TopCareer.id – Makin banyaknya konsumen yang mengedepankan kualitas saat belanja online, dinilai bakal punya pengaruh pada e-commerce di tahun 2026.
Menurut Carlos Barrera, CEO Lazada Indonesia, industri e-commerce kini tak sekadar menjadi penyedia akses pasar, tapi juga jadi model bisnis yang mengutamakan kualitas.
“Dengan semakin matangnya perilaku belanja konsumen, fokus e-commerce kini adalah membangun kepercayaan diri pelanggan,” kata Barrera, mengutip siaran pers, Rabu (21/1/2026).
Menurutnya, saat rasa percaya terhadap keaslian produk dan kualitas jangka panjang sudah terbentuk, konsumen secara alami akan berbelanja dalam jumlah lebih besar, bahkan membeli produk yang lebih bernilai.
“Dengan demikian, e-commerce bertransformasi dari sekadar tempat transaksi, menjadi infrastruktur pertumbuhan bagi konsumen dan brand,” imbuhnya.
Carlos pun mengungkapkan lima tren besar yang akan membentuk lanskap e-commerce Indonesia di tahun 2026:
- “Trust” sebagai pendorong utama belanja
Konsumen Indonesia kini belanja dengan tujuan yang lebih jelas: meningkatkan kualitas hidup.
Bagi mereka, nilai sebuah produk tak lagi hanya soal harga murah, melainkan perpaduan antara kualitas, keaslian, dan pengalaman berbelanja. Bahkan, konsumen yang sensitif terhadap harga pun kini lebih selektif.
Mereka memilih produk yang lebih tahan lama demi menghindari biaya tambahan di masa depan. Pergeseran ini sangat terlihat di kalangan keluarga muda dan konsumen aspirasional.
Mereka kini mengandalkan e-commerce untuk membeli barang bernilai tinggi yang menunjang gaya hidup, seperti peralatan rumah tangga, elektronik, dan produk kesehatan.
Karena keputusan belanja kini lebih terencana, faktor kepercayaan (trust) berubah dari sekadar pelengkap menjadi penggerak pertumbuhan.
Baca Juga: Konsumen Indonesia Kian Cerdas saat Belanja Online
Cube Asia 2025 mencatat, kelas menengah dan konsumen muda sangat memperhatikan aspek keamanan, dengan 80 persen konsumen Indonesia yang lebih memilih berbelanja di online mall karena adanya jaminan kualitas.
Barrera pun menegaskan, platform e-commerce harus melangkah lebih jauh dari sekadar menyediakan official store.
“Kita perlu membangun kepercayaan secara menyeluruh melalui sistem, tata kelola, dan perlindungan yang lebih kuat bagi seluruh ekosistem,” ujarnya.
Ia mengatakan, dengan meminimalkan risiko, platform dapat mendorong konsumen untuk lebih percaya diri dalam melakukan transaksi bernilai besar.
- Belanja untuk melengkapi fase kehidupan
Berbelanja saat ini semakin erat kaitannya dengan fase kehidupan. Konsumen memanfaatkan e-commerce untuk mendukung berbagai momen hidupnya seperti membangun keluarga, merenovasi hunian, hingga memulai gaya hidup sehat.
Tren ini memicu lonjakan permintaan pada kategori produk life-upgrade, seperti elektronik, peralatan rumah tangga, furnitur, otomotif, dan kesehatan.
Brand lokal dan global pun punya peran kunci dengan menyediakan pilihan produk di berbagai rentang harga.
Hal ini memberikan keleluasaan bagi konsumen untuk “naik kelas” (trade up) dan mendapatkan produk berkualitas tinggi secara terencana, tanpa harus melampaui anggaran yang mereka miliki.
- Premiumisasi berbasis nilai produk
Salah satu tren paling menonjol tahun ini adalah minat konsumen terhadap produk yang lebih premium tanpa meninggalkan aspek value-for-money.
Konsumen yang kini lebih selektif memilih untuk melakukan “investasi”, khususnya di produk yang kualitasnya berdampak langsung pada pengalaman pengguna.
Baca Juga: Waspada Social Engineering Saat Belanja Online, Mau Untung Malah Buntung
Tren ini mendorong permintaan untuk brand maupun produk lebih premium di kategori seperti kecantikan, elektronik, dan kebutuhan rumah tangga.
Konsep “premium” dan “nilai” sekarang tidak lagi saling bertentangan.
Kehadiran berbagai fitur penghematan, mulai dari voucher, opsi cicilan, hingga program loyalitas memungkinkan konsumen untuk mendapatkan produk kelas atas dengan harga yang tetap rasional.
- Membership sebagai wujud apresiasi loyalitas
Konsep diskon kini tak cuma mengandalkan promosi sesaat. E-commerce beralih ke program keanggotaan, atau membership, yang menawarkan manfaat berjenjang berdasarkan besaran dan frekuensi belanja.
Dengan sistem ini, konsumen premium secara alami naik ke level keanggotaan yang lebih tinggi.
Sementara, konsumen yang sensitif terhadap harga terdorong untuk memusatkan keranjang belanja mereka di satu platform demi mendapatkan keuntungan maksimal.
- Kreator Konten sebagai ujung tombak pertumbuhan
Di tengah tren belanja yang semakin dipengaruhi oleh ulasan autentik, kreator konten, terutama afiliator, kini berperan vital dalam menjembatani brand dengan konsumen.
Mereka berfungsi sebagai jaringan luas untuk edukasi dan penjualan sebab mereka mampu menerjemahkan fitur teknis produk menjadi konten relevan dan mudah dipahami.
Ragam tipe afiliator kini hadir untuk membangun kedekatan dengan berbagai segmen, mulai dari pembeli aspirasional hingga konsumen yang mengutamakan nilai produk.













