Find Us on Facebook

Subscribe to Our Channel

https://www.youtube.com/@topcareertv1083

EdukasiLifestyle

War Takjil, Pakar Sebut Bukan Cuma Soal ‘Rebutan’ Makanan

Ilustrasi berburu takjil. (Gambar dibuat dengan AI Gemini)

TopCareer.idWar takjil jadi salah satu aktivitas yang meramaikan bulan Ramadan di Indonesia. Tak cuma umat muslim, masyarakat nonmuslim pun ikut berburu hidangan khas yang dijajakan jelang berbuka puasa.

Bukan cuma pedagang musiman, banyak pelaku usaha baru yang memanfaatkan momentum Ramadan untuk mencoba peruntungan.

Dosen IPB University Tjahja Muhandri, yang sehari-hari aktif membina pelaku UMKM, mengatakan bahwa war takjil adalah fenomena sosial yang unik dari berbagai aspek.

Sebagai contoh, akan ada banyak makanan atau minuman yang pada hari biasa tidak ada, tapi muncul saat Ramadan, dengan penyajian yang menarik dan harga murah.

“Maka rebutan akan makanan atau minuman takjil itu bisa jadi adalah rebutan ‘kenangan,'” kata Tjahja, dikutip dari laman resmi IPB, Senin (23/2/2026).

Baca Juga: Pakar Jelaskan Beda Puasa Ramadan dan Intermittent Fasting

Tjahja mengatakan, awalnya takjil ditujukan bagi mereka yang mau berbuka puasa. Namun, seiring meningkatnya minat masyarakat, baik yang berpuasa atau tidak, fenomena ini menunjukkan adanya kebutuhan pasar yang kuat.

“Ketika konsumen sampai berebut beli, itu menandakan kebutuhan muncul dan pasar merespons dengan cepat,” kata Tjahja.

Selain itu, fenomena war takjil juga dinilai berdampak positif bagi UMKM. Produk yang dijajakan seringkali laku keras dan hampir tidak tersisa. Namun, pelaku usaha diingatkan agar selalu kreatif dan mau mengikuti tren.

“Asalkan UMKM mau ikut tren produk dan tidak monoton dengan produk yang kurang disukai konsumen,” Tjahja mengatakan.

Dari sisi konsumen, war takjil juga memudahkan masyarakat dalam mencari variasi menu berbuka. Beragam pilihan hidangan membuat keluarga memiliki lebih banyak opsi sajian saat berbuka puasa.

Baca Juga: Buka Puasa di Transjakarta, Ini Aturannya

Namun, Tjahja menegaskan agar masyarakat tetap menjaga kebersihan dan keamanan pangan, apalagi tradisi ini membuka peluang bagi semua orang untuk berjualan, sehingga kualitas dan kebersihan produk harus diawasi.

“Para UMKM perlu menjaga kebersihan produk, wadah, penyajian, bahkan penjualnya. Gunakan perlengkapan standar, minimal masker dan sarung tangan bersih saat melayani konsumen,” kata Tjahja.

Ia juga mendorong agar pelaku usaha yang berjualan produk viral, mencantumkan harga jual dengan jelas, sehingga konsumen merasa nyaman dan tidak takut “digetok” harga.

“Semua bisa jualan dan gelar lapak. Karena itu, aspek kebersihan sangat penting untuk mencegah risiko keracunan atau penyakit,” Tjahja menegaskan.

Leave a Reply