real
        time web analytics

Dari Kami

Pusiiiiing...Ini yang Bikin Guru Stres Selama Bekerja


TOPCAREER.ID – Seorang guru yang mayoritas kegiatannya diisi dengan mengajar, bisa stres juga loh selama bekerja. “Yang bikin stress kalau punya murid bebal, lalu enggak pernah kerjain PR (pekerjaan rumah),” kata Nurul Chobibah, seorang guru Sekolah Dasar (SD).

Ada beberapa faktor kenapa guru bisa stres dalam pekerjaannya. TopCareer.id bertanya kepada beberapa guru soal penyebab mereka stres selama menjalankan tugas. Jawaban mereka pun macam-macam. 

Orangtua yang tidak kooperatif

Untuk mensukseskan peran guru dalam mendidik anak murid, perlu kerja sama yang apik dengan orangtua. Lagi-lagi mencerdaskan anak bangsa, tak hanya dari satu pihak saja, yakni guru sebagai pengajar di sekolah. 

Orangtua yang tidak kooperatif nyatanya membuat stres guru dalam bekerja. Seperti yang diutarakan oleh guru SMK Swasta Yapimda, Afni Zulfa. Menurutnya, peran orangtua di sini penting sekali dalam kesuksesan kerja guru mendidik anak.

“Ketika anak salah karena jarang masuk dan malas ngerjain tugas tanpa alasan logis, tapi orangtuanya enggak mau kerja sama untuk sekadar kasih advice ke anak,” kata Afni kepada TopCareer.id ketika ditanya apa yang membuat seorang guru stres dengan pekerjaannya. 

Karena anak sekolah belum sadar karakter mereka, maka di situ ada peran guru yang membukakan jalur-jalur mana yang baiknya diambil untuk masa depan mereka. Nah, agar polesan si anak menjadi kian mulus dan tetap positif, tentu perlu bantuan orangtua di rumah serta lingkungannya. 

Hal yang sama juga diutarakan Nurul Chobibah, guru SDN 04 Ketindan, Malang. Duka menjadi seorang guru menurutnya adalah ketika orangtua tidak memberikan dukungan penuh kepada anak atas apa yang sudah diajarkan oleh guru di sekolah. 

“Di sekolah, kami (guru) beri ilmu (ke anak) selama 5 jam. Eeh.. giliran di rumah sama orangtua, banyak yang dicuekin anaknya, ditinggal kerja,” ucap Nurul yang sudah 13 tahun berprofesi sebagai guru.

Menurut Nurul, membuat anak terdidik secara positif tidak bisa dari satu sisi. Apalagi di zaman serba teknologi, serba smartphone, perlu bimbingan orangtua di rumah agar anak selalu berada di jalur yang tepat. Anak didik yang tidak terdukung sepenuhnya oleh peran orangtua, bikin stres para gurunya.  

Rencana Perangkat Pembelajaran Bikin Otak Runyam

Kalau murid punya PR atau pekerjaan rumah yang harus dikerjakan, kalau guru harus membuat Rencana Perangkat Pembelajaran (RPP) yang membantu tugas mereka selama mengajar di kelas. Jika guru tidak membuat perangkat pembelajaran, maka ia tak punya acuan selama mengajar.

Murti Sulistia Ningsih, seorang guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) YAPIA Pondok Aren, mengaku bahwa dirinya sering merasa stres kalau harus mengerjakan RPP. 

“Yang bikin stres itu bikin perangkat pembelajaran, prota (program tahunan), promes (program semester), silabus, KKM (kriteria ketuntasan minimal), dan lain-lain. Ibarat kalau mau jadi petani harus tahu cara macul, kapan nanem, kapan panen. Gitu,” ucap perempuan yang akrab disapa Tia ini. 

Setiap guru atau pendidik biasanya akan diminta untuk membuat RPP secara lengkap dan sistematis agar pengajaran bisa berlangsung sesuai standar kompetensi. RPP disusun berdasarkan mata pelajarannya atau subtema. 

Pembuatan RPP oleh pendidik biasanya dilakukan setiap awal semester atau awal tahun pelajaran. Jadi, ketika murid-murid masuk sekolah, guru sudah siap mengejar dengan RPP matang di tangan. 

“Sebelum kami (guru) masuk. Jadi, saat anak-anak liburan sekolah, kami mah para guru enggak ada liburnya. Jadi, (RPP) pelajaran apa saja untuk satu tahun tertuang semua di situ,” ujar Tia. 

Menurut Tia sendiri, hal-hal yang bersifat adminstratif itu yang malah sering membuatnya stres menjalankan profesi sebagai guru.

 

0 Comments

Lowongan Terbaru