real
		time web analytics
Siapa Takut Gelar Pameran di Spot Tak Biasa

TOP CAREER – Sayang rasanya kalau hasil karya seni rupa tak diberi waktu serta tempat untuk diapresiasi. Namun, penentuan venue kerap menjadi salah satu kendala yang menghampiri. Enggak mesti di sebuah gedung galeri, banyak tempat kreatif yang bisa dijadikan lahan memamerkan seni.

I Wayan Kun Adnyana sebagai pelaku seni yang sudah sering menggelar pameran tunggal ini mengatakan bahwa penentuan venue itu merupakan pemilihan konseptual, tidak melulu gedung galeri menjadi patokan dalam menampilkan karya secara total.

Kun, sapaan akrabnya bahkan menyarankan banyak ruang publik yang bisa disiasati sebagai tempat pameran hasil karya seni rupa. Apalagi jika bentuk pamerannya tidak dalam pameran tunggal yang memang bisa memanfaatkan ruang dengan karya-karya yang tidak begitu banyak.

“Atau membentuk, mengkreasi ruang sendiri. Jadi pameran di gang, pameran di kontrakan dan lain sebagainya. Itu sangat memungkinkan. Bagi pelukis baru bisa jadi sebuah strategi untuk mengalihkan perhatian. Atau menggunakan jalan, menggunakan ruang terbuka,” kata Kun kepada TopCareer.id.

Kembali lagi, pemilihan venue ini, kata Kun, bisa didasari oleh konsep-konsep tertentu, dan disesuaikan dengan tema yang telah diambil.

Biasanya, selain menggelar pameran yang masuk gedung galeri, teman-teman pegiat seni rupa juga kerap melakukan sharing ide hingga menciptakan pameran secara mandiri. Dan itu biasanya hanya memanfaatkan ruang melalui komunitas-komunitas yang sudah ada.

“Jadi, kalau melakukan pameran secara mandiri kan bisa mengakses ruang publik yang standar lah. Yang standar seleksi kuratornya lebih bisa diterima,” ujar laki-laki kelahiran Bangli ini.

Menurut Kun, jika ingin menggelar pameran di museum atau galeri itu perlu melewati seleksi yang ketat dan cukup memakan waktu lama. Tak jarang malah sampai tahunan.

Ia mencontohkan, Galeri Nasional yang punya beberapa venue pameran, yakni gedung A, gedung B, gedung C. Tiap venue punya tahapan seleksi sendiri jika ingin menggelar pameran temporer. “Kalau untuk gedung A (Galeri Nasional) perlu waktu 2 tahun, jadi perlu dievaluasi oleh tim kuratornya.”

Untuk diketahui, prosedur penggunaan gedung Galeri Nasional dalam pameran temporer, terlebih dahulu mengirimkan surat permohonan pemakai gedung yang ditujukan kepada Kepala Galeri Nasional Indonesia. Dan permohonan paling tidak diajukan 6 bulan sebelum jadwal pameran.

Pada aturan yang tertera, setiap pameran yang akan digelar wajib menggunakan kurator dan merupakan hasil dari proses kuratorial. Begitu pula konsep penyajian pameran, profil seniman hingga karya yang hendak dipamerkan bakal diseleksi oleh tim kurator dari Galeri Nasional.