real
        time web analytics

Dari Kami

Pikir-Pikir Ulang Berkantor dengan Gaya Open Space


TOPCAREER.ID – Konsep kantor open space yang diusung oleh beberapa kantor terkemuka ala-ala perusahaan teknologi seperti Google atau Facebook, kini seolah jadi primadona. Tapi desain kantor open space ternyata masih menyisakan kontroversi, apakah efektif meningkatkan produktivitas karyawan atau malah sebaliknya.

Berdasar infografik yang dibuat oleh Sage dalam rencana kantor open space, 80 persen dari perusahaan di Amerika Serikat mengimplementasikan layout kantor dengan desain seperti ini, sebut saja Apple, Google, dan Facebook.  

Dinilai tidak efektif

Tapi, kondisi kantor berkonsep open space dinilai bisa menurunkan produktivitas lantaran kebisingan, kemudian masalah terkait kesehatan, hingga kebahagiaan karyawan. Banyak di antara karyawan yang malah merasa tidak nyaman lantaran menggunakan konsep kantor yang populer ini. 

Sebuah studi tahun 2009 dari Institut Kesahatan dan Inovasi Biomedika Universitas Queensland menemukan bahwa karyawan yang bekerja di kantor berkonsep open space mengalami konflik yang lebih besar, tekanan darah yang lebih tinggi, dan jumlah hari sakit yang lebih banyak. 

“Tata letak juga mengarah ke produktivitas rendah karena kebisingan lingkungan hadir di lingkungan kantor,” hasil studi seperti dilansir dari EuropeanCEO.

Sementara, penelitian yang dilakukan oleh tim WorkSpace Futures Ipsos dan Steelcase, pekerja kantor kehilangan total 86 menit setiap hari untuk gangguan. Oke, gangguan itu mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Tapi, penelitian ini juga menyatakan bahwa butuh waktu hingga 23 menit untuk kembali ke pikiran yang sepenuhnya terfokus.

Keluhan berkantor dengan desain open space

Menurut Flame Schoeder, pelatih kehidupan yang diakui ICF (International Coach Federation), keberhasilan tata letak atau desain kantor ini tergantung pada jenis karyawannya. Ia menyampaikan bahwa kantor dengan tipe open space akan memberikan kesulitan pada para introvert. 

Menurutnya, orang-orang yang memiliki sistem syaraf sensitif atau terlalu menjaga harga diri alias jaim (jaga image) akan sulit berada di kantor dengan konsep open space. Meskipun Schoeder sendiri mengakui bahwa konsep open space lebih banyak menghasilkan kolaborasi dan ikatan yang lebih kuat.

“Ironisnya, beberapa hal kontra yang sama terjadi terkait dengan persahabatan dan transparansi, tidak memiliki privasi dan perasaan, seperti kamu tidak dapat berkonsentrasi - setiap percakapan kamu miliki merupakan konsumsi publik,” kata Vicki Salemi, pakar karier di Monster.com seperti dikutip dari Business News Daily.

Amar Singh, seorang penulis dalam Archdaily pun menyampaikan bahwa ia salah satu orang yang merasa kontra dengan konsep kantor open space. Ia cukup bermasalah dengan kantor open space, padahal ia seorang ekstrovert. 

“Saya ekstrovert dan ketika dihadapkan pada pilihan pada masalah yang mendalam dan rumit, saya juga sering memilih yang terakhir. Saya tidak sendirian dalam hal ini,” ujar Amar Singh.

Positif dan negatif dari open space

“Sebuah kantor yang penuh dengan orang-orang sosial yang perlu bekerja sama untuk menjadi sukses akan mendapat manfaat dari tata letak kantor terbuka versus kubus dengan dinding tinggi (atau bahkan kantor),” kata Alexander Lowry, direktur Master of Science dalam program Analisis Keuangan dan profesor keuangan di Gordon College dalam laman Business News Daily.

Positif

Terjangkau

Fleksibel

Kurang membatasi

Mendorong komunikasi

“Melihat manajermu menempati ruang yang sama sepertimu, dan memiliki kemampuan untuk berbaur lebih banyak - itu sesuatu yang berpengarih terhadap office vibe,” kata Nate Masterson, marketing manajer di Maple Holistics.

Negatif

Kurangnya privasi

Gangguan

Penyebaran kuman

Masterson mengatakan bahwa banyak dari kerugian yang dihasilkan oleh kantor open space, termasuk perasaan seperti bos yang selalu mengawasi setiap gerakanmu, sering kali membuat karyawan stres.

 

0 Comments

Lowongan Terbaru