real
        time web analytics

Dari Kami

Proses Planner Ngebangun Daerah dari Nol


TOPCAREER.ID – Bagaimana sih ceritanya membangun suatu wilayah menjadi kawasan terpadu, misal kawasan Sudirman Central Business District (SCBD). Urban planner menjadi seseorang di balik pekerjaan itu. Lalu bagaimana tahapan membangun suatu wilayah?

Gemala Pritha Ryzki, Planning and Project Development di PT Danayasa Arthatama Tbk (pengembang kawasan SCBD) bertutur bagaimana tahapan dalam merencanakan pengembangan suatu wilayah atau kota.

Pertama, membuat masterplan terlebih dahulu, seperti rencana kota/wilayah seperti apa, letaknya, pusat kota di sebelah mana, lalu irigasi. Kemudian tipe masyarakat yang akan tinggal di kawasan itu, apakah industri atau residential?

“Ibaratnya itu Sudirman, kami akan visibility studi dulu kayak kelayakan, kawasan ini layak jadi apa? Sekitarnya tuh ada apa aja? Peruntukannya apa? Misal, kayak SCBD komersial, pasti kami akan ngembangin kawasan bisnis terpadu karena ada di koridor utama dari kota itu,” ujar perempuan lulusan Universitas Diponegoro itu kepada TopCareer.id.

Kedua, lanjut Gemala, dilihat dulu regulasinya seperti apa. Ia mencontohkan, untu wilayah di pinggiran pasti akan dibuat yang residential. Kemudian fasilitas akan dihitung juga, misal tanahnya 40 hektar, dari 40 hektar itu mau menampung berapa orang.

“Ada berapa bangunan yang ada di situ. Nah, kemudian fasilitasnya akan ada apa aja. Baru deh, peletakan-peletakannya ada di mana.”

Gemala melanjutkan, aspek yang perlu dipikirkan berikutnya adalah sosial ekonomi. Kalau dibangun perkantoran, maka akan jelas peruntukannya demi membangun perekonomian negara. Sementara, jika dibangun hunian maka akan jadi trigger untuk kawasan di sekitarnya.

“Misalnya bikin perumahan skala besar di sekitar kawasan, pasti kan ada fasilitas yang akan dibangun, kayak rumah sakit atau sekolah. Lama-lama daerah itu akan berkembang dong, dan sekelilingnya juga akan ikut buka toko-toko atau apa. Terbangunlah dampak sosial ekonomi yang diharapkan, misalnya,” jelas dia.

Dampak perencanaan tata kota yang baik, menurut Gemala, sudah pasti akan berimbas pada pemerintah. Sementara, untung untuk perusahaan developer, yakni dari hasil penjualan tanah hingga perumahan atau perkantoran.

Aspek yang tak kalah penting dalam merencanakan pengembangan wilayah adalah sisi budaya. Menurut Gemala, ada yang namanya citra kota. Misal, di Bali akan mengembangkan perumahan, tentunya akan seusai dengan budaya kental yang ada di sana. Selain itu, regulasi yang terkait di Bali harus seperti apa, pertimbangkan pula nilai historinya.

Gemala menyampaikan bahwa menjadi urban planner seolah harus paham semua pekerjaan yang terkait, seperti arsitek, teknik sipil, hingga sosiologi. Bahkan, Gemala mengibaratkan kalau seorang urban planner adalah leader dalam merencanakan tata kota/wilayah.

“Jadi, di bawah kami ada sipil, misal maunya jaringan jalan tuh yang kayak jalan kolektor ada di sini, primer ada di sini-sini. Nanti mereka (sipil) yang bisa nentuin lebarnya segini, tapi kami juga harus tahu kan lebarnya berapa. Terus kayak bangunannya lebih ke arsitek, landscape-nya ada arsitektur. Makanya jadi pekerja urban planner itu enggak mungkin sendirian, pasti dia tim.”

0 Comments

Rekomendasi

Terkait

Lowongan Terbaru