real
		time web analytics
Wah! Begini Ternyata Ujian Sertifikasi Drone

TOP CAREER – Demi meraih pengakuan atas kemampuan dalam mengoperasikan drone, uji sertifikasi dinilai menjadi salah satu opsi yang paling baik. Nah, untuk memperoleh sertifikasi itu, ada beberapa ujian yang harus dilalui.

Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI) menjadi salah satu wadah bagi siapapun yang ingin mendapatkan pengakuan atas kemampuannya mengoperasikan drone di Indonesia. Paling tidak, peserta perlu melalui tahap tes tertulis, dan tes lapangan yang didahuli kelas latihan untuk mendapat sertifikasi.

Berdasarkan pengalaman founder Skygrapher Indonesia yang juga profesional aerial photography, Anton Chandra ketika tes di APDI, ujian dilakukan selama tiga hari. Hari pertama pra test, kemudian hari selanjutnya mengerjakan tes tertulis, dan hari terakhir tes lapangan.

Menurut Anton, pada tes tertulis, para peserta akan disuguhkan soal peraturan serta regulasi mengenai pengoperasian drone yang aman. Selain itu, tentunya terkait kode etik serta pengetahuan teknis terkait.

“Teorinya ada paling mengenai regulasi. Ada pertanyaannya, kasus nih 10 meter di sana ada kerumunan orang, ada gedung, terus disuruh analisis sendiri sebagai pilot harus bagaimana. Terus peraturan-peraturan juga sebagai pilot drone,” kata Anton kepada TopCareer.id.

Dalam tes tertulis itu diharapkan peserta mampu menjawab seputar aturan-aturan yang sebelumnya disampaikan. Kelak, setelah lulus tidak menggunakan drone secara sembarangan, dan sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.

Setelah melalui tes tertulis, maka peserta dihadapkan pada tes lapangan. Ujian ini dilakukan di lapangan terbuka (safe area) dengan uji terbang 16 x 8 meter. Pertama, peserta diminta take off dalam posisi menyamping (sideaway). Terbang dengan ketinggian 1,5-2 meter.

“Kemudian tesnya, nerbangin drone dengan figur 8 sebanyak dua kali. Jadi, peserta harus ikutin angka 8 gitu treknya. Dan itu manual, enggak boleh pakai GPS (Global Positioning System). Kan kalau sekarang-sekarang kan GPS udah bisa dikendaliin langsung, tapi di tes ini disuruh dasarnya terbangin drone manual.”

Tes lapangan bakal dinilai oleh instruktur, apakah peserta mampu menunjukkan kontrol dan handling yang baik atau tidak. Sementara, kalau memang tidak lolos akan diberi kesempatan satu kali mengulang. Anton mengaku bahwa tes sebagai pilot drone pemula terbilang sulit, ia bahkan harus melakukan pengulangan.

“Waktu itu dari 40 orang pesert tes, yang lulus cuma 9 orang. Susah banget. Dulu saya ikut sertifikasi baru belajar drone 4 bulan, ikut tes gagal kemudian tes ulang sampai benar-benar siap. Setahun kemudian ulang lagi, udah jago,” ujar Anton.

Terkait harga untuk memperoleh setifikasi ini, APDI membagi dalam dua kelas. Kelas A yang merupakan kelas drone dengan berat di bawah 3 kilogram, yakni dikenai biaya Rp350.000. Dan kelas B yang merupakan kelas drone dengan berat lebih dari 3 kilogram atau dengan nilai drone di atas USD2.500, maka dikenai biaya Rp500.000.

Namun, sebelumnya untuk melakukan uji sertifikasi ini, APDI memberi persyaratan bahwa peserta harus terdaftar menjadi anggota penuh APDI terlebih dahulu. Kemudian memenuhi syarat keanggotaan, dan membayar iuran keanggotaan.