti yang diharapkan,” papar Danurwindo dalam acara Buka Talks BukaLapak beberapa waktu lalu. 

Ia lebih lanjut menjelaskan, kalau di sepak bola internasional itu, pemain mudanya datang dari klub-klub pemain pilihan. Jadi, pemain terbaik mereka bermain pada klub elite pro akademi. Lagi-lagi Danurwindo menyayangkan bahwa kompetisi berjenjang yang ada di Indonesia harus terputus di usia 16 tahun. 

Padahal, menurut Danurwindo, pembinaan sepak bola yang baik adalah kompetisi berjenjang yang sering diadakan. Ia menilai bahwa kompetisi muda bisa membangun fondasi pemain andal untuk disalurkan ke klub-klub. 

“Sekarang kan jangka panjang justru kami ambil dari usia 12, 13, 14 sehingga 5-6 tahun kemudian dia menjadi pemain yang punya fondasi lebih kuat,” kata Danurwindo kepada TopCareer.id.

Kompetisi berjenjang terputus di usia 16 tahun kemudian pembinaan tidak berjenjang di jalur amatir maupun jalur elite pro akademi. Menurutnya, itu cukup menyulitkan untuk berkembang. Kompetisi pro elite akademi umur 16, 18, dan umur 20 merupakan jalur-jalur untuk bisa berprestasi. 

Pemilihan Pemain Lebih Efektif dari Kompetisi

Pelatih Tim Nasional Indonesia U-19, Indra Sjafri mengakui bahwa ajang kompetisi sepak bola merupakan cara efektif dalam mencari bibit-bibit pemain andal.  Lewat kompetisi, ia bisa menilai performa tiap pemain secara konsisten dan lebih efektif. 

“Saya pernah punya pengalaman scouting cari sendiri tanpa kompetisi, itu erornya tinggi karena saya hanya melihat satu jam dua jam. Jadi kayak main judi, kadang-kadang tepat kadang enggak. Tapi kalau lewat kompetisi secara terus menerus itu bisa dilihat,” ucap Indra Sjafri. 

Sebenarnya sah-sah saja jika scouting atau pencarian pemain ini dilakukan di luar kompetisi, namun ia lebih menyarankan yang lebih efektif lewat kompetisi. Ke depan, lanjutnya, untuk mempermudah menyaring pemain muda bertalenta, PSSI akan mengembangkan kompetisi usia muda. 

“Karena sekarang kan kompetisi usia muda hanya di kota tertentu yang intensitasnya abanyak, tapi di daerah-daerah enggak. PSSI ingin bikin kompetisi usia 19, U-17, U-15. Kalau ini berjalan satu tahun dan  seterusnya, baru nanti pada pemilihan pemain yang tepat.” 

 

0 Comments

Lowongan Terbaru